Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 64 – Kebangkitan Ingatan Bulan 2


__ADS_3

“Kenapa Bulan? Kenapa kamu berteriak? Bagian mana yang sakit?” Laura benar-benar panik. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bulan. Kenapa dia pingsan dan kenapa setelah bangun dia bertindak aneh dan sekarang dia malah berteriak seperti orang yang ketakutan.


Cantika tersadar. Jika dia membuat keributan lagi itu akan membuat orang-orang di depannya curiga. Dia tidak ingin mengekspos dirinya dan


memberitahukan orang lain kalau jiwa di tubuh ini sudah bertukar jiwa.


“Tidak apa-apa, Laura.” Cantika mengingat nama orang di depannya ini lewat ingatan yang tersisa dari Bulan.


Cantika masih tidak percaya dia benar-benar masuk ke dalam novel yang ia tulis sendiri. Lalu apa alasannya? Kenapa dia bisa masuk ke dalam


novel. Dia tidak punya jawaban dari pertanyaannya ini. Saat ini yang harus dia lakukan adalah membenahi pikirannya dan memikirkan kedepannya dan mencari tahu kenapa dia bisa bertransmigrasi ke dalam novel.


Namun satu pertanyaan yang masih sangat mengganjal. Apakah dia di dunia nyata mati atau hanya pingsan sementara? Dia tidak tahu kebenaran dan akan sulit untuk mengetahuinya karena dia juga tidak tahu cara untuk mengakses ke dunia nyata. Cantika takut dia tidak bisa kembali ke dunia nyata. Apakah dia benar-benar sudah mati? Dia ragu dengan pikirannya sendiri.


“Coba minum teh hangat ini.” Adam memberikan cangkir yang berisi teh manis hangat kepada Bulan yang sudah mendudukan dirinya di sofa


ruang istirahat sekretaris.


Cantika sudah merasa tenang saat dia menyesap teh hangat. Itu sedikit melegakan perasaannya yang tadi kacau. Kini dia sudah bisa berpikir dengan jernih. Hal pertama yang harus dia lakukan adalah membiasakan diri dengan


panggilan barunya yaitu Bulan. Dia tidak bisa lagi menggunakan nama aslinya. Dan dia juga harus segera terbiasa dengan tampilan yang sangat berbeda ini.


Cantika adalah seorang wanita kutu buku dengan kaca mata tebal. Itu sangat kontras dengan penampilan cantik Bulan tanpa kaca mata. Dia merasa sedikit senang karena dia bisa terbebas dari kaca mata tebal dan mendapat tampilan baru yang cantik. Setidaknya di dunia novel dia menjadi wanita cantik dan hal yang paling penting adalah dia adalah pemeran utama wanita yang akan berkhir dengan pemeran utama pria.


Ya. Dia akan berakhir bahagia bersama karakter kesukaannya yang dia buat dengan penuh cinta itu. Cantika menciptakan karakter Arka dengan


sangat hati-hati dan dia melakukan riset terlebih dahulu tentang laki-laki tampan di dunia nyata dan menggambarkan Arka seperti model yang ia pilih.


Dia sudah tidak sabar dengan pertemuannya dengan Arka nanti. Tapi tunggu, sebenarnya Bulan yang bekerja sebagai sekretaris Arka tidak pernah ia tulis. Itu adalah keanehan pertama yang Cantika sadari saat akan memposting bab

__ADS_1


lanjutan novelnya dan membaca kalau ceritanya sudah berubah.


Dia tidak pernah menuliskan pertemuan Arka dan Bulan di kantor. Tapi pertemuan mereka seharusnya berada di restoran.


Tapi itu tidak apa. Setidaknya dia bisa lebih dekat dengan Arka mulai sekarang. Dia akan bisa dengan cepat menikahi Arka dan membantunya


dengan karirnya.


Mungkinkah dirinya masuk ke dalam novel memang  untuk memperbaiki jalan cerita yang sudah melenceng ini?


Jika tebakannya benar, maka dia akan dengan senang hati membenarkan alur cerita agar sesuai dengan alur yang sudah ia buat.


