
Sebelum Elina pergi, dia sekali lagi berganti baju. Itu karena baju yang tadi ia pakai berbau masakan dan Elina jelas tidak akan pernah mau pergi keluar tanpa mengganti bajunya. Elina lagi-lagi memakai dress ketat yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.
Dia membawa kotak makan siang dan masuk ke dalam mobil. Mobil yang disetir Paman Sam itu melaju dengan mulus ke pusat kota.
Dalam waktu 50 menit, mobil tiba di depan Perusahaan Wijaya. Elina turun dan Paman Sam pergi memarkirkan mobilnya.
Elina masuk ke dalam gedung. Saat dia akan bertanya ke meja resepsionis, seseorang memanggilnya.
“Nona Elina. Mari saya antar Anda ke kantor Pak Bara. Saya adalah Frans, asisten Pak Bara.”
“Ya saya tahu. Terakhir kali saya ke sini saya melihat Anda.”
Langkah Frans terhenti saat melihat Elina. Dia terkejut dengan bentuk tubuh Elina. Tapi dia tidak memperlihatkan keterkejutannya. Dia dengan
professional membawa Elina ke kantor Bara.
Berbeda dengan Frans. Penjaga resepsionis jelas terkejut dengan wanita yang langsung dijemput oleh asisten Frans dan wanita itu membawa
kotak makan siang dan yang lebih mengejutkan lagi adalah wanita itu sedang hamil.
Apa bos mereka sudah menikah? Apa wanita ini adalah istri bos? Kenapa tidak ada kabar di perusahaan? Apakah memang pernikahan yang
tersembunyi? Mereka tidak bisa menahan gosip dan mereka mengunggah topik ini ke grup karyawan dan berita tentang kedatangan Elina langsung menyebar dan dibicarakan oleh seluruh lapisan karyawan Perusahaan Wijaya.
Diana dan Lili, dua sekretaris Bara juga langsung menerima gosip. Diana yang memang menyukai Bara itu jelas tidak terima dengan gosip yang
tidak berdasar itu. Tapi setelah Elina dan Frans sampai di kantor mereka, saat dia melihat ke perut Elina, itu benar-benar sedang hamil. Apakah bosnya menikah diam-diam dan wanita ini datang ke kantor sebagai istri yang membawakan suami
makan siang?
Elina hanya tersenyum saat disapa dengan hangat oleh Lili. Dia tidak mempedulikan tatapan tajam yang keluar dari mata Diana dan langsung masuk ke kantor Bara.
“Silakan masuk, Nona.”
“Terima kasih sudah mengantar saya sampai depan pintu.”
“Itu tugas saya. Saya permisi.”
“Ya.”
__ADS_1
Elina mengetuk pintu dan saat mendapat izin dari Bara untuk masuk, dia masuk.
Bara yang sudah lama menanti Elina di sofa itu berdiri dan melihat Elina masuk. Awalnya dia begitu senang. Tapi saat melihat tubuh Elina,
Bara sangat terkejut. Dia bahkan membelalakan matanya dan dengan terang-terangan menatap perut Elina.
Elina hanya tersenyum tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dengan diam dia berjalan ke arah Bara dan meletakan kotak makan siang dan membukanya. Uap langsung keluar dan makananannya masih hangat. Sepertinya wadah isolasi panas ini sangat efektif untuk menahan panas.
“Makan dulu,” kata Elina yang sudah mendudukan diri di sisi Bara. Dia bertindak sangat alami.
Bagaimana bisa makan? Bara sangat membutuhkan penjelasan saat ini juga. Dia ingin tahu kebenarannya!
“Kakak, tidak mau makan?” Elina mendongak dan menatap Bara yang masih berdiri dengan linglung. Elina paham kalau Bara pasti bertanya-tanya setelah melihat perutnya tadi.
“Makan.” Bara menahan rasa ingin tahunya sebentar dan dia mencoba fokus dengan masakan Elina.
“Kakak coba. Aku memasak nasi goreng dengan toping daging kepiting. Apa Kakak bisa makan seafood? Tidak alergi, kan?” Elina baru terpikirkan sekarang kalau mungkin saja Bara memiliki alergi terhadap makanan laut.
