
“Oke. Tunggu aku.”
Bara menyimpan ponselnya. Lalu menatap para karyawannya dan berkata, “Hentikan rapat. Kita akan membahas masalah ini besok. Atau kalian
bisa meneruskan rapat dengan asisten Frans dan nanti laporkan kepadaku.” Bara bangkit dan meninggalkan tanggung jawab kepada asistennya.
Kepergian Bara jelas membuat para karyawan merasa lega. Meski rapat akan terus berjalan, setidaknya itu akan dipimpin oleh asisten Frans yang tidak begitu menakutkan. Mereka semua merasa sangat lega dan mereka juga tidak penasaran kepentingan apa yang mampu membuat pangeran iblis ini menunda pekerjaannya. Malah, mereka semua bersyukur dengan kepentingan mendadak yang tidak mereka ketahui itu. Setidaknya kepentingan itu dapat membuat bos mereka pergi.
Elina menunggu sekitar 10 menit di depan pintu supermarket. Tidak di depan pintu persis, itu bisa dikatakan di samping. Dia berdiri di sana karena tidak ada tempat duduk.
“Apa aku membuatmu menunggu lama?” Bara berlari dari tempat parkir bawah tanah ke supermarket. Dia melihat seorang wanita cantik dengan barang belanjaan yang banyak yang ditaruh di lantai itu sedang menunduk bermain dengan ponselnya.
Elina mendongak dan melihat Bara. Senyumnya lansung mengembang dan dia menggelengkan kepalanya. “Tidak lama. Kakak sangat cepat!” menunggu 10 menit tidaklah lama, bahkan itu terhitung cepat. Elina juga tidak menyangka
Bara akan datang secepat itu. Meskipun daerahnya berdekatan, tapi 10 menit benar-benar cepat.
“Kenapa kamu berbelanja di sini?” tanya Bara sambil mengambil 8 kantong plastik dan membawanya masing-masing 4 di tangan kanan dan kirinya. Sementara itu Elina hanya membawa 2 kantong plastik.
Elina terkejut karena Bara bisa membawa beban sebegitu banyaknya dengan kedua tangannya. Benar-benar hebat. Meminta bantuan Bara
mungkin memang tidak salah. “Mulai sekarang aku akan tinggal di sini.”
“Sendirian?”
“Ya! Aku akan mencoba hidup mandiri dan tidak bergantung pada keluarga. Kakak adalah orang pertama yang datang ke tempat tinggalku.”
Bara menyunggingkan senyumnya. Dia benar-benar senang dengan penyataan Elina. Dia adalah orang pertama yang datang ke tempat tinggalnya. “Selain aku, apa ada orang lain yang tahu kamu hidup sendiri?”
“Tidak ada. Aku baru memberi tahu Clara dan Kakak.”
Senyum Bara semakin mengembang. Itu artinya Arka bahkan tidak tahu! Apakah ini sinyal lampu hijau. Meskipun kemarin Elina bilang masih
menyukai Arka, asalkan dia terus berusaha mendekati Elina, mungkin saja Elina akan luluh dan mau menerimanya.
Mereka memasuki lift dan Elina menekan tombol lantai 20. Lift perlahan-lahan naik.
Elina melirik Bara dan bertanya, “Apakah berat?”
“Bohong jika bilang ini tidak berat. Meskipun berat, tapi masih bisa aku angkat. Aku bahkan bisa menggendongmu dengan membawa beban ini.”
“Kakak bercanda. Aku berat.”
__ADS_1
“Tidak berat. Mau coba aku gendong?”
“Tidak.” Elina jelas menolak. Untuk apa Bara menggendongnya, dia tidak kelelahan sama sekali dan sebentar lagi juga akan sampai di lantai apartemennya.
Benar saja, beberapa detik kemudian pintu lift terbuka dan Elina dan Bara keluar dari lift. Elina memasukan kata sandi dan membuka pintu dan
menahannya dan membiarkan Bara masuk lebih dulu.
Bara langsung masuk dan langsung pergi ke dapur lalu meletakan barang belanjaanya di meja dapur. Dia terlihat sangat alami dan tidak canggung sama sekali seolah-olah ini bukan pertama kalinya dia datang ke apartemen Elina. Terlihat sangat natural.
“Aku akan membantumu menata barang-barang ini.”
