Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 36 – Kenapa Pahlawan Wanita Ada di Sini?


__ADS_3

Tok tok tok!


Elina tidak terlalu memperhatikan pintu masuk karena saat ini dia sedang sibuk membaca berbagai komentar di sosial media.


“Masuk!”


Suara rendah Arka terdengar, tapi Elina masih menundukan kepalanya melihat layar ponsel. Tidak sampai suara sepatu hak mendekat dan dia mendongakan kepalanya.


Detik itu juga mata Elina membulat sempurna. Dia kaget! Apakah matanya bermasalah? Kenapa dia bisa melihat seseorang yang seharusnya tidak di


sini?


Itu Bulan!


Kenapa bisa Bulan menjadi sekretaris Arka yang baru. Elina terus memandangi Bulan. Sampai Bulan merasa risih karena tatapan yang Elina


berikan. Elina linglung. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Bulan sudah muncul di sisi Arka dan menjadi sekretarisnya.


Ini tidak seperti dalam novel!


Bulan tidak pernah dikisahkan sebagai sekretaris Arka. Apa yang salah? Apa Arka sudah menemukan Bulan dan memintanya untuk bekerja di sisinya? Kenapa garis waktunya maju secepat ini. Bukankah waktu untuk perusahaannya bangkrut juga akan semakin dekat?


Elina panik! Debaran jantungnya bahkan meningkat.


“Nona, ini segelas susu untuk Anda.”


“Kapan kamu mulai bekerja di sini?”


“Baru hari ini, Nona.”


Elina menolehkan kepalanya dan memandang Arka. Namun sayang orang yang dilihat masih menundukan kepalanya pada dokumen seolah tidak tertarik dengan orang-orang di dalam kantor ini.


“Apakah kamu sekretaris baru Kak Arka?”


“Iya, Nona. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa nona sepertinya sudah mengenah saya.”


“Tidak!” Elina gugup! Dia sangat gugup sampai-sampai nada suaranya meninggi. “Maaf, aku tidak bermaksud berteriak.”


“Ya. Kalau begitu saya permisi.”


“Hmm.”


Elina masih linglung. Pikirannya kosong. Apa yang sedang terjadi? Kenapa semuanya kacau?


“A1. Apa yang terjadi? Kenapa pahlawan pria dan wanita bertemu sekarang? Bukankah itu akan bertemu satu tahun lagi? Kenapa Bulan bisa


menjadi sekretaris Arka?”


“A1 tidak mengetahui alasannya, Nona. A1 hanya mendampingi Anda untuk mendapatkan uang dari sistem. Bukan untuk mengetahui soal alur dan plot.”

__ADS_1


“Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya?”


“Terus bekerja menyelesaikan misi dan dapatkan uang untuk akhir nanti.”


“Lalu berapa tingkat kebencian Arka saat ini?”


“Itu 60 Nona.”


“Hah! Kenapa menurun lagi? Bukankah aku sudah bertindak tidak masuk akal? Seharusnya Arka marah dan benci padaku. Kenapa tingkat kebenciannya malah terus menurun? Ada apa sebenarnya.”


“A1 tidak tahu jawabannya.”


“Ck!”


Elina gemetar. Dia begitu takut saat melihat pahlawan wanita ada di depannya. Dia tidak ingin segera menjadi wanita miskin, oke!


Dia ingin mencari tahu soal Bulan. Untuk itu Elina berdiri dan berjalan ke arah meja Arka.


“Kak! Kenapa kamu mempekerjakan wanita itu?”


Arka mendongak, lalu dia menghela napas lelah. Jelas dia sudah sangat kelelahan karena begadang beberapa hari ini. Tapi Elina malah datang menemuinya dan mengganggunya. Tapi entah kenapa kedatangannya tidak membuat dia


jijik atau kesal. Dia tidak tahu sejak kapan dia mulai memandang Elina dengan cara berbeda.


“Siapa lagi? Kenapa? Ada apa lagi?”


“Aku tidak tahu dia siapa. Adamlah yang mengurus soal perekrutan sekretaris baru.”


Apa?!


Arka tidak tahu siapa Bulan? Bukankah itu konyol? Kenapa Arka masih belum menemukan jati diri Bulan yang sebenarnya padahal orang yang dia cari ada di depan mata. Atau Arka berbohong padanya?


“Aku akan pulang.”


“Minum dulu susunya.”


“Aku tidak mau. Aku akan pulang sekarang.”


“Hmm.”


