
Saat Elina dilanda kebingungan dia melirik Arka yang juga sedang menatapnya dalam diam. Elina memohon dengan matanya agar dia membantunya berbicara menjawab pertanyaan dari Kakek Thomas, tapi kemudian tatapan itu
menghilang dan Arka malah fokus makan sarapannya dengan sangat tenang.
Apa maksudnya?
Elina melongo. Halo? Dia membutuhkan bantuan dan kenapa pria bau itu malah mengabaikannya dan tidak ingin membantunya. Elina sangat membenci pahlawan pria ini. Dia terlalu dingin dan pendiam. Bisakah dia bersikap seperti
tadi malam? Kenapa sepertinya tadi malam Arka bersikap sangat lembut dan toleran dan sekarang dia malah kembali ke mode dingin seperti gunung es!
Elina benar-benar membenci Arka. Dia menatap tajam ke arah Arka tapi tatapan yang ia pancarkan seolah tidak mengganggu Arka sama sekali.
Haha, Elina ingin menangis sekarang. Citranya telah hancur. Bagaimana jika mulut orang-orang dari Keluarga Giandra ini bocor dan menyebarkan fakta ini ke dunia luar? Bukankah citranya akan benar-benar hancur?
Tapi tunggu! Dia lupa. Ini dunia novel dan citra Elina dalam novel memang sudah hancur karena mengejar-ngejar cinta Arka. Bukankah kalau
dunia luar mendengar kabar ini mereka akan terkejut karena Elina yang selama ini selalu diabaikan oleh Arka akhirnya bisa tidur bersama? Meskipun memang benar mereka sudah benar-benar tidur bersama. Tapi dunia luar masih belum tahu itu.
“Itu … aku … t-tadi malam aku takut ada petir dan meminta Kak Arka untuk menemaniku.”
Elina memilih untuk jujur karena berbohong tidaklah mungkin lagi pula sistem ingin dia bertindak seperti Elina dalam novel yang jelas
tergila-gila pada Arka dan ingin mendapatkannya.
“Benarkah? Bukankah kalian sudah tidur bersama tadi malam? Kenapa Kak Elina bisa menyukai anak haram ini? Bukankah di lingkaran kita ada
banyak anak laki-laki lain dari keluarga lain yang merupakan anak sah. Kenapa Kak Elina bisa menyukai laki-laki itu, seorang anak di luar nikah,” cibir Lia anak dari istri kedua ayah Arka.
Saat mendengar omongan Lia, ekspresi Elina langsung berubah. Entah kenapa dia merasa kesal saat mendengar kata ‘anak haram’ yang selalu dilabelkan pada Arka.
“Aku tidak peduli status apa yang Kak Arka miliki.
Setidaknya Kak Arka jauh lebih baik dan lebih berprestasi di perusahaan daripada anak laki-laki generasi ketiga di lingkaran yang tidak bisa apa-apa dan hanya bisa menghambur-hamburkan uang. Dan dia juga lebih baik darimu, Lia.
Kamu hanya bisa berbicara dan lihat dirimu, prestasi apa yang sudah kamu capai di usiamu selain menghabiskan uang keluarga?”
__ADS_1
Elina sebenarnya seperti menusuk dirinya sendiri. Dia juga hanya bisa menghabiskan uang , oke! Bahkan yang dia lakukan benar-benar bisa
dikategorikan orang pemalas dan sebenarnya dia tidak punya hak untuk mengatai orang lain tidak berguna karena dirinya sendiri juga sebenarnya hanyalah beban keluarga.
“Lihat dirimu sendiri, kenapa tidak berkaca! Bukankah kita tidak jauh berbeda? Aku menghabiskan uang dan kamu sebagai nona tertua juga hanya bisa menghabiskan uang. Apa yang kamu lakukan setiap hari hanya mengejar
anak haram!”
Sial! Itu benar! Kenapa anak kecil ini berani melawannya. Tidakkah dia tahu Kakek Thomas sangat mencintai Elina ketimbang dirinya yang
merupakan cucu aslinya?
“Kamu!” Elina ingin marah, tapi kemudian Kakek Thomas menyela.
“Lia! Hentikan omonganmu atau kakek akan membekukan kartu kreditmu!”
“Kakek! Kenapa kakek selalu membela Elina? Siapa sebenarnya cucu kakek? Aku atau Elina?!” Lia marah. Gadis itu jelas cemburu karena
kakeknya selalu lebih peduli pada orang luar. Kenapa kakeknya sendiri tidak
Melihat ekspresi Kakek Thomas yang terlihat marah, Nia-istri kedua dan ibu Lia-langsung
menghentikan perilaku Lia. “Lia, hentikan.”
