Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 20 - Pura-Pura Hamil 2


__ADS_3

Suhu di ruangan seperti turun ke titik beku. Itu karena seseorang yang sedang duduk dengan wajah tampan namun terlihat dingin dan menakutkan yang membuat para karyawan yang berada di ruang rapat merasa kedingingan.


“Pak, pemenang vendor untuk proyek jalan tol pemerintah telah diambil alih oleh Perusahaan Grup A pada detik-detik terakhir. Itu tidak ada


dalam perhitungan kita. Maafkan kami karena kami lalai.”


Adam yang duduk di samping Arka memijat pelipisnya merasa pusing. Sudah berapa hari dia dan bosnya begadang demi proyek ini. Tapi proyek yang sudah hampir 99% bisa diambil oleh Perusahaan Giandra malah direbut dan dimenangkan oleh Perusahaan A yang sepertinya baru didirikan.


Parahnya adalah bosnya sepertinya tidak berfluktuasi dan masih tenang. Dia tidak tahu jalan pikiran Arka. Proyek penentu posisi Presdir


telah gagal dilaksanakan. Tapi kenapa dia malah tetap diam dan terlihat tenang dan tidak terganggu sama sekali. Seharusnya bosnya tidak setenang ini, kan?


“Lalu bagaimana soal wahana terbesar se Asia Tenggara?” tanya Arka dengan tenang. Dia tampak tidak terpengaruh sama sekali dengan


berita buruk ini.


“Masih dalam proses dalam tim perencanaan.”


“Maka kita akan fokus pada proyek ini saja.”


“Baik, Pak!”


***


“Pergi ke Perusahaan Giandra,” titah Elina pada supir mobilnya. Selama hidupnya Elina tidak pernah menyetir sendiri baik di dunia nyata maupun di dunia novel. Dia tidak memiliki SIM dan dia tidak suka menyetir sendiri. Jika ada supir, kenapa harus repot-repot menyetir sendiri? Itu adalah motto hidup Elina.


"Di mana alamatnya, Nona.”


“Aku tidak tahu. Aku saja belum pernah ke sana,” kata Elina acuh tak acuh.


Supir : “…”


“Bagaimana kalau tanyakan kepada kepala pelayan? Anda bisa turun dan tanyakan pada kepala pelayan. Siapa tahu laki-laki tua itu mengetahui alamatnya.”


“Baik, Nona.” Supir itu turun dan tak lama kemudian dengan berlari dia sudah kembali dengan informasi di mana alamat Perusahaan Giandra berada. Ternyata masih satu area dengan Perusahaan Maharani. Kalau begitu nanti dia bisa sekalian mampir menemui ayahnya. Pikir Elina.


Di dalam mobil Elina menyenandungkan lagu untuk menutupi rasa kecemasannya. Dalam bayangan psikologis Elina, Arka itu sangat menakutkan karena sudah dibayang-bayangi dengan isi novel. Ini adalah pertama kalinya


Elina berinisiatif bertemu dengan Arka karena sistem. Kalau di pesta ulang tahun beberapa minggu lalu sepertinya itu hanya kebetulan karena tidak ada di dalam plot novel. Sebenarnya yang telah Elina lakukan selama ini tidak pernah

__ADS_1


tertulis di dalam novel. Itu mungkin karena novelnya sendiri ditulis berdasarkan sudut pandang pahlawan wanita-Bulan.


Jadi kejadian-kejadian yang Elina alami jelas tidak tertulis dalam novel. Hanya pada saat Elina membully Bulan lah dan akhir tragis Elina yang tertulis dalam novel.


Setelah dua minggu bertransmigrasi, Elina merasa dunia novel ini adalah dunia nyata. Semua yang ia lihat, sentuh, pakai dan bahkan makan semuanya nyata. Jadi Elina tidak mungkin terus-terusan menganggap kalau orang-orang


di dunia novel ini hanya karakter di sebuah buku melainkan orang-orang sungguhan. Elina menganggap orang-orang ini adalah orang nyata yang hidup dan bernapas.


Satu jam kemudian mobil memasuki jalan kawasan bisnis pusat ibu kota. Elina melihat-lihat ke luar jendela. Gedung-gedung yang menjulang


tinggi itu terlewati begitu saja.


“Apa ini gedung milik Keluarga Giandra?” gumam Elina.


“Kenapa, Nona?”


