
Adam meminta bantuan beberapa rekan kantornya untuk mencari ke setiap rumah warga apa ada yang mempunyai baju baru yang belum pernah dipakai untuk Nona Elina. Mereka kira-kira ada sepuluh orang dan mereka menyebar dan menanyai satu-satu ke setiap rumah.
Adam sendiri bertugas untuk membeli sandal atau jika ada keajaiban mungkin ada sepatu di warung. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.
Dengan setengah berharap, Adam pergi ke warung yang jaraknya lumayan jauh dari balai desa. Saat dia sampai di warung dia menghela napas lega. Dia beruntung! Dan Nona Elina juga beruntung, saat melihat dan memindai warung, dia menemukan sandal yang dijual.
Tapi Adam menemui kekhawatiran lain. Berapa ukuran sandal Nona Elina? Dia tadi lupa bertanya! Bahkan sebenarnya dia tidak kepikiran soal
ukuran sendal Nona Elina. Adam jadi merasa gagal menjadi asisten yang cakap untuk calon istri bos di masa depan.
Adam hanya bisa pasrah dan mengira-ira seberapa besar ukuran sendalnya. Yang pasti tidak mungkin terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Adam hanya mengambil yang berukuran sedang. Itu adalah sendal jepit warna merah.
Dia merasa bangga karena sudah menyelesaikan satu misi dan berhasil. Tinggal misi mencari baju lain. Kesenangan Adam meningkat saat salah
satu bawahannya membawa baju baru. Benar-benar sebuah keberuntungan! Misi
mereka akhirnya berhasil.
***
Bulan langsung terdiam dan dia menarik sudut bibirnya yang sebelumnya melengkung menjadi satu garis lurus. Dia melihat tatapan merendahkan dari Elina dan dia merasa sangat terhina. Jika tidak mau memakai pakaiannya
tidak apa, tapi pandangan Elina membuat Bulan sedih. Apa dia semenjijikan itu hingga nona muda ini tidak mau memakai bajunya?
Elina tidak terlalu peduli dengan penilaian Bulan terhadapnya. Sekarang dia masa bodo dengan pahlawan wanita ini. Dia merasa benar-benar muak dan benci kepada Bulan padahal pahlawan wanita ini tidak melakukan apapun padanya. Atau ini adalah kekuatan plot yang membuat Elina membenci Bulan tanpa dasar yang jelas. Entahlah, dia tidak lagi peduli.
Arka di samping yang mendengarkan pembicaraan mereka dengan tenang berkata, “Haruskah aku turun gunung dan mengambil koper?”
Elina tidak menoleh ke Arka sedikitpun dan menjawab, “Tidak perlu. Aku tidak membutuhkan bantuanmu.” Elina berkata dengan nada datar dan terkesan dingin.
__ADS_1
Arka jelas bingung. Kenapa Elina berubah menjadi sangat dingin dan menjaga jarakbdarinya? Mungkinkah dia benar-benar melakukan kesalahan? Tapi apa kesalahannya? Dia benar-benar tidak tahu.
Yang Arka tidak ketahui kenapa Elina menolak tawarannya adalah karena ini sudah jam lima sore dan langit sudah hampir gelap. Jika dia turun gunung yang akses jalannya tidak rata dan dipenuhi hutan di kedua sisi jalan, bukankah itu berbahaya? Maka dari itu Elina menolak tawaran Arka. Dia tidak setega itu untuk membiarkan Arka bolak balik dengan beban berat naik gunung dalam kegelapan.
Elina sudah sedikit sadar bahwa hidup ini tidak harus selalu memakai barang mewah. Dia juga masih bisa menggunakan barang-barang yang kurang mewah. Yah, anggap saja ini adalah pelatihan sebelum dia miskin jika alur cerita berjalan sesuai dengan isi novel. Elina memutuskan untuk belajar menerima keadaan dan tidak memaksakan apa yang tidak ada.
Elina berdiri saat melihat Adam yang sedang berlari ke arahnya sambil membawa kantong plastik.
“Nona! Saya berhasil mendapatkan baju baru dan sandal jepit. Maaf, saya hanya bisa menemukan daster ini dan sandal jepit karena di warung
tidak ada sepatu.”
