
Elina menolehkan kepalanya dan menatap ke arah Bulan dengan penuh kebencian. Pahlawan wanita ini benar-benar menyebalkan baginya. Kenapa dia harus datang ke sini dan membuat suasana hatinya menjadi lebih buruk.
Elina tertegun, dia dengan cepat menghapus pikirannya. Sadar Elina, kamu tidak boleh bersikap jahat pada pahlawan wanita atau nanti kamu akan berakhir menderita!
“Tidak! Tidak perlu. Aku tidak membutuhkan minyak kayu putih itu. Terima kasih. Kamu bisa kembali ke rombongan.” Elina masih berjongkok dan dia lemas. Matanya masih memerah karena muntah tadi air matanya juga keluar.
“Atau mau saya bantu berdiri?” Bulan bertanya dengan hati-hati.
Elina ingin menangis keras! Dia hanya tidak ingin melihat Bulan, oke! Kenapa pahlawan wanita ini begitu gigih ingin membantunya. Dia tidak ingin dibantu oleh Bulan!
“Tidak perlu.”
Dengan itu Bulan pergi dengan wajah penuh rasa kecewa.
Saat emosi Elina berkecamuk, sistem muncul lagi.
Ding!
[Misi baru belum dilaksanakan! Ikuti acara sosial dan amal Perusahaan Giandra di pelosok desa dan dapatkan uang senilai 500 juta. Tuan rumah masih belum melaksanakan tugas dan waktu terus berjalan. Harap segera melakukan tugas.]
Elina syok berat. Apa maksud sistem? Dia sudah berada di pedesaan terpencil dan sistem tidak menghitung itu sebagai keberhasilan?bSebenarnya apa yang diinginkan sistem.
“A1 aku sudah berada di pedesaan terpencil ini kenapa sistem belum menghitung ini sebagai kesuksesan?”
“Nona harus membantu seperti karyawan lainnya. Ikut membantu masyarakat di pedesaan seperti di sawah atau di ladang.”
“Apa?! Kenapa aku harus ikut membantu? Bukankah memberi uang sudah cukup?” Elina membulatkan mata bundarnya. Bukankah acara amal hanya akan memberikan bantuan berupa dana dan beberapa makanan pokok atau pun di bidang pendidikan seperti buku? Kenapa mereka harus repot-repot membantu kegiatan keseharian warga desa seperti menyiangi tanaman dan sebagainya.
Elina sakit kepal. Dia berdiri terhuyung-huyung dan hampir jatuh jika Arka tidak cepat menangkapnya.
Elina menatap Arka dengan mata basah. Dia bertanya, “Apakah nanti kita akan membantu kegiatan sehari-hari warga desa?”
__ADS_1
Melihat wajah pucat Elina membuat Arka khawatir. Dia dengan lembut menjawab,”Ya.”
Butiran air mata Elina jatuh. Dia merasa sedih dan tertekan. Belum pernah Elina mengalami kesusahan yang seperti ini. Ini sangat menyiksa!
“Aku ingin pulang, hiks, hiks.” Elina membenamkan kepalanya pada dada bidang Arka. Beban tasnya sudah lama dibawa oleh asisten Arka ke balai desa. Sebenarnya sekarang hanya ada Elina dan Arka yang masih setengah jalan. Sementara karyawan lain sudah terlebih dulu datang ke balai desa.
Melihat tingkah manja Elina, Arka jelas sakit kepala. Dia menyesal membawa nona muda ini untuk mendapat pengalaman membantu di pedesaan.
“Oke, kalau begitu kita pulang,” jawabnya lembut.
Elina mendongak dan memanyunkan bibirnya. Dengan air mata yang masih terus menetes, dia berucap, “Tidak! Kita harus menyelesaikan apa
yang sudah direncanakan. Aku baik-baik saja. Ayo kita menyusul para karyawan lain yang sudah lama pergi.” Elina jelas tadi hanya mengeluh dan tidak benar-benar ingin pulang. Dia sudah kepalang terjun sejauh ini untuk misi, tidak mungkin dia kembali dan gagal mendapatkan uang! Dia tidak mau itu.
“Baiklah, ayo aku gendong lagi.”
Elina mengangguk lemah dan langsung naik ke punggung Arka tanpa rasa malu atau canggung. Biarkan laki-laki ini menjadi kendaraannya untuk
Tak lama kemudian Elina dan Arka akhirnya sampai di balai desa. Para karyawan sudah beristirahat dan sekarang mereka sedang menyiapkan makan siang yang berupa mie instan. Ya! Itu benar-benar mie instan yang dimasak dengan sangat sederhana.
