Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 83 – Bantu Aku Tolong!


__ADS_3

Dalam sekejap mata itu sudah waktu pertemuan dengan CEO Maharani Grup. Arka sudah menanti di ruang pertemuan sejak 30 menit lalu. Meski


saat ini dia juga membawa tabletnya dan terlihat bekerja seperti biasanya, namun faktanya adalah dia benar-benar tidak bisa fokus sama sekali. Pikirannya dipenuhi oleh Elina.


“Bos, Pak Neo sudah hadir.”


Arka berdiri dan menyambut Neo yang sudah memasuki ruangan dengan senyum yang lebih tulus membuat langkah Neo terhenti dan dia merinding. Ini adalah pertama kalinya Neo melihat Arka tersenyum begitu lebar. Arka yang biasa dia lihat adalah sosok pendiam yang memancarkan aura dingin. Jadi kenapa


tiba-tiba manusia besi yang satu ini tersenyum sangat lebar?


“Selamat datang, Pak Neo!” Arka mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Neo.


“Ya! Terima kasih.” Demi basa basi, Neo juga menyambut uluran tangan itu.


“Silakan duduk.”


“Baik.”


“Mari kita mulai rapatnya. Pak Neo jadi begini …” Arka menjeda kalimatnya dan mencoba mengolah kata yang tepat untuk berbicara di depan Neo.


“… tolong! Tolong bantu saya!” kata Arka yang langsung membuat orang-orang di ruang pertemuan terkejut dengan aksi Arka. Ada apa? Bukankah mereka akan merapatkan dan membicarakan soal kerja sama? Kenapa mendadak bos mereka meminta tolong? Perusahaan mereka tidak semiskin itu sampai harus memohon belas kasih pihak lain.


“Apa maksud Pak Arka?”


“Tolong pertemukan saya dengan Elina.”


Neo langsung mengubah wajahnya tidak suka dengan permintaan Arka. “Saya takut saya tidak bisa menolong Pak Arka. Permintaan Anda terlalu


sulit untuk saya kabulkan. Apakah kita tidak akan membicarakan kerja sama?”


“Kenapa Anda tidak mau menolong saya? Untuk saat ini mari lupakan soal kerja sama.”


“Kenapa saya harus menolong Anda?” tanya Neo balik.


“Mungkin kita akan menjadi ipar di masa depan. Jadi tolong bantu saya.” Saat ini Arka benar-benar melupakan imej dingin dan tak terkalahkan yang biasa dia tunjukan. Benar-benar membuat para karyawannya bingung dan terkejut.


“Haha! Ipar katamu? Haha! Brengseek! Jadi kamu laki-laki yang membuat adiku hamil!” Neo maju dan menarik kerah Arka. Siap untuk meninju


dan memulai perkelahian membuat para asisten yang hadir sangat terkejut dengan aktivitas kedua orang ini yang terlihat seperti anak kecil.

__ADS_1


“Pak! Apa yang Anda lakukan! Tidak ada kekerasan. Pak lepaskan kerah Pak Arka.” Asisten Neo sangat gugup dan mencoba memisahkan


mereka berdua.


“Jadi Elina benar-benar hamil anakku?”


“Sialan! Apa maksudmu!” Neo benar-benar ingin meninju wajah tampan Arka. “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan kamu bertemu dengan Elina!”


“Kak Neo! Aku mohon bantu aku.” Arka tiba-tiba berlutut dan melupakan formalitas.


“Brengseek! Apa yang kamu katakan? Kakak? Siapa kakakmu? Kita seumuran sialan!”


“Cepat atau lambat kamu akan menjadi kakak iparku. Jadi baik bagiku untuk memanggilmu kakak terlebih dulu.”


Neo membuat mimik wajah jijik dan memandang Arka dengan tak suka. “Sepertinya kerja sama kita tidak akan berlanjut. Aku akan pergi. Kita pulang!”


“Tapi Pak!” Asisten Neo pusing. Kerja sama ini bernilai puluhan triliun. Jika mereka kehilangan proyek besar ini, kedua perusahaan jelas akan merugi.


