Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 28 – Diundang ke Kediaman Giandra


__ADS_3

Wow!


Keren! Itu memang pahlawan wanita yang pemberani. Elina tertegun saat melihat Bulan melempar celemek tepat ke wajah pelanggan itu. Wow! Benar-benar berani. Elina kagum dengan keberanian Bulan.


Jika itu Elina, dia pasti akan langsung membungkam wanita itu dengan uang tutup mulut. Tidak perlu berdebat dengan hal-hal yang tidak penting. Cukup lemparkan uang saja dan mari nikmati ketenangan hidup kembali.


Setelah selesai makan, mereka langsung pergi ke salon dan melakukan berbagai perawatan kecantikan. Elina sangat senang karena perawatan kali ini dia ditemani oleh seseorang. Jadi dia tidak perlu kesepian lagi.


Hari ini dia pulang dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya. Tapi senyum itu langsung hilang saat dia bertemu kakaknya lagi.


“Apa kamu sangat bahagia karena pergi menguntit Arka?!” tuduh Neo.


Elina memutar matanya dengan malas. “Tidak! Hari ini aku bermain dengan sahabatku.”


“Apa?! Sudah kubilang untuk menjauh dari dua temanmu itu. Mereka tidak baik! Jangan berteman dengan mereka.” Neo sangat tidak suka dengan Lusi dan Sania. Teman Elina yang mengubah kepribadian Elina.


“Bukan. Aku sudah tidak berteman dengan mereka. Ini Clara. Kakak tahu Clara, kan? Sahabat masa kecilku.”


“Bagus kalau begitu.”


Elina tidak lagi memperhatikan Neo dan ingin pergi ke atas untuk beristirahat. Tapi jalannya terganggu karena dia dihentikan oleh kepala


pelayan.


“Nona, pengawal Keluarga Giandra sudah menunggu di depan pintu.”


“Hah? Lalu apa hubungannya denganku?” Elina bingung. Jadi apa kalau pengawal Keluarga Giandra datang ke sini. Bukankah itu tidak ada


hubungannya dengan dirinya. Dia tidak memiliki janji dengan orang-orang dari Keluarga Giandra, oke!


Kepala pelayan : “…”


Ada apa dengan nonanya ini. Bukankah biasanya jika dia mendengar orang-orang dari Keluarga Giandra datang nonanya akan begitu senang.


Tapi kenapa sekarang responnya seperti ini.


“Apa Nona tidak senang? Biasanya Nona sangat senang dan langsung bersiap-siap untuk pergi ke Villa Keluarga Giandra.”


Elina yang kebingungan : “…”

__ADS_1


Ah! Dia baru ingat sekarang. Itu tidak tertulis di dalam novel tapi dia mendapat kenangan ini dari ingatan Elina dalam novel. Memang setiap satu bulan sekali Elina akan diundang ke kediaman Keluarga Giandra untuk menemani para tetua. Dan Elina yang di dalam novel sangat senang tentang ini karena Arka juga  pasti akan pulang.


Tiba-tiba Elina merasa semangatnya tersedot habis. Dia tidak ingin bertemu Arka jika tidak diperlukan. Tapi dia tidak mungkin menolak.


“Suruh mereka masuk. Aku akan bersiap tapi mungkin memakan waktu lama. Jadi beritahu mereka untuk bersabar menungguku.” Jika tidak sabar maka mereka dipersilakan untuk pergi tanpa Elina. Hehe, itu ide yang bagus, tapi sayangnya Elina harus mematuhi perintah yang satu ini. Dia tidak mungkin tidak menghadiri undangan Kakek Thomas.


Elina mandi dan berganti pakaian sengaja diperlama. Dia ingin datang selambat mungkin. Awalnya dia merasa segar, tapi karena hal ini


dia kembali kuyu seperti pohon yang kekeringan.


Elina benar-benar tidak mau berakting di depan Arka. Berakting manja dan kekanank-kanakan itu sunggguh repot dan membuat kepala Elina pusing.


Mau selama apapun Elina bersiap-siap, saat dia turun, dia masih melihat dua orang pengawal di ruang tamu.


Sial!


Kenapa mereka belum pergi juga. Huh! Elina rasanya ingin menangis tanpa air mata.


“Ayo pergi.”


