
Saat Elina bersiap-siap dan menunggu Clara. Tiba-tiba sistem berbunyi lagi.
Ding!
[Misi baru. Berfoto dengan Arka dan memposting di media sosial dengan caption ‘Aku tunangan Arka’ hadiah misi 500 juta. Terima atau tolak.
Misi ada batas waktu yaitu satu hari dimulai dari sekarang. Jika Tuan rumah menerima misi dan gagal maka uang akan hilang dan dikurangkan.”
Elina membeku di depan lemari pakaian. Saat ini dia sedang memilih baju dan dia tiba-tiba melihat bilah notifikasi muncul. Dia membaca informasi dengan cermat.
Haruskah menerima atau menolaknya? Dia tidak punya foto yang diinginkan sistem. Tapi jika dia menolak maka uang 500 juta akan terbuang
sia-sia. Tapi kalau menerima, bagaimana cara berfoto dengan Arka? Haruskah dia ke perusahaan lagi? Tapi hari ini dia sudah berjanji akan berbelanja bersama dengan Clara. Apa yang harus dia lakukan, dia bingung!
Lama berpikir akhirnya Elina memutuskan untuk menerima misi tersebut. Mari coba kita lakukan dulu dan lihat hasilnya nanti.
Elina memutuskan untuk membatalkan rencananya untuk berbelanja. Elina mengambil ponselnya dengan kesal. Kenapa misi harus datang saat dia ingin bersenang-senang? sial!
Elina membuat panggilan yang ditujukan untuk Clara. Dia menarik napas panjang untuk menghilangkan kekesalannya.
“Tarik napas … buang … tarik napas … buang … halo? Clara, kamu sudah sampai mana?”
“Aku masih bersiap-siap. Kenapa? Ada apa?”
“Syukurlah,” kata Elina merasa lega seketika. “Maafkan aku. Sepertinya hari ini kita tidak bisa pergi bersama.” Elina merasa sangat sedih.
“Kenapa?” Ada jeda di ujung sana. Sepertinya Clara kecewa dengan pernyataan Elina.
“Maafkan aku. Aku akan jujur padamu. Sekarang aku ingin pergi menemui Kak Arka. Apa tidak apa-apa jika kita belanja lain kali saja? Aku yang
akan membayar belanjaan di masa depan.” Kebetulan minggu depan dia akan mendapat uang saku lagi. Jadi Elina berinisiatif untuk membelikan Clara sesuatu sebagai permintaan maaf.
“Ah! Kamu akan menemui Kak Arka. Apa kamu akan marah-marah padanya? Haha. Tidak apa-apa. Pergi saja, jangan pikirkan aku. Sungguh! Aku menanti kabar darimu. Pokoknya kamu harus bercerita apa yang terjadi nanti, oke?”
Elina lega saat mendengar suara Clara yang terdengar bersemangat setelah mendengar kalau dia akan bertemu Arka. Memang, yang namanya
perempuan sangat suka bergosip. “Oke! Aku berjanji akan memberitahumu apa yang terjadi nanti. Aku akan menutup telepon. Terima kasih atas pengertiannya.”
“Begitu.”
Panggilan terputus dan Elina lanjut memilih dress yang akan ia kenakan. Dia masih memilih untuk mengenakan sweater dress berwarna abu-abu
muda yang modelnya kasual dan terlihat anggun dan tetap hangat di cuaca yang mendung seperti ini.
__ADS_1
Sekarang sudah hampir pukul 12.00 dan sinar mentari pagi sudah tergantikan dan tertutupi awan mendung yang pekat. Di musim penghujan
seperti ini sebenarnya Elina sangat malas untuk keluar rumah karena takut nanti akan hujan dan badai petir akan datang. Kalau bisa sebenarnya dia hanya ingin tidur di rumah atau menikmati film di bioskop pribadi.
Elina memang sangat mementingkan menjaga bentuk tubuh, tapi jujur saja, dia itu malas untuk bergerak apalagi untuk berolahraga meski di
villa ini tersedia gym pribadi yang dibuat untuk digunakan kakak Elina.
“Nona mau pergi?” Kepala pelayan mengagetkan Elina yang sedang menuruni tangga.
“Ya. Aku lupa untuk bilang pada Paman Sam untuk menyiapkan mobil. Apa sopir masih di rumah?”