“Tidak. Aku akan memakannya.”
Elina menghela napas lega. “Kalau begitu makan dan habiskan.”
Bara membantu membereskan wadahnya dan meminum segelas air untuk membersihkan mulutnya. Lalu dia terdiam lama.
“Apa ada yang ingin Kakak tanyakan?” Elina tidak sabar dengan keheningan Bara. Dia jelas tahu kalau laki-laki ini pasti sangat ingin bertanya.
“Apa itu anak Arka?” tanya Bara langsung tanpa basi-basi.
Elina cukup terkejut dengan keterusterangan Bara.
“Ya.” Elina tidak mau menutupi kebenaran dari Bara.
“Apa kamu akan menikah dengan Arka?”
“Tidak tahu. Mungkin tidak.”
“Apa Arka sudah tahu tentang kehamilanmu? Aku dengar dia memiliki tunangan baru.”
“Dia belum tahu.”
__ADS_1
Bara langsung merasa tenang. Kewarasannya langsung kembali saat mendengar kalau Arka belum tahu tentang kehamilan Elina. Jadi mungkin mereka melakukannya karena tidak sengaja.
“Kalau begitu, bolehkah aku menjadi ayah anakmu? Jangan biarkan Arka tahu dan rahasiakan ini seumur hidup. Bisakah, Elin?”
“Kakak … jangan seperti ini. Kamu layak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku tidak mau menghambat masa depan orang lain. Kakak adalah orang yang penting bagiku. Kakak sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri.”
“Tapi aku bukan kakakmu dan aku tulus menyukaimu. Aku mencintaimu Elina. Kenapa tidak sadar juga? Apa aku kurang menunjukan rasa cintaku?” Bara mengambil tangan Elina dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
“Menikahlah denganku, El. Aku akan menerima anak Arka sebagai anakku sendiri. Ya? Biarkan orang luar tahu kalau anak yang kamu kandung adalah anakku. Aku yang akan bertanggung jawab.”
Bohong jika Elina tidak merasa tersentuh dengan perlakuan Bara. Tapi dia juga bingung dengan masa depannya sendiri. Mereka hidup di dunia
novel dan Elina masih terkurung dalam bayang-bayang alur novel. Dia tidak ingin menyeret orang baik seperti Bara ke dalam masalah yang besar. Setidaknya dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Arka dulu.
“Bisakah aku meminta waktu? Aku ingin memikirkan dulu dan baru memutuskan.”
Bara tersenyum lebar. Dia mengangguk dengan semangat seperti anak kecil. “Ya. Aku akan menunggu keputusanmu. Mmm … bolehkah aku menyentuh perutmu?”
“Yah, sentuhlah.” Elina merasakan sentuhan hangat dari telapak tangan Bara. Sepertinya dia mulai goyah. Haruskah dia menerima Bara dan
menikah dengannya? Tapi saat ini dia belum mencintainya dan dia tidak ingin menghambat masa depan Bara. Siapa tahu di masa depan dia akan bertemu dengan cinta sejatinya. Elina takut ditinggal. Jujur saja, dia takut. Dia selalu
menyadarkan dirinya kalau dia saat ini hidup di dalam novel dan perannya adalah penjahat wanita. Elina takut perannya ini juga akan melukai anaknya.
“Sudah cukup, itu geli Kakak.”
Bara menarik tangannya. “Sudah berapa bulan?”
“Itu 4 bulan.”
“Bolehkah aku menemanimu saat pemeriksaan rutin bulan selanjutnya?”
“Kenapa?”
“Aku hanya ingin melihat. Kamu santai saja memikirkan jawaban dari lamaranku. Jangan terbebani. Anggap saja aku hanya menemanimu
sebagai kakak laki-laki.”
“Tapi bagaimana jika orang-orang salah paham? Terutama orang-orang dari lingkaran elit sosial?”
__ADS_1
“Itu malah lebih bagus. Biarkan mereka salah paham supaya aku bisa menikahimu dengan cepat.”