Elina terpana melihat ini. Dia jelas belum pernah memakan makanan seperti mie instan!
“Apa makan siang kita hanya ini?”
Arka menurunkan Elina dan mendudukannya di bangku yang sudah tersedia. Dia berdiri tegak dan mengamati para karyawannya yang sedang memasak mie instan. Bantuan akan datang besok pagi dan karyawan datang ke sini hanya untuk membantu bekerja di ladang atau membantu mengajar di sekolah. Bantuan yang berupa sembako baru akan dikirimkan besok pagi menggunakan truk dan para warga juga akan turun gunung untuk mengangkut barang sembako tersebut.
Jadi alasan mereka memasak mie instan karena mereka tidak ingin membebani warga yang sudah miskin dengan menyediakan menu makanan mewah dan mie instan juga mudah dibawa. Jadi untuk sehari semalam ini mereka haya akan makan mie instan sampai pulang besok.
Elina benar-benar ingin menangis. Dia jelas lelah dan kesal ditambah dengan makanan yang akan dia makan tidak sesuai dengan gayanya.
Dia sudah sangat lapar. Dia tidak sarapan dan makan siang pun dengan menu yang belum pernah Elina makan.
__ADS_1
Arka mengambil jatahnya dan jatah Elina. Dia menyodorkan cup yang berisi mie instan dan menyuruh Elina untuk makan.
“Makan ini dulu. Besok saat pulang aku akan membawamu makan ke tempat yang enak.” Baru kali ini Arka membujuk Elina dengan begitu sabar.
Kalau sebelumnya, dia mungkin akan menyuruh asistennya untuk membujuk Elina. Tapi entah kenapa sejak kejadian malam panas itu Arka melihat Elina berubah dan terlihat berbeda.
Elina ingin menolak mie itu tapi saat mencium bau mie instan di udara, perutnya langsung keroncongan. Elina menggertakan giginya dan
perlahan-lahan mengulurkan tangannya yang putih dan mulus itu untuk menerima cup mie instan.
Pertama-tama dia mengendus baunya. Lalu dengan hati-hati menyendok mie itu dan perlahan-lahan mie masuk ke dalam mulut Elina. Saat lidah Elina menyentuh mie yang kenyal dan bumbu yang sudah tercampur, matanya langsung membulat sempurna.
Enak!
Kenapa begitu lezat? Elina awalnya memandang makanan ini sangat rendah dan menjijikan. Seumur hidupnya dia belum pernah makan masakan instan seperti mie ini. Ternyata rasanya sangat enak. Elina makan dengan cepat tapi tetap terlihat anggun. Tanpa terasa dia sudah menghabiskan mie dan cup nya kosong. Dia makan bahkan lebih cepat dari Arka. Mie di cup Arka masih ada.
Arka yang duduk di sebelah Elina juga kaget. Dia berpikir kalau Elina pasti akan membuat masalah karena makannya yang sangat sederhana
ini. Dia tidak menyangka kalau kecepatan makan Elina sangat cepat dan tidak mengeluh sama sekali.
Saat dia menoleh ke arah Elina, dia mendapati mata Elina yang tertuju padanya. Mata Elina terlihat berbinar senang dan terlihat bersemangat. Itu membuat Arka bertanya-tanya apa yang membuatnya sangat bersemangat? Gambaran wajah kuyu dan pucat Elina tadi seolah tidak ada dan hanya sebuah ilusi.
“Apa kamu mau menambah mie lagi?” Arka hanya berkata asal, tapi dia tidak menyangka kalau pertanyaannya langsung dijawab dengan anggukan bersemangat Elina.
Ya, begitu mendengar pertanyaan Arka, mata Elina langsung berbinar dan dia dengan cepat menganggukan kepalanya beberapa kali seperti ayam yang sedang mematuki makanan di tanah.
Ya! Dia ingin menambah. Dia tidak tahu kalau mie instan begitu terasa nikmat.
“Aku ingin makan lagi. Tolong beri aku mie instan lagi,” pintanya dengan tak malu-malu. Citranya sudah benar-benar melenceng. Nona muda
ini akhirnya bisa menemukan yang namanya surga dunia. Mie instan adalah makanan terenak yang Elina makan. Dia sudah memutuskannya mulai detik ini.
__ADS_1
**Tolong bantu follow akun author. Terima kasih.**