“Cih!” Dia bangkit dan pergi dari ruang makan. Melarikan diri seperti anak kecil yang merajuk. Yah, Lia memang baru memasuki umur 20
tahun jadi wajar jika masih belum dewasa secara pemikiran. Dan Elina sebenarnya juga tidak jauh berbeda.
Suasana tiba-tiba berubah canggung. Elina masih berdiri di depan pintu dan acara sarapan juga terganggu.
“Elin sarapan dulu?” pinta Kakek Thomas.
Tidak mungkin Elina setuju. Dia mencintai kebersihan melebihi dari apapun. Jelas dia akan mandi dan membersihkan diri terlebih
dahulu. “Tidak, Kek. Aku akan membersihkan diri dan sarapan nanti. Kalian lanjutkan makannya. Maaf telah mengganggu kalian.” Elina tidak menunggu respon dari orang-orang dan langsung berlari menaiki tangga ke lantai dua. Dia pergi
__ADS_1
ke kamar tamu yang sudah disiapkan untuknya dan membersihkan diri.
Meski ini kamar tamu, nyatanya di dalamnya ada banyak baju wanita yang cocok di tubuh Elina. Karena Elina sering berkunjung maka kakek sengaja membuat kamar tamu ini untuk digunakan dan kakek juga sudah menyiapkan segala keperluannya termasuk pakaian.
Elina menghela napas lega saat melihat deretan gaun. Setidaknya ini sesuai seleranya. Jika tidak, dia bahkan lebih memilih untuk pulang dan mandi di rumah. Untung saja ada gaun rajut selutut yang menonjolkan sosoknya. Dengan cepat dia mandi dan merawat dirinya sendiri.
Itu sudah setengah jam saat Elina turun. Seharusnya mereka sudah lama selesai makan, tapi orang-orang masih berada di meja makan dan makanan masih tersaji di meja belum dibereskan. Mungkinkah kakek masih menunggu
Elina untuk sarapan? Sebenarnya dia tidak nyaman jika harus sarapan sendirian dan ditatap banyak orang. Dia lebih memilih untuk tidak makan.
Tapi ternyata tebakannya terlalu tinggi. Nyatanya saat Elina sampai di meja makan dan duduk di dekat Arka, dia mendengar pembicaraan mereka
yang sedang membahas pahlawan wanita.
Bukankah seharusnya dia tidak boleh mendengarkan obrolan rahasia ini? Elina sebagai orang luar kenapa boleh mendengar percakapan mereka. Atau misi menemukan pahlawan wanita bukanlah suatu rahasia dan Elina sebagai orang
luar boleh mendengarnya.
“Jadi bagaimana perkembangan pencarian cucu penyelamatku? Sudahkah ada kemajuan?”
Mereka semua diam. Informasi yang diberikan terlalu sedikit dan itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Benar-benar sulit menemukan
Bulan yang dimaksud kakek dengan hanya secuil informasi.
Elina melirik Arka. Bukankah seharusnya Arka sudah menemukan Bulan? Tapi garis waktu alur cerita hanya akan dimulai tahun depan yang berarti Arka masih belum menemukan Bulan? Atau dia sudah menemukan Bulan tapi tetap
diam? Entahlah, dia tidak bisa membaca raut wajah Arka yang datar dan terlihat sangat dingin. Dia benar-benar mengatupkan rapat mulutnya dan tidak berbicara sepatah katapun selama percakapan ini seolah-olah dia tidak tertarik.
Thomas menghela napas kecewa. Jelas dia berharap untuk segera menemukan cucu penyelamatnya. Dia ingin segera membalas budi pada orang-orang yang sudah menyelamatkannya.
“Aku beri kalian waktu satu tahun. Siapa yang tercepat menemukan cucu penyelamatku maka dia akan lansgung mewarisi kursi Presdir ini.”
“Tapi Ayah, bukankah ini tidak adil. Pemilihan Presdir selanjutnya hanya berdasar penemuan cucu penyelamatmu. Ini benar-benar tidak
masuk akal. Seharusnya penilaian dari kinerja yang perlu ditinjau.” Andre menyela omongan ayahnya.
__ADS_1
“Kamu tidak usah banyak bicara, toh kursi Presdir tidak akan pernah akan bisa kamu miliki.” Omongan Kakek Thomas menampar wajah ayah Arka. Kalau itu di keluarga lain, pasti anak pertama laki-laki yang akan mewarisi perusahaan. Tapi di keluarga ini, kenapa begitu berbeda? Elina berpikir mungkin ini karena berada di dalam novel jadi keluarga pahlawan pria sedikit aneh.