
Saat Elina menyudahi panggilannya dengan Clara, tak lama kemudian ada sebuah ketukan di pintu.
“Masuk!” teriak Elina. Dia bahkan tidak repot-repot turun dari kasur empuknya. Dia masih asik bermalas-malasan di atas sana.
“Nona, kami akan menyiapkan air mawarnya terlebih dahulu. ”Dua peyalan datang dengan membawa kelopak bunga mawar.
“Begitu. Lakukanlah.”
Para pelayan bekerja dengan cepat dan tidak ada sepuluh menit mereka sudah selesai menyiapkan air hangat yang ditaburi dengan kelopak mawar.
“Nona, air sudah siap.”
“Oke. Terima kasih. Kalian sudah bekerja dengan keras.”
“Tidak, Nona. Itu tugas kami. Kami mohon undur diri.”
“Hmm.” Elina hanya bergumam pelan. Dengan rasa enggan dia turun dari kasur dan melangkah menuju kamar mandi. Dia menanggalkan pakaiannya dan siap untuk berendam.
“Ah! Sangat nyaman.”
Elina berendam hanya dalam waktu dua puluh menit. Itu karena suhu air sudah mulai mendingin dan dia juga tidak mau sakit jika berendam
terlalu lama. Dengan cepat dia bangkit dan memakai bathrobenya. Dia keluar dan pergi menuju ruang ganti. Kali ini sama, dia akan menggunakan piyama yang terbuat dari sutra yang berkualitas unggul.
Saat keluar dari ruang ganti, terdengar ketukan lain lagi. Kali ini Elina membukakan pintu dan itu adalah kepala pelayan yang berdiri di depan pintu dengan senyum lebar.
“Nona, ayah dan ibu serta kakak Nona telah menunggu di ruang makan.”
“Begitu. Aku akan turun sekarang. Terima kasih.”
“Terima kasih kembali.” Paman Sam menyingkir agar Elina bisa keluar.
Elina menuruni tangga dengan hati-hati. Dia langsung pergi menuju ruang makan. Di sana semua keluarganya sudah berkumpul.
Tiba-tiba dia ingat dengan plot novel saat melihat wajah ayah, ibu dan kakaknya. Hati Elina masam. Dia tidak ingin keluarganya untuk mengalami kebangkrutan. Elina memiliki ide untuk memberitahu mereka agar bersiap atas kemungkinan kebangkrutan. Ya! Dia mungkin tidak bisa ikut mengurus perusahaan, tapi setidaknya dia bisa mengingatkan mereka untuk mulai menabung dan berhati-hati dalam berbisnis.
“Ayah, Ibu dan Kakak! Kalian sudah menungguku lama. Maafkan aku karena terlambat.”
“Tidak apa-apa. Ayo makan,” kata Pak Teguh. Dia memang sudah lama lapar saat menunggu putrinya untuk turun. Tapi dia tidak mungkin berkata secara gamblang kalau dirinya lapar dan memarahi putri satu-satunya, kan? Itu memalukan.
Mereka semua mulai makan dengan khitmat. Saat sudah selesai tiba-tiba Elina dan Neo berkata dengan bersamaa.
“Ada yang ingin aku bicarakan,” kata Neo dan Elina bersamaan.
“Kalau begitu, kamu dulu saja,” kata Neo.
“Baik. Ayah bagaimana keadaan perusahaan baru-baru ini?”
__ADS_1
“Baik-baik saja.”
“Begitukah? Bagus kalau begitu. Lalu ibu, cobalah untuk mulai menabung dan membeli perhiasan sebanyak mungkin.”
“Untuk apa?” tanya Leila bingung.
“Ya untuk ditabung.”
“Dan juga hati-hati dalam berbisnis, Kak.”
“Ada apa denganmu El, kenapa tiba-tiba kamu tertarik dengan urusan perushaan?” tanya Neo.
“Tidak apa. Aku hanya sedikit takut. Tadi saat tidur siang aku bermimpi kalau perusahaan kita bangkrut,” bohong Elina.
“Ck! Itu tidak mungkin.”
“Baguslah kalau begitu. Lalu apa yang ingin kamu katakan, Kak?”
“Apa kamu pergi ke perusahaan Arka tadi?” Raut wajah Neo berubah. Meski Neo dan Arka bersahabat, tapi dia tidak suka jika adiknya ini terus mengganggu Arka.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Tentu saja aku tahu. Bahkan mungkin sekarang sedang menjadi bahan pembicaraan di lingkaran sosial.”