“Gedungnya tidak terlalu tinggi jika dibanding gedung lain.” Elina sebenarnya sedikit kaget karena supirnya ternyata mendengar gumamamnya dan menanggapinya.


Supir : “…”


“Bukankah kataya mereka adalah keluarga nomor satu?”


“Apakah begitu?” Seingat Elina, dalam novel dituliskan kalau Keluarga Giandra adalah keluarga nomor satu di lingkarang elit ibu kota. Oh! Dia


ingat sekarang. Itu karena Arka yang berhasil mengambil alih dan membuatnya menjadi perusahaan nomor 1 di jajaran bisnis ibu kota. Dan sekarang Arka belum mengambil alih. Jadi pantas saja mereka masih berada di urutan ke-3


“Pak, Anda tidak perlu menungguku. Nanti aku akan pulang sendiri.”


“Siap, Nona!”


Elina menunggu pintu mobil dibuka oleh supir dan barulah dia keluar. Kepala Elina mendongak mengamati gedung yang sepertinya tingginya hanya sekitar tiga puluh lantai ini. Tidak terlalu tinggi memang. Tapi mungkin mereka


memiliki gedung lain. Entahlah, Elina tidak tahu dan memori pemilik aslinya juga sepertinya tidak mengetahuinya karena tidak ada ingatan seperti itu di dalam otak Elina.


Elina memasuki lobi dan langsung berjalan ke arah meja resepsionis. Itu karena dia tidak memiliki kartu pass karyawan perusahaan, oke!


Jadi dia harus repot-repot bertanya pada pegawai di meja resepsionis. Ugh! Sangat merepotkan.


Elina tidak suka ini.

__ADS_1


“Halo, saya ingin bertemu dengan Pak Arka. Ada di lantai berapa ya?”


Ayu memandang wanita cantik yang memakai gaun mewah.“Apakah Anda mempunyai janji?” tanya Ayu dengan nada yang tidak enak didengar. Seperti sinis tapi masih terdengar agak sopan.


“Tidak. Apa aku perlu membuat janji untuk bertemu Arka?”


“Maaf, Nona. Anda tidak bisa menemui bos kami jika tidak memiliki janji temu. Anda bisa kembali,” kata Ayu dengan nada mengejek.


“Saya tunangan Arka! Apa harus membuat janji dulu? Tidak, kan?” kata Elina. Dia harus berbohong sedimikian rupa hanya agar bisa bertemu dengan Arka. Sialan. Ini semua salah Arka.


Saat mendengar jawaban Elina, Ayu langsung tertawa mengejek. “Nona, tidak satu, dua, atau tiga kali ada wanita yang mengaku sebagai


tunangan, pacar, bahkan istri Pak Arka. Jadi Nona sebaiknya pergi sebelum saya memanggil penjaga.”


Sialan!


Memalukan! Tidak pernah ada dalam hidup Elina dia dibuat kesulitan seperti ini dan dipermalukan seperti ini. Jika lingkaran sosial tahu, apa yang


akan mereka katakan? Sudah jelas menertawakan wanita bangsawan ini.


Dengan kesal Elina berjalan menuju lobi dan duduk dengan marah tapi tetap anggun. Dia tidak bisa menunjukan kemarahannya di depan publik. Citranya harusnya wanita bangsawan yang baik dan murah hati dan tidak pernah marah. Itu dulu


di dunia nyata, tapi sekarang di dunia novel? Dia masih ingin mempertahankan citra ini, oke!


“Sistem! A1! Lihat, aku tidak bisa masuk. Lalu bagaimana?”


“Terserah Nona. Yang penting makanan harus diberikan kepada Arka untuk keberhasilan misi.”


Elina menggertakan giginya dan bangkit. Dia terpaksa harus mencari jalan lain. Ya dia akan mencobanya lagi.


Elina kembali ke meja resepsionis dan langsung berkata, “Aku benar-benar tunangan Arka. Aku bahkan sedang hamil anak Arka. Lihat perutku


ini. Di dalam sini ada anak Arka! Aku dan bayiku datang untuk memberinya makan siang,” kata Elina tak tahu malu sambil mengelus perut yang sama sekali tidak menonjol. Itu benar-benar rata!


Tanpa dia sadari, adegan ini disaksikan oleh Arka dan para bawahan Arka yang akan pergi makan siang.


Arka : “…”


Adam : “Bos! Anda akan menjadi seorang ayah?” tanyanya kaget.

__ADS_1


__ADS_2