
“Haruskah aku menggugurkan kandungan ini?”
“Nona! Apa yang Anda katakan?” Paman Sam mendekati Elina dan dia sedikit terkejut dengan perkataan nona mudanya. Hamil di luar nikah memang suatu aib, tapi itu akan lebih berdosa jika menggugurkan bayi yang tidak bersalah itu.
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Hiks, hiks, ini pertama kalinya aku hamil.” Elina mengeluh. Ini adalah pertama kalinya dia hamil. Di dua
kehidupan, baik di dunia nyata ataupun dunia novel, ini adalah pengalaman pertamanya! Dia tidak tahu apapun. Dia masih kecil! Kenapa juga dia harus masuk ke dalam novel dan mengalami penderitaan seperti ini. Bukan Elina tidak bersyukur karena telah diberi kehidupan kedua. Dia hanya mengeluh kenapa dia harus menjadi peran penjahat dalam novel yang akhir hidupnya sudah ditentukan dan akan berakhir tragis.
“Mari kita pikirkan dulu. Jangan impulsive, Nona. Mari kita pikirkan dengan kepala dingin.”
“Yah.”
“Apakah Nona ingin mencoba makan? Saya akan membeli makanan untuk Nona. Seharian ini Nona belum makan sedikitpun. Ayo coba, siapa tahu
sudah tidak mual?”
Elina menatap Paman Sam dan mengangguk pelan tanda mengiyakan. Dia juga lapar.
“Kalau begitu saya pergi dulu. Nona di sini hati-hati.” Paman Sam sebenarnyanya sangat khawatir meninggalkan Elina sendirian. Dia tidak
berani membiarkan pelayan lain untuk menunggui Elina. Dia takut mulut pelayan itu tidak bisa menjaga rahasia. Keadaan Elina saat ini adalah sesuatu yang harus dirahasiakan dulu.
“Yah. Haati-hati paman.”
Setelah Paman Sam pergi, Elina mencoba untuk tidur dan mencoba untuk menenangkan pikirannya. Dia harus segera memikirkan rencana masa depannya yang benar-benar sudah berantakan ini.
Elina ingin tidur, tapi dia tidak bisa. Sampai Paman Sam kembali membawakan bubur yang terbungkus itu dan membawa peralatan makan yang entah ia dapat dari mana, mungkin saja membelinya di jalan. Elina tidak peduli karena
dia ingin segera makan.
Tapi saat bubur itu dikeluarkan, saat Elina mencium baunya, dia langsung merasa mual luar biasa.
“Tidak bisa paman. Aku akan muntah! Tolong jauhkan buburnya.” Elina benar-benar merasa tersiksa dengan derita yang ia rasakan ini.
“Sebaiknya saya memberitahukan dokter kalau Nona memerlukan infus. Nona harus dirawat semalam dan besok sebaiknya melakukan pemeriksaan kandungan dengan dokter spesialis.”
“Yah.”
Setelah Paman Sam melaporkan kepada dokter dan melakukan prosedur rawat inap dengan bangsal VIP, Elina dengan cepat ditangani. Rencananya dia akan bertemu dengan dokter spesialis kandungan besok dan kemungkinan baru akan diberi obat besok jika sudah melakukan konsultasi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ranjang Elina didorong ke ruangan VIP dan setelah masuk Elina merasa sedikit lega. setidaknya bau di ruangan VIP ini
tidak terlalu berbau desinfektan seperti di IGD tadi.
“Nona, apa Anda berani sendirian di bangsal? Haruskah saya menemani Nona?”
“Tidak. Paman harus pulang agar orang tuaku tidak curiga. Dan katakan saja aku akan menginap di rumah Clara untuk melakukan pesta piyama.”
“Ya. Itu ide yang bagus.”
Keluarga Maharani sudah kenal dekat dengan Keluarga Wijaya, jadi itu tidak akan menimbulkan kecurigaan dan orang tua Elina ataupun kakak Elina juga tidak akan mengonfirmasi langsung dan pasti akan langsung percaya dengan
alasan ini.
“Kalau begitu telpon saya jika terjadi sesuatu, Nona. Atau haruskah saya meniggalkan satu pelayan?” Paman Sam sebenarnya sangat tidak tega meninggalkan Elina sendirian tanpa pembantu di sisinya. Bagaimana jika nonanya
harus pergi ke kamar mandi? Dia harus ekstra hati-hati karena ini adalah kehamilan muda dan beresiko. Paman Sam juga jadi khawatir karena tadi pagi nonanya sudah bekerja sangat keras untuk bertani. Dia malah takut itu akan berdampak pada kandungan Elina.