Kedua pengawal itu saat melihat Elina langsung berdiri dan membungkuk dengan hormat. Dan mereka pun berjalan di belakang Elina sampai


Ini seperti adegan di film action. Memangnya ada bahaya apa sampai menjemput Elina saja harus ada pengawal. Dulu Elina memang kaya, tapi


kemana-mana dia tidak membawa pengawal melainkan membawa pelayan. Itu karena tidak ada yang berani menyakiti Elina. Itu dulu di kehidupan nyata.


Butuh setidaknya satu jam untuk sampai ke daerah Villa Giandra. Tata letaknya tidak jauh berbeda dengan Villa Maharani.


Elina turun dari mobil dan dia langsung disambut oleh kepala pelayan Keluarga Giandra.


“Selamat datang, Nona.”


“Hmm.”


“Kebetulan mereka semua sudah berada di ruang makan.”


“Begitu, terima kasih.”


Ini adalah waktu makan malam dan Elina melupakan sesuatu.

__ADS_1


Hadiah!


Ya, saat mengunjungi tetua yang harus dibawa adalah hadiah. Tapi Elina lupa akan hal ini. bagaimana ini? Haruskah dia pulang dulu dan


mengambil hadiah? Tidak, tidak. Itu sangat melelahkan duduk di dalam mobil selama berjam-jam. Kalau begitu jujur saja pada Kakek Thomas kalau dia lupa membawa hadiah. Yah, jujur itu lebih baik.


Saat masuk, sayup-sayup Elina mendengar orang-orang berbicara.


“Kenapa kamu harus muncul di sini. Sangat mengganggu pemandangan!”


“Bisakah kakek tidak membiarkanmu pulang? Kenapa seorang anak haram bisa seenaknya masuk dan keluar villa ini. Kenapa juga kakek


membiarkanmu bekerja di perusahaan.”


Elina tertegun. Ini pertama kalinya Elina mendengar orang-orang mencemooh Arka. Dan Apa respon Arka, dia hanya diam? Tanpa mebalas


perkataan mereka satupun. Tiba-tiba hati Elina merasa sakit. Kenapa hatinya sakit? Apakah Elina bersimpati kepada Arka atau ini adalah perasaan asli yang masih tertinggal pada tubuh Elina dalam novel.


Kenapa dia ingin menangis saat melihat dan mendengar Arka dipermalukan seperti itu. Kenapa?


Elina hanya berdiri dan di ruang makan itu tidak ada satupun yang menyadari akan kehadiran Elina. Mereka terus saja memojokan Arka dan orang yang dipojokan ini hanya diam.


Tiba-tiba pelupuk mata Elina basah.


Sial! Dia menangis! Dan pada saat Elina menyeka air matanya, kebetulan Arka menoleh dan melihat Elina yang sedang menghapus air matanya.


Elina yang kepergok menangis merasa canggung. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Haruskan dia datang dan membela Arka? Atau berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dan jawabannya adalah Elina langsung datang ke ruang makan dengan langkah anggun. Hal itu membuat orang-orang yang tadinya berisik,


diam seketika.


Aris yang pertama melihat Elina pun berdiri menyambutnya, “Elina sudah datang. Ayo duduk.” Aris menyeretkan kursi untuk Elina duduki. Aris


bersikap baik karena dia tahu ada prospek pernikahan bisnis antara Keluarga Giandra dan Keluarga Maharani. Kalau tidak ada prospek perjodohan, bagaimana bisa kakeknya sangat menyayangi Elina yang merupakan orang luar.


Jika memang benar akan ada perjodohan, jika dia mendekati dan menikah dengan Keluarga Maharani, itu akan memperkuat posisinya sebagai calon Presdir. Tapi sayang, gadis bodoh ini malah terlalu dekat dengan Arka. Hal ini yang membuat Aris tambah membenci bocah haram itu. Kenapa seorang anak haram bisa mendapatkan hal yang ia dapatkan dengan penuh perjuangan tapi jika itu Arka maka dia akan dengan mudah mendapatkannya.


“Tidak. Aku akan duduk di samping Kak Arka.”


Elina tidak bodoh. Dia paham maksud Aris. Tapi dia tidak ingin terlalu dekat dengan Aris karena dia adalah penjahat utama dalam novel ini.

__ADS_1


Melihat calon penjahat brutal ini di masa depan, dia merinding.


__ADS_2