Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 74 – Apa Bara Menyukai Elina?


__ADS_3

Clara keluar dari ruangan dan berjalan cepat.


“Clara tunggu!” Dimas mengejar Clara tapi dia dikejutkan oleh sesosok yang melesat melewatinya sepertinya cahaya.


Clara tersentak saat sebuah tangan menarik lengannya. Dia langsung berbalik dan dia pikir itu kekasihnya, Dimas, tapi saat dia melihat orang itu,


alisnya mengerut. Dia tidak suka akan fakta bahwa yang memegang lengannya adalah Arka. Sialan! Ada apa dengan laki-laki ini? Kenapa berani menyentuhnya!


“Lepaskan tangan kotormu! Jangan sentuh aku. Aku tidak mau ternoda dengan anak haram sepertimu.”


Perkataan Clara sangat menusuk hati tapi Arka tidak peduli. Toh dia sudah terbiasa dikatai demikian sejak dia masuk ke dalam Keluarga Giandra. Yang terpenting saat ini adalah mengonfirmasi apa yang ia dengar barusan.


Saat Dimas menyusul, dia melihat pemandangan Arka yang memegang lengan Clara. Tiba-tiba Dimas merasa jengkel. “Lepaskan dia, Arka!”


Arka menoleh ke arah Dimas sekilas dan dia melepas tangannya dari lengan Clara.


Clara langsung mengusap lengannya dengan ekspresi jijik yang tidak ia tutupi sama sekali.


“Apa Bara menyukai Elina?” Arka sangat tidak tenang. Dia tidak bisa mempertahankan wajah dingin dan datarnya. Saat ini entah kenapa dia merasa cemas dan ini adalah pertama kalinya perasaannya berfluktuasi begitu hebat.


“Apakah itu penting untuk menjawab pertanyaanmu?” Clara menatap Arka dengan jijik dan benci.


“Clara. Jawab,” kata Arka dengan aura dinginnya yang mampu membuat nyali Clara tiba-tiba ciut. Sial! Dia merasa terintimidasi dari tatapan dingin Arka.


“Ya! Kakaku menyukai Elina dan keluarga kami sudah akan mempersiapkan diri untuk melamar Elina secepatnya. Ada apa? Apa pedulimu? Setahuku Elina sangat menyukaimu, tapi ternyata kamu lebih memilih wanita miskin itu daripada Elina yang selalu menyukaimu? Haha. Kamu benar-benar tidak pantas mendapat cinta Elina. Bagus, mungkin dalam waktu beberapa bulan kamu akan mendapat undangan pernikahan antara Kakakku dan Elina. Kamu tunggu saja! Anak haram memang benar-benar tidak pantas dikasihani. Selama ini Elina sia-sia memperjuangkan cintanya. Tapi itu tidak apa, aku malah senang sekarang Elina tidak perlu lagi menderita mengejar cintamu. Selamat atas pertunanganmu!”


Setelah mengatakan kalimat panjang lebar Clara berbalik dan pergi.


Dimas yang hanya diam di sisi Clara mencoba menghentikan Clara dan mengikutinya.


“Clara tunggu!”


Clara berhenti dan berbalik. Kemudian dia berkata, “Kak Dimas. Mulai sekarang kita putus. Aku tidak mau memiliki hubungan dengan orang


yang berteman dengan Kak Arka. Jangan ikuti aku. Selamat tinggal!” setelahnya Clara benar-benar pergi meninggalkan Dimas yang kebingungan dan terkejut dan jelas tidak siap dengan serangan mendadak dari Clara.


Dimas berbalik dan melirik Arka yang juga diam di tempatnya. “Ini semua gara-gara kamu. Sialan!” setelah mengatakan itu, Dimas pergi meninggalkan Arka yang masih terdiam di tempatnya.

__ADS_1


Sejak kapan hati Arka jatuh pada Elina? Kenapa saat mendengar mungkin dia akan menikah dengan laki-laki lain hatinya merasa sangat tidak


terima? Selama ini dia memang tidak memberikan respon cinta Elina karena dia sendiri tidak yakin dengan posisinya dan dia merasa rendah diri dengan status kelahirannya. Meskipun Elina tidak pernah mempermasalahkan kelahirannya, tapi


Arka masih ragu.


Arka selalu menganggap Elina sebagai adik kecilnya. Tidak lebih! Tapi kenapa sekarang saat gadis kecil itu berhenti mengganggunya dia merasa kehilangan? Ternyata dia sudah terbiasa dengan Elina yang selalu mengganggunya


dan mentolerirnya dan selalu menganggap itu adalah hal yang wajar.