***


Di sebuah apartemen mewah seseorang sedang sangat marah. Orang itu membanting piring dan gelas hingga membuat pecahan itu berserakan.


“Kenapa Elina ikut campur dengan masalah gosip ini? Artikelnya jadi tenggelam dan tidak popular lagi. Kenapa juga bagian humas kedua perusahaan ikut meneruskan postingan Elina!” teriak Alora pada asistennya yang sedari tadi


berdiri gugup dan ketakutan dengan tingkah brutal Alora.


Baru kali ini asisten Alora melihat kemarahan yang luar biasa. Memang benar orang yang pertama kali menyebarkan gosip adalah dari pihak Alora. Dia juga mencintai Arka dan ingin membuat skandal yang menyudutkan pihak

__ADS_1


Arka dan dirinya. Dia sengaja membayar paparazzi untuk memotretnya diam-diam kemarin. Dan dia sendiri juga yang menulis artikel dan mengirimkannya  ke surat kabar.


Meskipun dia dicaci maki, dia tidak peduli. Asalkan bisa digosipkan bersama Arka. Dia sudah sangat senang.


Meski Arka adalah anak haram. Tapi kemampuannya sangat luar biasa saat berbisnis. Dan yang paling penting adalah wajahnya yang tampan. Alora tumbuh dengan Arka. Dia juga diam-diam mencintai Arka, tapi tidak ditunjukan dengan jelas seperti Elina yang dengan lugas dan tegas menyatakan rasa cintanya.


Apakah Elina dan Arka benar-benar memiliki hubungan? Dia harus memikirkan cara agar mereka tidak bisa dekat dan dia harus menjauhkan Elina dari Arka. Dia tidak mau dan tidak tahan dengan tingkah Elina yang begitu menempel pada Arka. Tapi Elina dilindungi oleh banyak orang. Bagaimana bisa dia menyakiti Elina? Dengan cara apa? Jika kedua keluarga mengetahui kalau Alora akan menyakiti Elina, mungkin keluarganya akan dihancurkan begitu saja.


Anak sombong dan bodoh itu kenapa begitu beruntung bisa disenangi oleh para tetua keluarga. Alora benci Elina.


“Aku tidak peduli dengan uang, yang jelas kalian harus membuat gosip itu kembali viral. “


***


Beberapa hari ini meski Elina kembali pada rutinitasnya sebagai wanita tertua yang kaya tapi nyatanya dia gelisah sepanjang waktu. Dia tidak


tahu dengan plot novel yang sepenuhnya sudah berantakan.


Dia mencoba menenangkan dirinya dengan berpikir kalau ini mungkin sesuatu yang tidak Elina ketahui dan tidak tertulis dalam novel. Ya,


itu mungkin benar.


Saat berpikir demikian, barulah Elina merasa lega. Saat ini dia sedang berada di perpustakaan membaca beberapa novel untuk membunuh waktu.


Beberapa menit kemudian ponselnya berdering. Itu panggilan dari Clara.


Oh! Dia lupa dengan Clara. Seharusnya beberapa hari ini dia memenuhi janjinya untuk berbelanja bersama Clara. Tapi dia sibuk dengan pikirannya soal pahlawan wanita yang tiba-tiba muncul.


“Halo Clara? Aku lupa menghubungi mu. Apakah kamu punya waktu hari ini? Mari kita berbelanja,” ajak Elina terlebih dahulu sebelum Clara sempat menjawab.


“Bagaimana kalau tidak usah berbelanja. Kita pergi ke tempat yang lebih mengasyikan.”


“Ke mana?”


“Ke bar. Malam ini!”


Saat mendengar kata bar, Elina mengerutkan alisnya. Dia tidak suka bar dan baik di kehidupan nyata atau kehidupan dalam novel nyatanya Elina


tidak pernah pergi ke bar. Untuk apa memang? Dia tidak suka tempat bising dan berbau alcohol itu. Sebagai wanita tertua yang harus mejaga citranya, dia tidak boleh asal pergi ke suatu tempat dan mencoreng nama baik keluarga.


“Bolehkah aku menolak?”


“Tidak boleh. Tolong temani aku ke pesta ulang tahun Kak Dimas yang diselenggarakan di bar. Tenang saja, ada tempat privasi yang tidak


terlalu bising.”


Elina ingat, Clara ini juga diam-diam mencintai sahabat Arka yang bernama Dimas.


“Oke.” Elina pasrah. Entah apa yang akan terjadi padanya, tiba-tiba dia mendapat firasat buruk.

__ADS_1


__ADS_2