Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 45 - Nona Muda Bekerja di Ladang 1


__ADS_3

Elina berhasil menghabiskan 3 cup mie instan. Dan itu membuat Arka terpana dan merasa sangat takjub. Apa Elina benar-benar sangat kelaparan? Atau dia merasa mie instan ini sangatlah enak? Arka berpikir mungkin keduanya adalah benar, Elina lapar dan mie instan terasa enak.


Arka sendiri hanya menghabiskan dua cup mie instan. Dia sudah terbiasa makan makanan instan seperti ini karena dulu hidupnya meski sudah berada di Keluarga Giandra tetaplah sulit. Bahkan jauh lebih sulit dibanding saat sebelum dia memasuki Keluarga Giandra.


“Apa kamu sudah kenyang?”


Elina mengusap perut ratanya yang sekarang sedikit membuncit. Dia diam-diam merona malu ditanyai seperti itu setelah menghabiskan tiga cup yang sebenarnya agak tidak wajar. Oh, tolong jangan salahkan Elina karena serakah! Salahkan kenapa dia sangat lapar dan kenapa mie instan ini


lebih enak daripada masakan yang dimasak di restoran Michelin bintang tiga.


Dia sendiri juga tidak menyangka bisa menghabiskan begitu banyak mie. Dia biasanya hanya makan salad dan buah. Dia jarang makan karbohidrat seperti nasi. Ini demi menjaga bentuk tubuhnya. Tapi sekarang dia seperti menampar wajahnya sendiri karena memakan makanan instan ini dengan sebegitu banyaknya.


“Hehe … jangan tanyakan apa aku kenyang atau belum. Kak Arka membuatku malu.”


“Oke kalau sudah kenyang tinggal istirahat dan nanti kita akan langsung bekerja.”


Elina mengangguk patuh. Saat perut kenyang, hatipun senang. Dia tidak lagi kesal dengan perjalanan ini. ternyata mie instan bisa mengubah


suasana hati seseorang dengan begitu mudahnya.


Tanpa mereka sadari, kegiatan Elina memakan mie instan dan menghabiskan tiga cup mie itu juga tersorot kamera dan lagi-lagi itu membuat


internet mendidih.


[Lihatlah! Apa hanya aku seorang yang melihat nona muda itu menghabiskan tiga cup mie instan? Apakah dia lapar atau ini baru pertama


kalinya nona muda bangsawan memakan makanan orang miskin seperti kita yang penuh


dengan bumbu penyedap rasa?]


[Aku juga melihatnya! Tidak hanya kamu. Mungkin nona muda baru saja menemukan yang namanya surga dunia lewat mie instan. Lihat wajahnya sangat berseri-seri setelah makan mie instan. Haha dia membuatku tertawa sampai


perutku sakit.]


[Tapi tiga cup? Bukankah itu sedikit tidak wajar? Aku saja paling banyak bisa menghabiskan dua cup dan nafsu makanku sudah terhitung besar

__ADS_1


karena menghabiskan porsi besar mie cup! Dia tiga, cukup serakah kalau aku bilang.]


[Terserah nona muda mau menghabiskan berapa cup mie. Kenapa kalian yang rebut? Kalau kalian lapar, tinggal masak saja mie yang sama. Hitung-hitung kalian juga memakan makanan yang sama dengan orang-orang kaya itu.]


[Di atasku benar, bahkan Pangeran Giandra saja juga menghabiskan dua cup mie instan.]


[Itu karena dia laki-laki dan wajar.]


***


Matahari sudah di atas kepala dan rombongan Arka masih beristirahat menunggu hingga matahari tidak terlalu terik untuk melanjutkan


kegiatan mereka.


Mereka sudah dibagi-bagi pekerjaannya sebelum sampai di sini. Jadi begitu waktu kerja siang hari dimulai, para karyawan memecah diri sesuai pengelompokan masing-masing. Hanya Elina yang duduk sambil menyaksikan dengan santai. Dia sendiri tidak tahu harus ikut ke kelompok mana.


Bulan ada di kelompok mengajar ke sekolah. Elina yang melihat itu memutuskan untuk tidak dekat-dekat dengan pemeran utama perempuan


itu. Lebih baik bermain aman dengan menjauh. Dia hanya akan mengganggu Arka saja agar tingkat kebenciannya meningkat.


“A1 berapa tingkat kebencian Arka sekarang?”