Apakah sekarang sudah terlambat untuk mengejar Elina? Haruskah dia menemuinya? Tidak. Lebih baik dia menelpon Elina terlebih dahulu. Selama ini dia tidak pernah berinisiatif untuk menghubungi Elina terlebih dahulu.


Arka menelpon Elina, dia menunggu lama, tapi itu tidak terhubung. Mungkinkah Elina mblokir nomornya?


Sepertinya Elina benar-benar berniat menjauh darinya. Mungkinkah Elina merasa lelah karena sikapnya selama ini yang tidak mendapat respon dari Arka?


Arka kembali ke ruangan. Dia berjalan ke arah Verno dan berkata, “Pinjam ponselmu.”


Verno yang sedang minum itu mendongak dengan penuh tanda tanya.”Untuk apa?”


“Oke. Hilangkan wajah menakutkanmu itu. Kamu menggertaku!” kata Verno sambil menyerahkan ponselnya.


Arka menyambar ponsel Verno dan langsung mengetikan nomor ponsel Elina. Dia memanggil Elina dan itu terhubung! Sial! Jadi Elina benar-benar memblokir nomornya.


Pada deringan ke-4 dia bisa mendengar suara lembut yang sudah 1 bulan tidak ia dengar.


“Halo? Siapa ini?”


Arka : “…”


Arka tidak tahu harus berkata apa jadi dia sempat terdiam sesaat.


“Halo? Dengan siapa ini?”


“Ini aku. Arka.”


“Arka? Oh …”

__ADS_1


Tut!


Panggilan terputus. Arka tercengang. Dia tidak menyangka Elina bahkan hanya meresponnya seperti itu dan mematikan teleponnya tanpa menunggu dia berbicara. Arka mencoba menelpon lagi tapi kali ini itu tidak terhubung dan


Arka bisa menebak pasti nomornya di blokir.


Arka mengusap wajahnya dengan gusar. Dia mengembalikan ponselnya pada Verno dan menatap Daniel.


“Daniel, pinjam ponselmu!”


Bulan yang sedari tadi diacuhkan oleh teman-teman Arka itu senang saat melihat Arka kembali. Tapi dia kembali sedih saat Arka bahkan tidak mempedulikannya. “Pak Arka menelpon siapa? Kalau mau, pakai saja ponselku,”


kata Bulan sambil mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan ke arah Arka.


Arka bahkan tidak repot-repot melirik Bulan dan terus menatap Daniel meminta dengan matanya agar Daniel cepat-cepat mengeluarkan ponselnya.


“Ini.” Daniel bekerja sama dengan cepat tidak seperti Verno yang terlalu banyak tanya.


Arka kembali mengetikan nomor Elina dan kembali menghubunginya. Namun sayangnya harapannya terpatahkan saat panggilan itu


terhubung tapi tidak diangkat oleh Elina.


Arka dengan kasar menyerahkan kembali ponsel Daniel. Lalu dia berbalik dan pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun.


Arka langsung menuju ke tempat parkir. Untungnya dia tidak minum alcohol jadi dia bisa mengendari mobilnya. Arka menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Villa Maharani.


Biasanya itu membutuhkan waktu 1 jam dari pusat kota ke daerah villa. Tapi Arka yang ngebut itu hanya membutuhkan waktu 40 menit sampai


dia tiba di depan Villa Maharani.


Mobilnya terparkir di pinggir jalan di bawah pohon besar. Dia tidak berani masuk. Arka keluar dari mobil dan menyandarkan tubuhnya pada mobil. Dia melihat kamar Elina yang gelap. Mungkinkah gadis kecil itu sudah tidur? Arka tahu posisi kamar Elina karena beberapa kali gadis itu berkata soal posisi kamarnya yang tepat di lantai dua dan mengarah ke arah jalan villa.


Arka menatap kamar Elina begitu lama. Dia ingin merokok, dia mengambil rokok yang tersedia di dalam mobilnya dan keluar kembali. Dia mengambil sebatang dan menyalakan rokoknya. Tapi saat rokok sudah menyala dan menghasilkan asap, saat Arka menghirup asap itu dan bau rokok, tiba-tiba dia merasa sangat mual. Sangat mual seperti mabuk kendaraan. Dia bahkan muntah di bawah pohon.


Ada apa dengan dirinya? Apakah dia sakit karena kelelahan selama ini begadang dan kurang tidur dan pola makan yang tidak teratur hingga


asam lambungnya naik? Dia sudah terbiasa sakit perut, tapi tidak sampai mual dan muntah hebat seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2