Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 75 – Beri Tahu Keluarga Tentang Kehamilan


__ADS_3

Elina baru saja keluar dari rumah sakit elit ibu dan anak sambil membawa lembar foto hasil USG. Ini adalah kehamilan pertamanya, jadi dia mencoba mencari rumah sakit elit lain yang tidak terikat dengan keluarga bangsawan di ibu kota. Elina memakai masker untuk berjaga-jaga jika dia bertemu dengan orang yang mungkin mengenalnya.


Selama pemeriksaan kehamilan, Elina selalu diantar oleh Paman Sam. Di villa yang mengetahui kehamilannya hanyalah Paman Sam, jadi Paman memberikan perhatian ekstra untuk Elina.


“Bagaimana hasilnya, Nona?”


Saat Elina masuk ke dalam mobil, Paman Sam bertanya dengan penasaran. Seperti itu memang, Paman Sam selalu bertanya tentang kondisinya sejak pemeriksaan bulan kedua.


“Itu baik-baik saja. Bayinya sehat.”


“Syukurlah.”


“Ya.”


“Apa Nona tidak berniat untuk memberi tahu keluarga? Ini sudah 4 bulan.”


Elina terdiam. Memang waktu sudah berlalu selama 3 bulan sejak kepindahannya. Sekarang usia kandungannya sudah masuk 4 bulan dan


perutnya sudah sedikit membuncit. Dia tidak mungkin terus bersembunyi dari keluarga besarnya.


Selama 3 bulan ini Elina benar-benar bersembunyi dari keluarganya dan dunia luar. Dia sibuk mempelajari soal kehamilan dan juga sibuk belajar memasak dan mempelajari pekerjaan rumah tangga. Awalnya sulit. Nona muda


yang terbiasa dilayani itu harus melakukan semuanya sendiri. Dari mulai memasak, hingga membersihkan baju dan piring.


Beruntung ada alat-alat rumah tangga modern yang membantu meringankan tugasnya. Ya, Elina sama sekali tidak menyewa petugas kebersihan. Semua pekerjaan rumah ia lakukan sendiri. Elina beruntung karena setelah satu bulan, dia tidak lagi mengalami rasa mual. Malahan nafsu makannya bertambah dan sepertinya berat badannya naik.


Elina sudah tidak lagi memperhatikan penampilannya. Dia juga berhenti melakukan perawatan yang menggunakan bahan kimia dan melakukan pemesanan produk khusus untuk ibu hamil. Elina benar-benar berubah total.


“Nona … bagaimana kalau memberitahu keluarga sekarang? Sepertinya itu waktu yang tepat,” kata Paman Sam yang berhasil membuyarkan lamuman Elina.


“Ya … Paman benar.”


Elina sudah tidak berniat menyembunyikan kehamilannya kepada keluarga. Hari ini dia harus memberi tahu orang tuanya dan kakaknya.


“Paman. Aku akan kembali ke villa. Suruh pelayan untuk membereskan barang-barangku di apartemen.”


Selama 3 bulan ini Elina juga tidak berbelanja. Dia benar-benar berhasil hidup hemat. Suatu kebanggaan dari wanita bangsawan yang selalu boros bisa berubah menjadi ibu hamil yang sangat hemat. Dia bahkan menyimpan uangnya


untuk membeli kebutuhan bayinya kelak.


Selama tiga bulan ini juga sistem tidak memberikan misi lagi dan Elina sebenarnya sudah tidak peduli. Tapi dia juga penasaran dengan sistem. Elina menarik penghalang di mobil karena dia ingin menghubungi asistennya.

__ADS_1


“A1, Apa aku tidak akan menerima misi lagi dari sistem?”


“A1 tidak tahu jawabannya.”


“Kalau begitu, karena aku hamil, apa aku sepenuhnya keluar dari plot? Lagi pula pemeran utama pria juga sudah bertunangan dengan pemeran utama wanita. Jadi tugasku sudah selesai, kan?”


“A1 tidak tahu jawabannya, Nona.”


“Kalau begitu berapa tingkat kebencian Arka padaku?” Elina sangat penasaran.


“Itu 20%.”


Elina membulatkan matanya. Dia sangat terkejut. Apakah karena dia tidak mengganggunya jumlah kebencian Arka menjadi semakin menurun? Tapi itu tidak apa-apa karena Elina sudah tidak lagi peduli. Dia benar-benar masa bodo dengan entah Arka membencinya atau tidak. Itu sudah tidak lagi menjadi masalah.


Paman Sam mengendarai mobil itu menuju villa. Mereka pulang. Dan saat sampai di luar villa, Elina melihat pelayan-pelayan sedang membersihkan bagian luar dan dalam villa.


Paman Sam membukakan pintu untuk Elina. Kaki Elina menyentuh tanah dan dia menghirup udara segar villa dalam-dalam. Ya, sepertinya keputusan


kembali ke villa memang tepat. Setidaknya di sini udaranya jauh lebih bersih dari pada di pusat kota.


