Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 7 – Pahlawan Pria


__ADS_3

Asap panas mengepul di sebuah kamar mandi. Di dalamnya ada sesosok pria dengan bentuk tubuh sempurna, otot perut delapan pak, dada bidang


dan pinggang kecil yang sedang mandi itu membasuh setiap inci tubuhnya seolah-olah sedang membersihkan kotoran yang sangat menjijikan.


Tak lama kemudian pria itu keluar dengan jubah mandi dengan rasa segar. Bertepatan dengan itu suara bel berbunyi. Pria itu berjalan dan membuka pintu. Itu adalah asistennya.


“Bos! Ini pakaian ganti Anda.”


Yang disapa bos itu hanya mendengus pelan dan menerima satu set pakaian ganti. Dia adalah Arka Giandra. Pria itu berjalan kembali ke kamar.


Memindai tempat istirahatnya ini dengan mata dingin.


Ada banyak barang yang bukan miliknya berserakan di bawah. Lebih tepatnya sebuah gaun pendek yang ia robek tadi malam masih tergeletak di atas karpet. Lalu dia melirik ke arah sofa, di sana ada tas wanita yang jelas bukan miliknya. Arka memijat pelipisnya. Tatapannya menjadi tajam dan aura di sekitarnya turun drastis dan terasa dingin. Arka memancarkan aura yang sangat menakutkan saat ini saat mengingat kejadian tadi malam. Ini salahnya! Bagaimana


bisa dia kecolongan. Dia bahkan tidak tahu harus menghadapi adik sahabatnya ini seperti apa nantinya. Dia tidak tahu sama sekali.


Arka lupa untuk membiarkan asistennya membereskan kekacuan ini. Sebelum menghubungi asistennya lagi, hal pertama yang ia lakukan adalah berpakaian.


Setelah berpakaian, dia siap untuk pergi ke kantor. Tapi sebelum dia pergi, dia harus kembali memanggil asistennya untuk hal-hal yang


ditinggalkan oleh wanita itu.


“Adam, apa kamu masih di hotel?” Arka membuat sebuah panggilan.


“Masih, Bos!”


“Kembali ke kamarku dan bereskan kekacauan di sini. Aku akan langsung pergi ke kantor.”


“Baik!” Adam langsung bekerja. Dia memanggil staff yang bertugas untuk membersihkan.


Arka keluar dari kamar khususnya dan diikuti dengan Adam di belakangnya. Dia tidak perlu melihat pemantauan karena dia sudah tahu siapa

__ADS_1


yang berani memberinya afrodisiak. Itu adalah Elina, adik dari sahabatnya sekaligus anak kecil yang sedari dulu terus mengikutinya tanpa bosan.


Adam di belakang Arka merasakan hawa dingin dan membuatnya merinding. Dia ingin bertanya tapi sedikit tidak berani. Tapi jika tidak ditanyakan dia takut malah akan membuat kesalahan. Adam menggertakan giginya dan bertanya, “Bos, akan diapakan tas dan pakaian ini.”


“Hah. Buang pakaian yang terkoyak itu.”


Adam dengan mulut yang ternganga lebar bertanya penasaran. Sebenarnya dia tidak tahu ada kejadian apa dengan bosnya. Dia juga terkejut saat bosnya meminta pakaian ganti dan juga ada pakaian wanita dan tas di dalam


suite. Apakah dewanya yang selama ini berpantang pada wanita dan tidak suka bermain atau mendekati wanita itu akhirnya merasakan nikmat duniawi? Dewi mana yang mampu meluluhkan dewa es ini?


“Kembalikan tasnya ke Villa Maharani dan tambahkan uang 100 miliar. Jangan banyak bertanya.”


“S-seratus miliar? Untuk apa itu, Bos?”


Arka hanya melirik Adam tanpa menjawab pertanyaannya. Berdiri di depan lift dan menunggu lift itu terbuka.


“Begitu.” Adam dengan cepat menutup mulutnya.


selama ini selalu menguntit bosnya akhirnya berhasil melelehkan dewa es ini? Adam agak skeptis dengan pemikirannya.