***


Sementara itu Elina yang tidak tahu kalau kakaknya dan Arka sedang berdebat sengit menikmati waktu tidurnya dengan sangat nyaman. Dia bangun sampai jam 5 sore.


memberinya misi. Jadi Elina sekarang terpaksa harus mandi karena dia akan turun untuk makan malam dan juga berdiskusi dengan keluarganya.


Meskipun dia malas, tapi dia masih akan mempertahankan kebersihan dirinya sebelum bertemu dengan orang lain. Dia tidak mau


meninggalkan kesan menjijikan dan bau saat bergaul dengan orang lain.


Tepat pukul 6 Elina turun dan orang tuanya juga sudah di ruang keluarga. Ibu yang sedang menonton TV dan ayah yang sedang membaca koran. Ya, meski teknologi jaman sekarang sudah semakin maju, nyatanya ayah Elina masih mempertahankan sikap tradisional dengan membaca koran di sore hari. Berkat pensiun dini dan menyerahkan perusahaan pada Neo, ayah menjadi memiliki waktu luang yang sangat banyak. Kesibukan ayah dan ibu hanyalah bersenang-senang di lingkaran sosial.


Dalam kata lain di Keluarga Maharani, hanya Neo seorang yang bekerja keras. Elina tidak merasa kasihan sama sekali. Dia juga ikut menikmati


kekayaan yang dibuat kakaknya dengan darah dan keringatnya.


“Kenapa kamu turun lewat tangga?” Ibu Leila menatap putrinya yang masih berdiri di tengah tangga.


“Aku terlalu malas untuk berjalan ke lift.” Memang Lift berada di seberang tangga dan Elina yang pemalas terlalu enggan untuk berjalan lebih jauh.


“Hati-hati.”

__ADS_1


“Aku tahu.” Elina menuruni tangga dengan sangat hati-hati. Memang beban di perutnya menambah tekanan pada kakinya.


Setelah kaki Elina menginjak marmer yang datar, dia langsung berjalan ke arah sofa dan duduk memepet pada ibunya. Bertingkah sangat manja


dan kekanak-kanakan.


“Ibu peluk aku,” kata Elina dengan centil.


“Kamu sudah akan menjadi ibu. Kenapa begitu manja.”


“Hehe. Di mana kakakku? Kenapa jam segini belum pulang? Apa mungkin lembur?” Elina bertanya sambil mengambil buah di atas meja. Kebiasan ibu Elina adalah memakan buah sambil menonton TV.


“Tidak­-“


“Brengssek!” Neo masuk sambil mengendurkan dasinya. Dia tidak menyadari kalau keluarganya saat ini sedang melihatnya dengan penuh tanda


tanya. Begitupun Elina yang terkejut mendengar kakaknya mengutuk. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup Elina mendengar kakaknya marah.


“Ada apa?” tanya ayah.


“Ah! Sejak kapan kalian di sini?”


“Sejak sebelum kamu pulang. Ada apa? Apa terjadi sesuatu di perusahaan. Kenapa kamu terlihat sangat marah?” tanya Ayah lagi tapi matanya masih fokus membaca koran.


“Ck!” Neo mendudukan dirinya dengan keras pada sofa di samping Elina yang membuat sofa itu memantul.


“Ini bukan karena Arka sialan itu yang membuatku marah!”


“Ada apa dengan Arka?” Ibu menyerahkan buah apel yang sudah dikupas pada Neo.


“Dia ingin bertemu Elina. Sepertinya dia tahu kalau Elina hamil dan … ah! Apakah Arka benar-benar ayah anakmu?” Neo menoleh dan menatap Elina memeriksa jawaban apa yang akan adiknya berikan.


“Aku menolak menjawab! Kamu tidak boleh berbicara terlalu keras pada ibu hamil. Itu akan berpengaruh pada janin!”


“Kata siapa?”


“Kataku.”


“Elin, ayo katakan yang sebenarnya. Apa itu Arka? Ayah! Ibu! Lihat anak perempuan satu-satumu itu. Dia masih tidak mau jujur. Katakan yang sejujurnya biar kita bisa melakukan balas dendam dengan benar.”

__ADS_1


__ADS_2