“Oke, terima kasih.” Elina jelas tidak akan menolak kebaikan Bara. Dia juga tidak ingin membuat dirinya kelelahan.
Mereka bekerja sama dengan kompak dan tidak butuh waktu lama untuk menempatkan barang-barang belanjaan di tempatnya. Seperti sayuran dan makanan yang ditaruh di kulkas dan barang-barang kering seperti bumbu dapur
yang ditaruh di lemari. Dan beras di taruh di tempat beras.
Mereka terlihat seperti pasangan pengantin baru yang berbelanja dan membereskan rumah bersama. Elina mengambil gelas danbmenuangkan jus yang baru dia beli untuk dirinya dan Bara.
“Kakak, minum jus apel ini. Aku membelinya di supermarket. Istirahatlah sebentar di sini sebelum pergi.”
“Tentu tidak.”
“Lalu kenapa perkataanmu seperti sedang mengusirku?”
“Aku tidak bermaksud begitu. Aku tahu Kakak pasti sibuk di perusahaan. Tapi aku malah mengganggu Kakak. Maafkan aku.”
“Kamu memang membuatku menghentikan rapat,” kata Bara dengan sengaja.
Elina terkejut dan langsung merasa bersalah. Alisnya turun dan dia menunjukan wajah sedihnya. “Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau Kakak sedang rapat. Seharusnya aku tidak menelpon Kakak.”
“Tidak! Aku bisa melakukan apapun demi dirimu EL. Jangan merasa bersalah. Kamu bisa membayarku kembali dengan masakanmu. Kamu berhutang dua kali makan padaku.” Bara memang sengaja menjual rasa sungkan Elina untuk
mendekatinya. Dia memainkan trik ini agar Elina terus merasa bersalah dan mau memasakan makanan untuknya beberapa kali lagi.
“Kalau begitu Kakak harus menunggu dengan sabar. Aku perlu belajar memasak dulu.” Sebenarnya Elina belajar memasak juga demi dirinya.
“Aku akan menunggu dengan sabar.”
“Apa Kakak ingin beristirahat dan duduk dulu atau langsung pergi? Aku tidak berniat mengusir Kakak. Jangan salah paham.”
__ADS_1
“Ini sudah hampir waktu makan siang. Haruskah kita makan siang bersama di restoran? Aku yang traktir.”
“Oke. Tunggu aku berganti baju.”
“Tentu.”
Elina pergi ke kamarnya dan berganti pakaian menjadi sebuah gaun. Mungkin Bara akan mengajaknya makan siang di restoran Michelin. Elina tidak memakai riasan dan hanya mengoleskan pelembab bibir karena dia belum membeli skincare dan alat-alat makeup khusus untuk ibu hamil. Dia takut bahan kimia yang ada di produk makeup akan berdampak bagi bayinya.
“Apa Kakak menunggu lama?”
“Tidak. Ayo pergi.”
Benar saja, Bara membawa Elina ke restoran mewah Michelin. Mobil berhenti di depan pintu masuk. Bara turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Elina.
“Terima kasih.” Elina keluar dari dalam mobil dan memandang restoran di depannya. Ini adalah pertama kalinya dia makan di restoran yang
Bara pilih.
Sepertinya restoran ini digunakan untuk tempat orang-orang melakukan diskusi tentang bisnis. Terbukti dengan banyaknya orang-orang dengan
jas rapih serta membawa tas kerja yang mungkin berisi kontrak yang keluar masuk restoran.
“Apa tidak perlu memesan kursi dulu?” Elina takut mereka tidak akan mendapat kursi.
“Tidak apa. Aku sudah termasuk member di restoran ini dan sering membawa klienku untuk mendiskusikan kontrak di sini.”
“Oh.” Benar tebakan Elina. Restoran ini memang tempat yang sering digunakan untuk masalah bisnis.
“Ayo masuk.”
“Ya.”
Saat pintu restoran dibuka, sesosok yang Elina kenal juga keluar dari dalam restoran.
Itu adalah Arka!
Arka melihat Elina dan Elina juga melihat Arka. Tapi itu hanya lirikan sekilas karena Elina pura-pura tidak mengenal Arka dan langsung
membuang muka dan masuk begitu saja.
Arka terkejut dengan pertemuan singkat ini. Dia melihat Elina bersama dengan salah satu saingannya. Kenapa dia bisa bersama dengan Bara? Musuhnya dalam bisnis.
__ADS_1