Bagi Arka, dengan memberikan uang 100 miliar adalah kompensasinya untuk malam pertamanya. Meskipun wanita itu yang membuat  masalah terlebih dulu, tapi tetap saja Arka harus bertanggung jawab. Dan cara dia bertanggung jawab adalah dengan memberikannya uang. Uang bisa menyelesaikan segalanya bukan? Pikir Arka dengan tenang.


Saat memasuki lift, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk.


“Baik, saya akan segera pulang ke villa utama.”


Entah apa yang Arka bicarakan dengan lawan bicaranya di telepon, tapi detik berikutnya Adam mendapat perintah lain.


“Aku akan kembali ke villa utama dan kamu bisa pergi ke perusahaan terlebih dahulu.”


“Siap, Bos!”

__ADS_1


Sekarang adalah waktu makan siang. Dan kakeknya tadi menelpon untuk kembali dan makan siang bersama. Arka tidak banyak berpikir dan langsung bergegas ke villa utama. Kebetulan sopir sudah menunggu di depan pintu hotel.


Saat melewati lobi tadi, banyak pasang mata yang menatap kagum pada Arka. Oh! Salahkan penampilannya yang terlalu sempurna. Dengan


tinggi badan sekitar 190 cm, dan badan yang penuh otot tapi tidak terlalu besar seperti atlit yang membesarkan massa otot. Dia hanya terlihat sempurna dalam balutan jas berwarna hitam. Sesuai dengan wajahnya yang terlihat dingin. Aura yang dikeluarkan Arka adalah hawa dingin yang membuat banyak orang yang menatap tidak berani untuk mendekat atau membuat kontak. Mereka entah kenapa takut.


“Pergi ke villa utama,” titahnya pada supir. Bicara tentang Adam yang tidak mengikuti mobil Arka dan hanya menggunakan mobil lainnya.


Biasanya Adam akan selalu satu mobil dengan Arka. Namun karena tujuan mereka berbeda kali ini mereka terpisah. Biasanya Adam akan membacakan jadwal


hariannya sebagai salah satu direktur di  Perusahaan Giandra yang akan memperebutkan kursi presdir atau presiden direktur.


Dalam waktu satu jam, mobil yang dinaiki Arka memasuki kawasan villa. Dengan lebar dua ribu meter kubik itu membuat mobil harus memutari


halaman yang luas sebelum terparkir di depan pintu villa.


Arka bukan satu-satunya yang datang. Sudah banyak mobil yang terparkir secara berurutan di villa. Tampaknya Arka adalah orang terakhir yang


datang. Tapi meski begitu, dia tidak terlalu peduli.


Sopir membukakan pintu dan Arka keluar dari mobil. Kemudian ada kepala pelayan di depan pintu rumah yang sudah menunggu kedatangan Keluarga Giandra. Sayangnya saat Arka melewati kepala pelayan itu, sikap kepala pelayan itu sangat dingin dan tidak seramah saat menyapa anggota keluarga lainnya. Dia bahkan tidak menyapa Arka. Hanya melirik dan menunduk demi norma kesopanan belaka.


Arka tidak mempedulikan sikap kepala pelayan dan pelayan-pelayan lain di villa ini. Sudah sejak pertama kali dia menginjakan kaki di villa pada umur sepuluh tahun sikap para pelayan terlalu acuh dan dingin. Bahkan mereka tidak menyembunyikan tatapan tidak suka dan jijik hanya karena Arka adalah anak haram yang terpaksa dibawa pulang karena ibu Arka meninggal dan sebelum kematiannya, dia mencari Andre-ayah Arka-dan memohon agar Arka dibesarkan di Keluarga Giandra.


Arka sudah terbiasa dari kecil mendapat tatapan mencemooh. Baik itu dari pelayan maupun dari anggota keluarga lainnya. Arka benar-benar


tidak memperdulikan mereka, toh di villa ini tidak ada satupun orang yang memihak padanya. Dia sudah terbiasa.


Arka melewati kepala pelayan begitu saja dan langsung berjalan menuju ruang makan. Di sana sudah ada banyak orang yang hadir dan


duduk di meja masing-masing. Hanya tersisa satu kursi yang berada di paling sebrang dan paling ujung. Dari aturan tempat duduk saja sudah bisa dimengerti posisi Arka ini seperti apa di mata keluarga. Dia hanyalah duri di mata orang-orang itu.

__ADS_1


__ADS_2