Para pekerja menghentikan pekerjaannya dan melihat Elina lekat-lekat. Mereka semua terkejut dengan perut Elina. Ya, Elina memang memakai dress di bawah lutut dengan bahan yang ketat. Jadi perutnya yang sedikit membuncit itu


terlihat jelas dan membuat para pelayan yang melihatnya bertanya-tanya.


sekarang?


Para pelayan tidak ada yang terpikirkan kalau Elina itu hamil. Mereka tidak memikirkan sejauh itu. Mereka hanya berpikir karena Elina yang


telihat lebih padat dan berisi itu mungkin saja mulai kelebihan berat badan karena tidak menjaga bentuk tubuh dan tidak berolahraga.


“Lanjutkan pekerjaan kalian!” Para pelayan buru-buru kembali bekerja saat mendapat peringatan dari kepala pelayan.


“Nona hati-hati saat menaiki tangga. Jangan sampai tersandung.”


“Paman, aku tahu. Jangan terlalu khawatir. Sekarang Paman bisa pergi ke apartemenku dan mengambil barang-barangku.”


“Ya. Nona harus segera beristirahat. Jangan terlalu lelah. Saya akan langsung pergi ke apartemen.”


“Begitu.” Elina masuk ke dalam kamarnya yang selalu bersih itu. Dia merebahkan dirinya di kasur.


“Ah! Sangat nyaman. Kamarku memang tempat yang paling nyaman.”

__ADS_1


Elina benar-benar merasa lega dan merasa sangat nyaman saat masuk ke dalam kamarnya. Elina berniat untuk beristirahat dan tidur siang sambil


menunggu orang tuanya dan kakaknya pulang. Dia harus beristirahat dan menyiapkan mentalnya.


Elina tertidur dengan mudah. Memang pekerjaannya selama ini hanya makan dan tidur. Dia selalu merasa mengantuk meskipun sudah tidur dalam waktu yang lama. Kata dokter itu normal. Jadi Elina tidak khawatir sama sekali.


Malahan dia senang karena bisa selalu bersantai.


Waktu berjalan begitu cepat. Saat Elina bangun itu sudah sore hari. Dia menebak kalau keluarganya pasti sudah pulang semua.


Elina bangkit dan membersihkan diri. Dia kembali memakai baju yang ketat yang memperlihatkan perut buncitnya. Tapi Elina melapisi tubuhnya dengan jaket kebesaran dan mampu menutupi perut Elina untuk sementara. Dia akan membuka jaketnya nanti di depan keluarganya.


Elina turun ke lantai satu. Di ruang keluarga, ibunya sedang menonton Tv. Ayahnya mungkin berada di ruang belajar bersama kakaknya.


“Ibu … ada yang ingin aku bicarakan.”


Ibu melihat Elina dan sebenarnya dia tidak tahu kalau anaknya pulang. “Kamu pulang? Kapan? Kenapa ibu tidak tahu.”


“Tadi siang.” Elina menoleh ke Paman Sam dan berkata, “Paman, tolong panggilkan ayah dan kakakku.”


“Baik, Nona.”


Tak lama kemudian Ayah dan Neo turun.


“Ada masalah apa? Kenapa kamu menyuruh kami turun? Kami sedang mendiskusikan masalah pekerjaan El. Awas kalau tidak penting,” kata Neo sambil berjalan menuruni tangga. Dia langsung duduk dan mengambil buah apel dan memakannya.


“Neo, kelakuanmu itu lho!” Ibu sangat tidak berdaya dengan kelakuan Neo.


Sementara itu ayah duduk di dekat ibu. “Ada apa?”


“Ada yang ingin aku beritahukan kepada kalian.” Elina berdiri dan melepas jaket yang ia kenakan dan sepenuhnya memperlihatkan perut


buncitnya.


“Apa kamu memanggil kami hanya untuk memamerkan kalau kamu gendutan dan bahkan perutmu menjadi buncit?” kata Neo yang membuat Elina tak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya ini.


“Selama 3 bulan apa kamu tidak merawat tubuhmu? Bagaimana jika kamu dibanding-bandingkan dengan anak perempuan di lingkaran sosial? Apa kamu tidak malu EL? Perutmu buncit dan sepertinya berat badanmu naik banyak. Besok ikut ibu untuk kelas diet.”


“Haah!” Elina menghela napas lelah. Belum apa-apa dia sudah lelah. Apakah keluarganya benar-benar begitu polos dan tidak bisa menebak kalau dirinya hamil?


“Ayah, Ibu dan Kak Neo … aku … hamil.”

__ADS_1


“Oh. Hamil, apa?!” kata Ibu dan Neo bersamaan. Mereka sangat terkejut.


__ADS_2