
Matahari semakin naik, tapi rombongan belum juga sampai di pedesaan yang dituju. Sepanjang jalan Elina melihat-lihat pemandangan yang hanya berisi jalan setapak dan pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Dalam gendongan Arka, entah kenapa dia merasa begitu nyaman. Jelas nyaman! Dia tidak perlu repot-repot berjalan dan hanya bisa menjadi beban Arka.
Elina merasa sangat tersentuh hatinya. Sudah lama berjalan menaiki gunung, tetapi kecepatan Arka masih setabil. Dia bahkan tidak kehilangan
napasnya dan terdengar sangat setabil. Tidak terlihat lelah dan sangat kuat.
Apakah ini karena Arka adalah pahlawan pria dan memiliki kemampuan khusus? Atau ini murni karena Arka yang rajin berolahraga sehingga
dengan beban sebanyak ini dia tidak lagi terkejut atau merasa kelelahan.
Elina memandang rambut hitam Arka yang tersisir rapih ke belakang. Dia bisa mencium bau shampoo yang Arka gunakan. Wanginya sangat maskulin dan Elina tanpa sadar terus mengendus.
Merasakan orang di punggungnya bertingkah aneh, Arka bertanya sambil sesekali membenarkan posisi Elina yang kadang melorot, “Apa yang kamu lakukan?”
Elina yang ketahuan sedang mengendus rambut seseorang berubah menjadi sangat merah, wajahnya seperti kepiting rebus. Dia malu-malu
menjawab dengan nada sangat kecil, “Kak Arka wangi. Ngomong-omong apa Kak Arka lelah?”
“Menurutmu?”
“Aku tidak tahu.”
“Tidak lelah,” jawabnya.
“Sungguh? Tidak berbohong? Kalau begitu, apa Kak Arka bukan manusia?”
Sudut bibir Arka naik sedikit. Mendengar pertanyaan konyol ini, siapa yang tidak ingin tertawa? Dia lelah jujur saja. Tapi demi citranya,
dia tidak mungkin mengaku begitu saja pada Elina bahwa dia lelah dan dia hanya manusia biasa.
“Bodoh,” cibir Arka dengan kekehan kecil.
Elina tidak marah saat dikatai bodoh. Malah sebaliknya, dia tambah memerah. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Mungkinkah dia sudah gila?
Dia dikatai bodoh, kenapa kamu memerah?
“Apa aku berat?”
__ADS_1
“Berat.” Arka berkata dengan sejujurnya. Elina memang berat, tapi masih dalam jangkauan Arka dan dia masih kuat untuk membawa Elina naik ke
puncak gunung. Saat berolahraga, bebannya tiga kali lipat dari berat badan Elina. Hanya saja yang membedakan adalah medannya. Saat berolahraga medannya rata dan ber AC sedangkan sekarang medannya naik dan tidak rata yang membuat Arka sedikit kewalahan. Hanya sedikit, catat itu!
Elina tidak suka dengan jawaban Arka. Dengan kata lain laki-laki bau ini mengatai dirinya gendut! Dia tidak terima! Untuk itu dia dengan sengaja menggigit bahu Arka dan mengeluh dengan manja tanpa dia sadari, “Jahat! Aku tidak berat, oke? Katakan aku tidak berat atau aku akan terus
menggigitmu,” ancam Elina sok berani tapi di telinga Arka itu terdengar sangat lucu.
Tunggu! Apa yang Arka pikirkan! Bukankah sebelumnya dia selalu bersikap dingin pada Elina meski tidak menolak secara langsung. Kenapa sekarang dia merasa Elina sangat lucu? Ada apa dengan otaknya!
“Gigit sesukamu.”
Plak!
Elina tidak hanya mengigit, dia bahkan menampar bahu Arka dan merasa kesakitan sendiri karena bahu Arka sangatlah keras. “Kenapa begitu
keras! Tanganku sakit,” keluh Elina.
Arka : “…”
Siapa yang menyuruhnya untuk menampar bahunya. Jelas tidak ada. Elina memang mencari penyakit sendiri dan malah menyalahkan orang lain. Ck! Ck!
menggendongnya tanpa beristirahat.