“Tingkat kebencian Arka sekarang adalah 55 persen, Nona.”


Elina sangat terkejut. Kali ini tingkat kebencian kembali turun dari 70 sampai drastis menjadi 55 persen. Apakah dia kurang bekerja keras? Tapi dia sudah bertingkah seperti dalam plot yang selalu menempel dan mengikuti Arka dan menunjukan cinta! Seharusnya indeks kebencian Arka akan


cepat naik. Kenapa malah turun?


“Kamu tidak salah menghitung, kan? Kenapa menurun lagi?”


“Itu mungkin karena nona rumah tidak cukup bekerja keras. Coba lebih menunjukan banyak cinta hingga membuat Arka gerah dan bosan dan mungkin kebenciannya akan meningkat.”


“Yah. Kamu benar, mungkin aku yang kurang bekerja keras. Haruskah aku lebih menempel pada Arka? Yah, aku akan melakukannya.”


Tenaga Elina serasa tersedot habis saat membaca indeks total kebencian Arka. Itu tidak meningkat dan malah terus menurun. Jika terus

__ADS_1


dibiarkan, maka dia akan terus terikat dengan Arka dan tidak akan bebas.


Arka yang melihat Elina sangat pendiam dan menundukan kepala itu merasa sangat ingin bertanya. Ada apa? Kenapa seperti semangatnya turun padahal tadi dia tampak sangat senang.


“Ada apa? Kenapa murung? Apa kamu akan ikut mengajar di sekolahan?”


Elina mendongak dan tatapan matanya langsung mengenai mata Arka yang terlihat begitu dalam. Elina menggeleng pelan. “Aku tidak mau. Aku akan mengikuti Kak Arka.”


“Lebih baik mengajar. Jangan ikuti aku, aku akan bekerja di ladang nanti.”


“Kalau begitu aku akan bekerja di ladang bersamamu. Aku tidak ingin jauh-jauh dari Kakak. Biarkan aku mengikutimu, oke?” Elina memohon dengan matanya yang terkulai lemah.


Melihat Elina, dia agak enggan membiarkan Elina mengikuti dirinya untuk bekerja di ladang, tapi dia juga tidak tega menolaknya. Jadi dia hanya mengangguk mengiyakan.


Melihat anggukan persetujuan, Elina langsung kembali bersemangat. Yes! Dia berhasil untuk terus berada di sisi Arka! Dia akan bertingkah menyebalkan nanti agar indeks kebenciannya naik. Elina sangat percaya diri sekali jika dia mengikuti Arka dan bertingkah menyebalkan, dia


pasti akan dibenci Arka.


“Kalau begitu ayo ikuti aku.”


Elina bangkit. Dia memakai sarung tangan kembali tapi sebelum itu dia mengambil tabir surya dan mengaplikasikan ulang ke seluruh


wajah dan tubuhnya yang terbuka, lalu memakai kaca mata hitamnya lagi, memakai topi pantai yang bundar dan lebar serta senjata terakhirnya yaitu payung! Ya sekarang dia sudah siap untuk pergi ke ladang.


Warga desa yang melihat Elina semua menjatuhkan rahangnya. Tidak pernah bagi mereka untuk melihat orang yang seperti Elina hanya untuk pergi ke ladang. Pertunjukan ini adalah yang pertama, mereka dan Elina terasa sangat berbeda. Mereka hanya menyiapkan tudung yang terbuat dari anyaman bamboo sangatlah kontras dengan Elina dan barang-barang mewahnya yang ribet.


“Aku siap! Ayo pergi!”


Arka hanya bisa menghela napas saat melihat persiapan Elina yang sama seperti sebelum menaiki gunung. Dia bahkan masih memakai sepatu mahalnya. “Apa kamu akan terus memakai sepatu itu? Nanti akan sangat kotor, ayo ganti ke sepatu olah raga.”


“Tidak mau. Lagian aku juga tidak membawa sepatu olah raga.”


Arka tidak berdaya dan memilih untuk berangkat menyusul warga yang sudah berjalan ke sawah terlebih dahulu. Sementara itu Elina berjalan


di belakang Arka dengan sangat anggun sambil menyenandungkan sebuah lagu. Orang yang melihat persiapan Elina mungkin akan salah paham dan berpikir wanita ini mungkin akan pergi berbelanja ke mall bukannya pergi ke sawah.

__ADS_1


***Mohon bantu author dengan memfollow akun ini. Terima kasih***


__ADS_2