
Keesokan harinya Elina duduk di sofa kamar mengawasi para pelayan mengepak barang-barangnya. Dia sudah akan pindah ke apartemen dan siap untuk tinggal sendiri. Dengan kerja kakaknya yang begitu cepat dan efisien, dia
tidak perlu menunggu lama untuk bisa pindah dan hari ini dia bisa tinggal di tempat baru itu.
Saat melihat baju-bajunya yang satu persatu dimasukan ke dalam koper, Elina jadi mengingat kalau dirinya selama ini sudah lama tidak
berbelanja. Elina tidak memiliki waktu dan dia juga berpikir untuk mulai menabung. Untuk sementara dia tidak akan berbelanja demi untuk menghemat uang. Ya, dia berjaga-jaga jika dia benar-benar akan menjadi orang miskin karena
perusahaan yang bangkrut.
Dia tidak mungkin membiarkan anaknya yang akan lahir nanti hidup menderita. Jadi Elina menggertakan giginya dan harus bisa menahan diri dari berfoya-foya. Bahkan kalau bisa dia harus segera membuat dan mencoba membuka usaha sendiri. Dia tidak mau terus bergantung pada keluarganya. Elina kini sudah semakin berpikiran dewasa. Dia akan menjadi ibu dalam beberapa bulan, dia harus mulai membiasakan diri ke dalam dunia orang dewasa dan jangan terus menerus
bersikap manja meski itu akan sulit. Tapi Elina yakin dia pasti bisa. Ini semua demi anaknya.
“Nona, sudah siap.”
Elina terbangun dari lamunannya. Dia berdiri dan berkata, “Kalau begitu bantu bawakan ke bawah.”
“Baik.”
Elina memimpin jalan. Dia berjalan hanya membawa tubuhnya. Semua barang-barangnya dibawa oleh para pelayannya. Mungkin ini adalah terakhir kalinya dia menikmati pelayanan seperti ini.
Kali ini yang mengantar sebagai sopir adalah Paman Sam. Dia sengaja ingin mengantar nonanya sendiri dan ingin melihat tempat tinggal baru nonanya.
Tidak seperti daerah villa yang berada di pinggiran kota, apartemen yang akan ditinggali Elina itu berada di kawasan elit di tengah kota.
Itu sama dengan perjalanan ke perusahaan dan membutuhkan waktu sekitar 1 jam.
Waktu tidak terasa dan mobil yang dikendarai Elina memasuki kawasan apartemen mewah. Itu masih dengan para pelayan yang ikut membantu
membawa barang-barang Elina.
Elina memasuki lift dan menuju lantai 20. Apartemennya berada di lantai itu. Tadi malam kakaknya sudah memberikan kuncinya dan apartemen juga sudah dibersihkan pagi ini oleh petugas kebersihan.
Elina masuk ke dalam apartemen yang dekorasinya masih belum diganti. Elina tidak terlalu menuntut tentang interior apartemennya. Yang dia butuhkan adalah tempat sementara untuk bersembunyi jadi dia bisa tinggal di mana saja. Nona muda yang biasanya mengeluh ini sekarang sudah bisa mulai menerima sesuatu tanpa keluhan.
__ADS_1
Para pelayan dengan cepat memberesi barang-barang Elina.
“Nona, jaga diri baik-baik. Jika membutuhkan sesuatu, Nona harus menghubungi saya.”
“Aku pasti akan baik-baik saja, Paman. Jangan khawatir.”
“Kami permisi Nona.” Saat semua barang-barang Elina sudah ditata, para pelayan itu dan Paman Sam siap untuk meninggalkan Elina.
“Ya, hati-hati.”
Elina berdiri di belakang pintu yang tertutup. Suasana langsung berubah sunyi saat para pelayan itu pergi. Tiba-tiba Elina merasa kesepian. Meskipun selama ini dia sering sendiri, tapi itu di villa dan dia tidak benar-benar sendirian. Tapi kali ini berbeda, dia benar-benar hidup sendiri.
Elina berbalik dan berniat untuk menjelajah apartemennya. Dimulai dari dapur. Dia harus mulai berlatih memasak dan tidak bisa terus mengandalkan memesan makanan cepat saji karena itu tidak baik bagi kesehatan bayinya.
Lemari Es kosong. Elina berniat untuk pergi berbelanja. Hari pertamanya hidup sendiri dan mandiri dia akan memulai dengan mengisi lemari
esnya dengan berbagai macam bahan makanan.