“Ya. Tunggu sebentar, Nona. Saya akan menyiapkan mobil sesegera mungkin.”
“Begitu.”
Sepeninggalan kepala pelayan, Elina memutuskan untuk duduk menunggu di sofa ruang tamu. Tak lama kemudian kepala pelayan datang pada Elina dan menginformasikan kalau mobil sudah siap.
“Mobil sudah siap.”
“Begitu, terima kasih.”
Elina berjalan keluar dan langsung masuk ke dalam mobil.
“Pergi ke Perusahaan Giandra.”
***
Elina berjalan ke meja resepsionis. Saat Ayu petugas resepsionis melihat Elina, dia terkejut. Tapi dengan cepat dia memasang senyum ramahnya. Tidak mungkin untuk bertindak sombong seperti sedia kala. Dia sudah tahu kalau
orang ini kemungkinan besar adalah orang yang sangat penting bagi direkturnya. Meskipun
dia sudah membaca berita yang menghebohkan dunia may aitu, dia masih skeptis dan tidak percaya dengan gosip. Dan dia juga kesal kenapa tim humas perusahaan tidak mengeluarkan statement apapun untuk membantah gosip itu.
“Nona, Anda datang?”
“Ya. Bisakah aku bertemu dengan Arka? Aku tidak memiliki janji temu. Bagaimana?” Elina sengaja menggoda petugas resepsionis ini yang sebelumnya meremehkannya.
“Tentu saja bisa, Nona. Silakan, mari saya antar ke lift khusus.”
Karena Elina tidak memiliki kartu identitas karyawan, jadi untuk masuk dan melewati sensor pengaman dia meminjam kartu karyawan dari Ayu.
“Terima kasih.”
__ADS_1
“Tidak, terima kasih. Hati-hati, Nona.”
“Hmm.”
Elina memasuki lift dan langsung menekan tombol ke lantai 20. Saat lift terbuka, kebetulan Adam-asisten Arka-sedang berdiri di depan lift.
“Nona Elina? Kenapa Anda datang ke sini.” Tiba-tiba saja Adam merasa gugup. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Elina. Ini pasti tidak jauh dari berita tadi malam yang menghebohkan dunia hiburan.
Elina keluar dan langsung bertanya, “Apa Kak Arka ada di kantor?”
“Ya. Saya keluar kebetulan untuk membeli makan siang.”
“Bagus. Aku akan pergi ke ruangan Arka.”
“Mau saya antar, Nona?” Adam menyeka keringat di dahinya yang tidak ada.
“Tidak usah.”
“Begitu.”
Elina berjalan menuju kantor Arka dan menjumpai satu sekretaris yang sedang berjaga. Jadi Indah benar-benar sudah dipecat. Misi sebelumnya
membuat seseorang yang tidak bersalah harus dipecat. Elina sedikit menyesal dengan itu. Padahal tanpa Elina sadari, Itu adalah sebuah berkah bagi Arka bisa memecat Indah.
“Nona Elina Anda datang. Selamat datang, Nona.”
“Ya. Aku akan langsung masuk.”
“Silakan.”
Saat Elina berjalan menuju pintu, sistem tiba-tiba berbunyi membuat Elina kaget dan menhentikan langkahnya.
Ding!
[Misi tambahan. Bertindak cmburu dan marah pada Arka. Hadiah yang akan diberikan 100 juta. Tenggat waktu adalah 30 menit. Terima atau tolak?]
Elina sakit kepala. Kenapa sudah ada misi lain. Misi berfoto dengan Arka saja belum terlaksana. Ini ada misi baru yang membuat kepala Elina
terasa pening. Lagi-lagi harus bertindak tidak masuk akal dan marah. Dan kali ini karena gosip di sosial media.
Elina membuka pintu kantor dan mendapati Arka sedang fokus pada dokumen. Pria yang duduk dengan tegak dan kepalanya tertunduk melihat dokumen dengan serius itu terlihat sangat tampan. Elina terpana. Arka seperti bersinar!
Memang benar kata pepatah, laki-laki yang fokus bekerja terlihat sangat tampan. Sama seperti Arka yang saat ini terlihat seperti patung dewa.
__ADS_1
“Kak Arka!”
Arka mendongak dan dia terkejut melihat Elina di dalam kantornya. Arka kira itu asistennya atau sekretarisnya. Tak disangka itu adalah Elina.