“Tidak, paman. Aku sudah dewasa. Aku berani sendiri dan aku tidak memerlukan pelayan. Ini sudah larut, sebaiknya Paman pulang segera. Takut ibu dan ayahku sudah berada di rumah dan mendapati paman tidak ada di villa itu akan membuat mereka heboh.”
“Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi.”
Elina menatap langit-langit bangsal yang berwarna putih bersih. Saat pikirannya tenang, dia mulai menyesal tadi mengatakan kalau dia ingin
Tapi Arka adalah ayah bayinya, dia harus diberi tahu. Jadi Elina berencana untuk pergi ke Arka besok setelah melakukan pemeriksaan.
Elina menguap. Waktu terus berjalan dan malam semakin pekat. Elina tanpa sadar jatuh tertidur.
Ke esokan paginya, Elina bangun seperti biasa. Tangannya masih diinfus dan kebetulan Paman Sam kemarin membeli peralatan mandi. Elina tidak mungkin mandi karena masih diinfus. Jadi dia hanya akan mencuci muka dan gosok gigi. Kebetulan juga Paman Sam membelikan baju bermerk yang baru. Bisa Elina tebak kemugkinan kemarin Paman Sam mampir ke butik untuk membeli keperluannya.
Setelah Elina berganti pakaian dan membersihkan diri, itu sudah pukul 9 dan ada ketukan di pintu. Paman Sam datang disertai dokter spesialis kandungan. Seharusnya dokter spesialis kandungan itu barus saja melakukan kunjungan ke bangsal-bangsal lain terlebih dahulu dan mengunjungi bangsal Elina terakhir sebelum melakukan praktik di klinik.
Setelah melewati beberapa pemeriksaan dan menjawab pertanyaan, Elina diberi obat penguat janin dan obat vitamin lainnya. Elina yang harus segera menemui Arka itu juga meminta untuk dipulangkan.
Elina bisa pulang karena kebetulan saat mencoba makan sarapan dia tidak mual dan juga tidak muntah. Tetapi dokter tetap mengingatkan
untuk kembali dirawat jika masih tetap mual dan muntah. Elina hanya mengiyakan perintah dokter dan Elina bisa pulang setelah melepas infus. Prosesnya sendiri tidak dipersulit karena Elina merupakan pasien VIP jadi dia agak diberi
kebebasan dan tidak terlalu terikat peraturan rumah sakit.
__ADS_1
Elina mengambil ponselnya. Dia ingin menelpon Arka untuk memastikan keberadaannya di mana. Di kantor atau di villa. Elina memanggil
Arka.
“Halo?”
Saat suara dingin yang familiar itu terdengar, Elina tiba-tiba ingin menangis. Dia ingin mengeluh soal kehamilannya. Tapi dia menahan itu. Tidak lewat telepon, dia harus mengataknnya langsung.
“Kakak di mana?” kata Elina dengan suara sangau menahan tangis dan terdengar sangat lembut dan centil.
“Aku di villa. Ada apa?”
“Tidak. Kalau begitu aku tutup teleponnya.”
Elina tidak memberitahukan rencananya untuk pergi ke Villa Giandra karena dia berpikir itu tidak perlu dan dia ingin mengejutkannya. Jadi tadi
dia hanya menutup telepon begitu saja.
“Paman, antar aku ke Villa Giandra.”
Paman Sam langsung bisa menebak kalau laki-laki yang berani membuat nona mudanya hamil di luar nikah mungkin adalah Arka! Ya! Nona mudanya sudah tergila-gila dengan pria itu sejak kecil. Namun kepala pelayan itu tidak
bertanya pada Elina dan pura-pura tidak tahu.
“Baik, Nona.”
Elina berjalan menuju lobi rumah sakit dengan sangat hati-hati. Dia tidak berani berjalan cepat, takut akan melukai bayi yang ia kandung. Elina
benar-benar tidak berpengalaman dan dia ketakutan dengan hanya berbekal ilmu yang tidak seberapa ini soal kehamilan.
Mobil sudah terparkir di depan RS dan menunggu Elina untuk masuk dan duduk. Setelah Elina masuk, mobil langsung berjalan menuju Villa Giandra.
“Paman Anto, apa Kak Arka ada di dalam?”
Kepala pelayan Keluarga Giandra terkejut dengan kedatangan Elina yang tiba-tiba. “Ada di dalam, T-tapi …”
“Kalau begitu aku akan masuk. Jangan beri tahu mereka kalau aku ke sini. Ini kejutan.”
Perkataan Paman Anto terpotong oleh Elina dan saat dia akan merespon, gadis itu sudah berjalan jauh dan masuk ke dalam villa.
__ADS_1
“Apa kamu akan bertunangan dengan Arka, Bulan?”
Langkah Elina berhenti saat mendengar suara Kakek Giandra. Tiba-tiba mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan itu membuat dirinya yang tidak siap sangat terkejut.