Elina masuk ke kamar dan mengambil dompetnya. Itu hanya berisi kartu debit dan tidak ada uang tunai. Dia lalu keluar dan berniat untuk
Elina memasuki lift. Saat dia masuk ke dalam lift dan pintu tertutup. Pintu lain lift terbuka dan seseorang keluar dari lift itu. Orang itu adalah Bulan. Ya, Bulan memang baru saja pindah ke salah satu apartemen milik Arka. Dia langsung pindah setelah diberi kunci oleh asisten Arka. Bulan cukup senang dengan pencapaian ini. Setidaknya dia tidak perlu tinggal di tempat
bobrok yang Bulan dalam novel sewa sebelumnya. Pada hari kedua dia bertransmigrasi, dia sudah mendapat fasilitas yang bagus. Dia yakin jalan kedepannya pasti akan mulus dan cepat atau lambat dia akan menjadi Nyonya Giandra. Bulan yakin itu.
Elina yang tidak tahu kalau ternyata Arka juga memiliki apartemen di gedung yang sama dan diberikan kepada Bulan itu memasuki supermarket. Ini adalah pertama kalinya dia akan berbelanja kebutuhan sehari-hari sendiri. Biasanya itu akan dilakukan oleh Paman Sam untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di villa.
Yang perlu Elina beli hanyalah bahan makanan dan beberapa camilan yang mungkin dia suka. Dia tidak tahu harus berbelanja apa saja jadi
dia hanya mengambil bermacam-macam sayuran dan kebutuhan pangan pokok seperti beras dan minyak. Tidak terasa belanjaan Elina sangat banyak. Saat dia sampai di kasir, itu bahkan menghabiskan uang 20 juta untuk berbelanja bahan makanan.
Elina yang amatir soal berbelanja kebutuhan sehari-hari jelas tidak tahu apakah pengeluaran ini boros atau tidak. Dia sudah sebisa mungkin untuk menghemat uang. Apakah 20 juta itu banyak? Elina tidak berpikir demikian. 20 juta masih sangat sedikit bagi nona muda yang biasanya menghabiskan miliaran dalam sebulan itu.
Tapi saat belanjaan itu dikemar, Elina tiba-tiba sakit kepala karena itu sangat banyak! Siapa yang akan membantunya membawa berbagai
macam belanjaannya ini.
__ADS_1
“Apa di sini ada layanan antar belanjaan? Sepertinya aku tidak bisa membawa barang belanjaan ini sendiri. Aku tinggal di apartemen atas. Bisakah kalian membantu?” tanya Elina pada kasir berharap ada layanan antar barang.
“Maaf, Nona. Kami belum menyediakan layanan antar barang.”
Elina kecewa. Tapi dia membawa troli yang berisi banyak barang itu keluar dan dia berdiri di dekat pintu. Haruskah dia bolak-balik membawa
belanjaan ini? Tapi itu akan melelahkan dan dia tidak ingin menggunakan tenaganya secara berlebihan karena takut dengan kandugannya yang masih muda ini.
Meminta bantuan Paman Sam itu akan sulit dan membutuhkan waktu lama. Jadi dia memutuskan untuk memanggil Clara dan mengundangnya untuk merayakan kepindahannya dan sekaligus untuk membantu dirinya membawa barang-barang.
Dia membuat panggilan dan menelpon Clara. Dengan cepat panggilannya diangkat.
“Halo, Clara bisa datang ke Apartemen xxx? Aku pindah dan tinggal sendiri sekarang. Datang dan bantu aku membawa barang-barang belanjaanku,” kata Elina tanpa menutupi.
“Kamu menelponku hanya untuk memberitahuku agar datang dan membantumu membawa barang-barang belanjaan? Lebih baik kamu meminta kakakku untuk membantumu. Kamu tidak ingat kalau perusahaan kakaku dekat dengan daerah apartemenmu?”
“Tapi …” Elina ragu. Bagaimana bisa dia mengganggu orang yang sedang bekerja hanya untuk membawakannya barang-barang belanjaan.
“Telepon saja Kak Bara. Dia pasti akan langsung datang. Aku sibuk. Sudah ya.”
Tut! Panggilan berakhir. Elina tidak percaya sahabat satu-satunya mengabaikannya. Dia pasti hanya berdalih.
Elina terdiam sebentar dan memikirkan apakah harus menelpon Bara. Awalnya dia ragu-ragu, tapi dia tetap menelpon Bara.
Pada deringan ketiga itu langsung dijawab.
“Halo? Elina, ada apa?” Bara menjawab telepon di
tengah-tengah rapat.
“Kakak bisa bantu aku? Datang ke apartemen xxx dan bantu aku membawa barang belanjaan. Aku tidak bisa membawanya sendirian karena terlalu
banyak dan berat.” Elina langsung melaporkan niatnya tanpa berbasa basi.
“Oke. Tunggu aku.”
__ADS_1
Elina tertegun. Dia pikir Bara akan menolaknya, dia tidak menyangka akan semudah ini meminta bantuan Bara.