
Di mata Bara, kemunculan Elina yang baru saja keluar dari pintu ruangan istrihatnya itu terlihat seperti gerakan yang sengaja diperlambat. Dan tubuh Elina terlihat memancarkan cahaya terang. Elina benar-benar terlihat sangat cantik.
Elina terlihat sangat berbeda dengan keadaannya kemarin saat Bara menjemputnya. Benar-benar 180 derajat berbeda. Kemarin Bara melihat
tampilan sederhana Elina. Meski sederhana nyatanya Elina masih terlihat sangat cantik. Lalu sekarang dia melihat Elina yang sepertinya berdandan. Terlihat sangat cantik dan begitu anggun.
Sejujurnya Bara hanya bertemu Elina beberapa kali. Kenapa dia bisa jatuh cinta pada gadis kecil ini? dia sendiri juga tidak tahu? Kata orang-orang, jika kau menyukai seseorang tanpa alasan yang jelas, itu bertanda rasa suka itu adalah cinta. Jadi Bara yakin dirinya memang mencintai Elina.
“Kak Bara?” Elina melihat sesosok pria yang dibalut dengan jas tapi tampilannya sudah tidak rapih karena dasinya longgar itu berdiri di dekat Clara yang sepertinya sedang menikmati teh dengan santai.
Elina menyunggingkan senyum manisnya pada bara dan berjalan ke arah Bara tanpa ia sadari. Saat di depan Bara, Elina mengulurkan tangannya
dan membenarkan dasi Bara. Dia benar-benar risih dengan tampilan Bara yang tidak rapih. Mungkinkah ini gangguan obsesif-kompulsif? Tapi dia hanya merasa risih baru saja saat dia melihat dasi Bara yang tidak terpakai dengan benar. Sebelumnya dia biasa saja saat melihat sesuatu yang berantakan. Tapi entah mengapa tadi seperti ada yang mendorong Elina untuk membenarkan dasi Bara.
Bara membeku. Saat tangan halus dan putih itu terulur di depannya dan langsung membenarkan dasinya, itu membuat tubuh Bara kaku dan dia refleks menahan napas.
Untung dia tadi melonggarkan dasinya! Dia benar-benar beruntung. Dia tidak menyangka Elina akan bertindak intim dan perhatian seperti
ini. Apakah jalannya untuk menikahi Elina akan berjalan dengan lancar? Sepertinya begitu. Bara merasa sangat senang dan emosinya kesalnya tadi yang meluap-luap kini hilang entah ke mana dan tergantikan dengan balon-balon merah muda di udara sekelilingnya.
Elina yang fokus membenarkan dasi Bara itu mendongak sedikit dan mendapati tatapan tajam Bara. Gerakannya sempat terdiam. Dia jadi tersadar. Apa yang sedang dia lakukan! Kenapa membenarkan dasi orang tanpa izin?
Clara yang menyangga pipinya dengan telapak tangannya itu tersenyum senang menyaksikan adegan di depannya. Sepertinya misinya berhasil. Haruskah dia pergi sekarang? Dia tidak ingin menjadi obat nyamuk. Tapi jika dia menyela
mereka, mereka mungkin akan merasa sangat canggung. Jadi, mari tunggu sebentar dan kemudian pergi. Batin Clara.
Elina ingin melepas tangannya dari dasi yang baru setengah ia betulkan. Tapi tangannya tertahan oleh tangan Bara yang dengan cepat menangkap
pergelangannya yang akan ditarik itu.
__ADS_1
“Kenapa berhenti? Lanjutkan,” kata Bara terdengar begitu dingin. Dia gugup oke. Dia senang, tapi nada bicaranya tidak bisa ia ubah. Rasanya Bara ingin menampar mulutnya sendiri. Kenapa bisa berbicara begitu dingin!
Elina tidak punya pilihan lain. Jika dia benar-benar menarik tangannya dan tidak jadi melanjutkan membenarkan dasi Bara, bukankah itu akan
sangat tidak sopan? Sebenarnya tindakannya yang tanpa permisi juga sudah bisa dikategorikan tidak sopan. Ini adalah pertama kalinya dia membenarkan dasi seseorang. Tidak! Lebih tepatnya ini adalah pertama kalinya dia dengan
kemauannya sendiri peduli pada seseorang dan melayani orang tersebut. Biasanya dia hanya tau dilayani dan tidak pernah melayani orang lain.
Melayani Arka? Itu sepenuhnya karena tuntutan sistem yang tidak bisa dia tolak!