“Tidak apa.”
“Itu urusanku. Bukan urusanmu.” Elina juga kesal dengan kakaknya yang cerewet.
Melihat pertengkaran kedua anaknya, Pak Teguh dan Ibu Leila tidak berniat untuk melerai. Mereka malah suka keramaian di rumah yang sepi ini. Mereka hanya asik menonton pertunjukan yang tersaji di depan mereka.
“Aku sudah selesai makan. Aku akan kembali ke kamar terlebih dulu. Selamat malam Ayah, Ibu dan … huh! Aku tidak akan memberikanmu salam
selamat malam,” dengus Elina pada Neo.
“Aku juga tidak butuh salammu!” balas Neo tak mau kalah.
***
Pagi yang ditunggu-tunggu Elina akhirnya tiba. Dia tadibmalam menyetel alarm agar bisa bangun pukul lima pagi. Dia ingin bermain seharian ini bersama dengan Clara. Akhirnya kehidupan seorang putri yang biasa ia lakukan akan kembali ke rutinitas Elina. Dia sudah tidak sabar.
Dengan cepat Elina memilih dress rajut yang panjangnya di bawah lutut berwarna merah muda. Dia melewatkan sarapan karena sudah berjanji dengan Clara untuk sarapan bersama. Sebelum melakukan perawatan tubuh.
Saat turun ruang makan sudah kosong dan tidak ada orang. Elina tidak peduli dan terus keluar. Hari ini supirnya sudah stand by di halaman depan. Dia bergegas masuk ke dalam mobil dan mobil melaju menuju ke tempat tujuan.
Mereka akan bertemu di restoran. Saat sudah sampai di depan restoran, Elina melihat sosok yang familiar dari ingatan pemilik aslinya.
Itu Clara!
__ADS_1
Mereka sama-sama baru sampai di depan pintu masuk restoran kelas atas ini. ini pukul 9 pagi dan sudah waktunya untuk sarapan tapi menjelang makan siang.
“Clara!”
“Elina!”
“Kau baru sampai?” mereka berbicara secara bersamaan. Kemudian mereka terkekeh bersama.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Elina.
“Aku baik. Ayo masuk,” ajak Clara sambil menggandeng tangan Elina.
Malam kemarin Elina sudah memesan meja khusus, jadi mereka hanya perlu datang tanpa harus mencari tempat duduk terlebih dahulu.
Karena jenis restoran ini adalah restoran fine dining, mereka makan makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup.
Saat pelayan membawakan makanan pembuka, samar-samar dia mendengar ada keributan di kotak makan sebelah. Itu adalah sebuah suara piring yang jatuh dan pecah.
“Maafkan saya, Nyonya,” pelayan itu membungkuk dan mencoba memint maaf. Pasalnya, sebelum piring itu jatuh, itu sempat mengenai baju seorang pelanggan.
“Minta maaf, katamu? Apa matamu buta? Tidak lihat jika aku mengenakan pakaian yang super mahal ini dan sekarang kotor karena ulahmu!”
“Maafkan saya, saya akan mengganti biaya binatu.” Pelayan itu membungkuk untuk meminta maaf.
“Siapa namamu? Cepat panggil manajermu ke sini aku ingin pelayan ini dipecat langsung!,” teriak wanita muda itu yang bajunya dikotori
oleh salah satu pelayan.
“Nona, mohon bersabar. Itu bukan salah teman saya sepenuhnya. Itu karena Nona berdiri tiba-tiba dan mengagetkan rekan saya.”
“Siapa lagi kamu? Apa kamu juga ingin dipecat? Siapa namamu? Oh, Bulan. Baik, kalian berdua akan dipecat nantinya,” kata wanita itu seenak
jidat.
Sementara itu Elina dan Clara yang menyaksikan seluruh adegan hanya diam. Terutama Elina.
Apa?
Bulan?
Bukankah Bulan adalah nama yang langka? Kenapa Bulan bisa muncul di sini? Apakah wanita itu adalah pahlawan wanita di novel ini?
Elina memperhatikan Bulan lekat-lekat. Mencoba mengingat isi novel dan mencocokan deskripsi fisik Bulan. Sepertinya memang benar, itu adalah
pahlawan wanita di novel ini!
Gila!
__ADS_1
Elina bertemu dengan karakter yang sangat penting lainnya!