Dengan perasaan bersalah Elina berkata, “Apakah masih jauh? Haruskah aku berjalan saja? Kakak bisa menurunkanku.”
“Tidak jauh. Kita sudah sampai. Lihat di depanmu masih ada 100 meter lagi kira-kira.”
Mulut Elina ternganga lebar. Kenapa Arka bisa tahu? Apakah dia sudah pernah ke sini sebelumnya?
“Apa Kakak sudah pernah ke sini sebelumnya?”
“Ya. Desa yang kita tuju memang tempat yang biasa perushaanbkita bantu dan aku sudah beberapa kali datang ke tempat itu.”
Elina mengangguk paham. Dia diam dan hanya terus menyandarkan kepalanya di punggung Arka dengan nyaman. Dengan payung yang
sedari tadi dia pakai agar dirinya dan Arka tidak kepanasan karena kini matahari sudah mulai terasa membakar meski belum tengah hari. Elina merasa bangga dengan dirinya. Untung dia membawa payung, kalau tidak, Arka pasti akan
lebih menderita karena sudah kelelahan menggendong Elina ditambah sengatan sinar matahari yang mematikan itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka sampai di desa yang dimaksud. Arka menurunkan Elina di tempat yang datar dan dia duduk bersitirahat sebentar
dan tidak memperhatikan Elina yang membeku di tempatnya.
Mereka masih berada di pintu masuk desa. Tapi Elina sudah merasakan firasat buruk. Pintu masuk desa saja sudah terlihat kumuh seperti
ini, bagaimana keadaan di dalam desa?
Rombongan tidak terlalu lama beristirahat, mereka langsung menuju ke tempat kepala desa. Elina kali ini berjalan mengikuti Arka dalam diam. Meksipun tumit kakinya terasa sakit dan mungkin lecet, dia kali ini tidak ingin mengeluh pada Arka.
“Kenapa kepala desa tidak menyambut kita?” Elina terheran-heran. Bukankah biasanya mereka warga dan kepala desa akan antusias menyambut tamu penting yang akan memberikan donasi dan bantuan kepada desa mereka? Kenapa tidak ada sambutan sama sekali?
Arka melihat Elina yang berjalan sangat aneh. Dia tidak menjawab pertanyaan Elina dan malah bertanya, “Apa kakimu sakit? Mau aku gendong lagi?”
“Tidak perlu. Kak Arka pasti jauh lebih lelah dari pada aku. Bukankah kita sudah dekat.”
“Yah.”
Elina melihat rumah-rumah bobrok yang mereka lewati saat berjalan menuju ke balai desa. Elina mengerutkan alisnya dan tiba-tiba perutnya
bergejolak. Dia mual dan ingin muntah saat melewati kendang sapi yang sangat bau.
“Hoek!”
Elina hanya memuntahkan cairan kuning karena dia belum sarapan.
Arka yang berjalan di depannya berhenti dan langsung berbalik saat mendengar Elina muntah di jalan.
“Kakak perutku tidak nyaman dan aku terus ingin muntah. Pedesaan ini begitu bau! Aku ingin pulang, hoek.” Pelupuk mata Elina basah karena saat dia muntah air matanya juga keluar.
Bulan yang sedari tadi memperhatikan Elina dan Arka pun mendekat. “Ada apa dengan Nona Elina? Kenapa bisa muntah. Apa Anda perlu minyak kayu putih untuk dihirup? Tapi desa ini tidak berbau kok, apa Nona salah penciuman?”
Elina ingin marah. Tidak bau apanya! Jelas-jelas dia bisa mencium sesuatu yang sangat menjijikan. Apa fungsi penciuman pahlawan wanita ini rusak? Kenapa dia bisa dengan santai berkata kalau lingkungan ini tidak berbau.
Elina yang kesal itu tidak akan tahu kalau mualnya bukan karena desa ini bau, tapi karena penciumannya sensitive karena kehamilan. Untuk
saat ini Elina tidak tahu itu.
**Tolong bantu follow akun author. Terima kasih.**
__ADS_1