Elina jadi malu. Pipinya merona dan telinganya memerah. Namun dia tetap melanjutkan membetulkan dasi Bara hingga selesai.
“Terima kasih.”
“Tidak apa, Kak Bara.” Elina menganggap kalau tindakannya ini adalah satu balas budinya karena telah menjemputnya kemarin.
Suasana berubah canggung. Tapi Bara dengan cepat menjauh dari Elina dan duduk ke meja kerjanya sambil bertanya pada Clara, “Jadi kenapa kamu datang ke sini, Cla?”
“Kamu!”
“Tidak, Kak Bara. Kami ke sini, tidak, itu aku yang mengajak Clara untuk datang ke kantor Kakak. Apa Kakak lupa kalau kemarin aku bilang ingin mentlaktir Kakak makan. Kebetulan aku ada waktu siang ini, tapi aku tidak tahu apa Kak Bara bisa makan siang bersama. Maafkan aku karena datang tiba-tiba tanpa membuat janji terlebih dahulu.”
“Tidak. Itu bukan salahmu. Ya, aku ada waktu untuk makan siang.” Omong kosong! Meski sesungguhnya jadwal Bara sangat padat, tapi demi Elina, dia mau dan mampu untuk menunda beberapa hal. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini! Pebisnis yang pintar tidak akan pernah melewatkan kesempatan yang datang dengan suka rela. Dia bodoh jika menolak ajakan Elina.
“Benarkah?” Elina tersenyum senang. Dia bisa segera menebus janjinya dan setelahnya dia akan merasa tenang dan bisa melaksanakan misi
dengan nyaman.
“Ya.”
__ADS_1
“Kalau begitu kita makan di mana?” tanya Clara. Dia masih harus berpikir cara untuk pergi dan meninggalkan mereka berdua itu seperti apa
nantinya.
“Terserah Elina.” Bara melemparkan tanggung jawab memilih restoran ke Elina. Toh itu benar karena Elina lah yang ingin mentraktirnya.
“Kalau terserah aku … bolehkah kita makan di kafetaria perusahaan?” Elina bertanya dengan malu-malu. Dia entah kenapa tiba-tiba ingin makan makanan di kafetaria perusahaan. Sangat ingin makan! Dia tidak tahu kenapa nafsunya
tiba-tiba tidak bisa dibendung dan kemauannya juga agak tidak masuk akal. Tapi dia benar-benar ingin makan di kafetaria!
Yang Elina tidak tahu adalah nafsunya sepenuhnya dikendalikan oleh bayi yang ada di perutnya. Tapi dia tidak tahu itu. Tidak sekarang,
tapi nanti dia akan tahu.
Clara : “…”
Bara : “…”
Permintaan Elina agak sedikit di luar nalar. Mereka tidak akan pernah menyangka kalau permintaan makan gadis ini ternyata di kafetaria
perusahaan. Mereka pikir Elina mungkin akan merekomendasikan restoran Michelin bintang tiga. Yah, setidaknya itu yang biasa wanita muda bangsawan ini makan. Kenapa tiba-tiba ingin makan di kafetaria yang bahkan Bara dan Clara sendiri belum pernah menginjakan kakinya di sana?
Melihat keduanya diam itu membuat Elina merasa sedih dan merasa bersalah. Apakah permintaannya tidak layak. Yah seharusnya itu tidak layak. Tapi dia benar-benar ingin makan di kafetaria tanpa sebab dan jika tidak makan di kafetaria, dia merasa dia akan menyesalinya. Ada dorongan yang begitu besar untuk makan di kafetaria perusahaan.
“Aku akan memasak makanan untuk Kak Bara sebagai permintaan terima kasihku atas kebaikan Kak Bara yang sudah mau jauh-jauh menjumputku kemarin. Bagiamana?” Elina menawarkan hal yang mustahil. Hehe! Sial! Dia menjanjikan sebuah masalah bagi dirinya sendiri. Dia membuat janji yang akan sulit dilakukan. Itu artinya dia akan memasuki dan memasak di dapur untuk kedua kalinya dalam hidupnya. Elina sakit kepala, tapi dia pikir tidak ada yang lebih
tulus daripada hadiah terima kasih lain selain memasakan langsung makanan untuk orang itu daripada mentraktirnya di restoran mewah.
Memasak untuk Bara juga menjadi permintaan maafnya karena sudah meminta hal yang aneh kepadanya.
__ADS_1
“Kalau begitu, makan di kafetaria. Ayo pergi.” Bara beranjak dari tempat duduknya dan memimpin jalan.