Elina menerima kantong plastik yang berisi baju dan sandal jepit itu dengan rasa senang. Matanya berbinar. Akhirnya dia bisa mandi dan berganti baju.
Pertama-tama dia melepas sepatunya dan menggantinya dengan sendal jepit. Yah ini terasa lebih nyaman dan luka lecet di kakinya tidak
terkena kain jadi tidak terasa sakit lagi saat berjalan. Dan ukuran sendal jepitnya juga pas di kaki Elina.
“Tidak, Nona. Itu bukan apa-apa. Saya menerima niat baik Nona.”
“Aku tidak menerima penolakan. Pokoknya besok setelah pulang aku pasti akan mengundangmu makan di restoran mewah.”
“Sebenarnya bukan hanya saya yang mencari baju dan sandal. Sepuluh rekan saya juga datang membantu,” kata Adam malu-malu. Dia adalah
seorang pria besar yang jujur dan tidak mau mengambil kredit sendirian. Dia jelas dibantu teman-temannya jadi dia mengatakan apa adanya sesuai fakta.
“Oke. Kalau begitu mari undang mereka semua.”
“Baik, terima kasih. Saya akan memberitahu mereka. Saya permisi.”
__ADS_1
“Begitu, silakan.”
Elina membuka tas ranselnya yang berisi peralatan mandi dan berisi produk perawatan kulit dan wajah. Dia berniat pergi ke kamar mandi tapi sebuah suara terdengar dan membuatnya harus menghentikan aktifitsnya sebentar.
“Apa kakimu terluka? Apa itu sakit?” kata Arka yang sedari kedatangan Adam terus diam tapi memperhatikan tubuh Elina. Apalagi saat Elina
melepas sepatunya yang kotor. Meski kaki Elina kotor, dia masih bisa melihat ada bekas darah dan kulitnya sepertinya lecet. Anak ini biasanya akan mengeluh jika kesakitan, kenapa sekarang dia menjadi diam.
“Itu bukan urusanmu!”
Elina pergi dengan membawa tas ransel dan baju ganti menuju ke belakang bangunan balai desa. Dia tidak tahu di mana kamar mandinya, tapi
dia punya mulut dan dia bisa bertanya pada karyawan wanita yang baru saja mandi.
“Bisa tolong antar aku ke kamar mandi?” Elina menghentikan salah satu karyawan wanita yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan
handuk.
“Mari saya tunjukan.” Karyawan itu jelas gugup. Dia baru pertama kali berbicara dan berinteraksi dengan orang yang katanya akan menjadi
istri bos mereka. Elina benar-benar wanita yang sangat cantik membuat karyawan wanita itu terpesona dan juga iri.
Arka lagi-lagi diabaikan. Dia merasa kesal diabaikan oleh Elina. Kenapa anak itu bersikap dingin padanya? Biasanya Elina akan selalu
bergantung dan bersikap manja padanya. Tapi kali ini, dia sangat mandiri yang bahkan membuatnya kaget. Dia tidak terbiasa dengan sikap Elina yang mandiri tanpa merengek seperti anak kecil padanya.
“Pak Arka, apa Anda baik-baik saja? Kenapa melamun?” Bulan tadinya duduk tidak jauh dari mereka berdua saat Elina menolak tawarannya dia memutuskan untuk duduk dan menenangkan diri. Setelah melihat Elina pergi dengan angkuh, dia tiba-tiba ingin melihat keadaan Arka yang terus diam seperti patung dan pandangannya tajam dan memancarkan hawa dingin. Dia benar-benar tidak tahu kenapa dia begitu ingin selalu dekat dengan bosnya.
Bulan hanya mengikuti kata hatinya dan dia dengan lancang duduk di dekat kursi Arka. Hanya berjarak satu kursi.
__ADS_1
“Bisa menjauh dariku? Aku tidak ingin diganggu dan ingin sendirian. Apa Adam tidak memberitahumu larangan apa saja dan tingkah apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama menjadi sekretarisku? Jika tidak ingin dipecat, jauhi aku. Jika tidak diperintahkan jangan mendekat!”
***Mohon bantu author dengan memfollow akun ini. Terima kasih***