“Apa kamu sudah mendingan Bulan? Apa tidak perlu ke rumah sakit? Atau kamu ingin pulang?” Meski Laura tidak terlalu menyukai Bulan, tapi


dia tidak bisa bersikap acuh pada orang yang sedang sakit. Dia masih bertanya dengan


kekhawatiran yang tulus.


bisa bekerja.” Cantika yang kini sudah mulai terbiasa dipanggil Bulan itu sangat ingin melihat Arka.


“Kalau begitu syukurlah.”


“Aku akan membawakan kopi ini ke Pak Arka.” Bulan berdiri dan berjalan menuju meja kopi. Minuman yang Bulan buat sudah lama mendingin dan dia harus membuat ulang.


“Biarkan aku saja yang membuat kopi untuk Pak Bara.” Laura dengan tulus menawarkan diri. Dia tidak mungkin membiarkan orang yang baru saja


pingsan untuk bekerja. Lebih baik Bulan beristirahat meskipun dia bilang dia sudah baik-baik saja.


“Tidak! Tidak! Aku bisa. Ini tugasku. Kamu kembali saja. Tidak ada orang yang berjaga di meja sekretaris. Takutnya nanti Pak Arka membutuhkan sesuatu. Aku menerima niat baikmu.” Hehe bercanda! Dia tidak mungkin membiarkan kesempatan untuk bertemu Arka dengan alasan membawakan kopi kepada Laura.

__ADS_1


“Yah. Kamu benar. Aku akan pergi dulu.” Laura pergi dan Adam juga sudah tidak ada di ruangan karena dia tadi sudah pergi lebih dulu.


Bulan membuat kopi dengan penuh cinta. Dia benar-benar tidak sabar untuk melihat Arka. Karakter kesayangannya. Dia akhirnya bisa bertemu dengan karakter yang dia buat. Seperti apa rupanya? Meskipun ada ingatan Bulan


yang tersisa, tapi itu tidak falid karena sebuah ingatan terlihat samar-samar dan tidak jelas. Lebih bagus kalau melihat langsung wajah Arka.


Setelah membuat kopi baru, Bulan dengan hati riang berjalan menuju ruang kantor Arka. Dia sangat bersemangat seolah rasa pusing dan rasa lemas karena pingsan tidak pernah ia rasakan.


Bulan mengetuk pintu kantor. Tidak ada sahutan atau perintah untuk masuk, tapi setidaknya Arka pasti tahu kalau sekretarisnya akan datang. Jadi


Bulan masuk begitu saja dan dia langsung terpana saat melihat sesosok laki-laki tampan yang terlihat dingin sedang fokus menatap layar komputer.


Laki-laki yang fokus bekerja memang selalu terlihat lebih gagah dan lebih tampan.


Bulan ingin berteriak dan berlari ke arahnya dan memeluk Arka. Tapi dia masih bisa menahan keinganannya ini. Dia tidak ingin membuat


Arka risih. Ini benar-benar sosok tampan Arka! Karakter yang dia ciptakan sekarang terlihat nyata di depan mata. Bulan sangat senang dan dia tidak bisa menahan senyumnya.


“Pak ini kopinya.” Bulan berjalan menuju meja kerja Arka dan menaruh kopi itu di tempat yang kosong di atas meja. Meja itu sebenarnya


dipenuhi oleh tumpukan berkas dan beberapa kertas yang berserakan membuat meja terlihat sangat penuh.


“Apa aku menyuruhmu untuk meletakan kopi di meja ini?” tanya Arka dengan nada dingin.


Bulan terdiam. Dia tidak menyangka sikap Arka akan begitu dingin. Calon suaminya kenapa begitu bersikap acuh? Memang benar mereka belum berada di tahap saling mencintai dan mungkin saja sekarang mereka masih belum mengenal. Lebih tepatnya Arka masih belum mengenali kalau Bulan ini adalah cucu penyelamat yang selama ini dia cari.


Bulan kecewa dengan sikap Arka, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Arka. Dia memang membuat karakter Arka sangat dingin terhadap lawan jenis dan hanya tertarik pada pahlawan wanita.


Tidak apa! Setidaknya di masa depan Arka pasti akan berlaku manis padanya. Bulan merasa percaya diri karena dia adalah penulis yang tahu

__ADS_1


jalan ceritanya. Dan dia akan memastikan jalan cerita berjalan sesuai keinginannnya.


__ADS_2