
Untung mereka memakai sabuk pengaman! Ini karena rem mendadak yang dilkukan Bara kali ini benar-benar mengejutkan Elina dan Clara dan mereka terpental ke depan. Jika tubuh mereka tidak tertahan sabuk pengaman, mereka yakin mereka akan tersungkur ke depan.
“Kakak! Kenapa mengerem mendadak lagi? Ada apa sih?” Clara jelas tidak tahu kalau penyebab Bara mengerem mendadak itu karena omongannya yang membuatnya terkejut. Dia tidak menyangka adiknya ini bisa dengan
blak-blakan bilang kalau dirinya menyukai Elina. Mau ditaruh di mana harga dirinya!? Meskipun
dia akan mengaku nanti, tapi itu bukan bagian Clara untuk berbicara mewakili dirinya.
Bara hanya menatap mereka melalui kaca spion. Kupingnya sudah memerah.
“Cepat jalan!” Clara masih belum sadar dengan apa yang dia ucapkan itu membuat suasana jadi sangat canggung.
Bara mulai menyetir lagi dan suasana di dalam mobil stagnan dan canggung bukan main. Elina tidak tuli dan tidak bodoh, tapi dia tidak bisa
menunjukan reaksi apapun selain diam dan hening.
“Kenapa suasana tiba-tiba canggung?” tanya Clara.
Elina menatap Clara seolah berbicara ‘”Itu bukan karena omonganmu yang membuat suasana canggung!” Elina hanya diam dan membuang muka.
Keheningan dan diamnya Elina jelas membuat Bara sedikit kecewa. Dia berharap gadis kecil ini bisa sedikit menunjukan ketertarikan atau pun menunjukan sesuatu.
Tapi yang tidak Bara ketahui adalah hati Elina saat ini sedang bergejolak. Tidak ada yang memperhatikan kalau telinganya juga memerah
dan detak jantungnya berdetak sangat cepat. Dia malu dan bingung harus merespon seperti apa.
Tapi yang membuat Elina sedih adalah mungkin yang disukai Bara adalah Elina asli dalam novel.
Sekarang jiwa Elina sudah tergantingan dengan jiwanya yang berarti mungkin Bara tidak akan lagi menyukainya. Dan Elina merasa tidak senang dengan fakta ini.
Tapi yang membuat dia merasa sedikit lega adalah setidaknya setelah dia menjalankan misi dari sistem dan bisa terbebas dari Arka, dia
__ADS_1
mungkin bisa mendekati Bara. Tidak ada salahnya mendekati orang tampan! Dan
Bara itu tampan! Temperamennya dingin mirip dengan Arka. Yang membedakan mungkin hanya umur dan status sosialnya saja.
Bara adalah putra mahkota dari Kerajaan Bisnis Keluarga Wijaya, sedangkan Arka hanya pangeran dari anak selir yang tidak diakui atau kasarnya anak haram.
Elina menggeleng pelan. Dia terkejut dengan pikirannya sendiri. Kenapa dia memikirkan Arka di situasi saat ini. seharusnya dia melupakan laki-laki menyebalkan itu. Ya, mari kita lupakan Arka dan fokus pada apa yang ada di depan.
Bara tidak membantah ataupun mengiyakan perkataan Clara. Dia juga sama, dia hanya diam pura-pura bodoh dengan apa yang Clara katakan.
Biarkan nanti saat waktunya tepat dia akan mengutarakan sendiri perasaannya.
***
Sementara itu di pihak Arka, suasana dalam bis membeku dan terasa sangat dingin. Para karyawan tidak berani membuat suara atau bahkan mereka tidak berani untuk mengobrol. Mereka takut kalau mereka menimbulkan suara, itu akan membuat patung dewa yang duduk sendirian dengan wajah dinginnya menjadi marah.
Jelas saat berangkat dia duduk dengan seseorang di sampingnya. Tapi saat ini apa? Wanita itu kabur dan pulang terlebih dahulu tanpa
Elina tidak pernah memberikan tatapan menjijikan atau merendahkan asal usul kelahirannya dan Arka berterima kasih akan hal itu. Hanya sebatas itu Arka dulu menganggap Elina sebagai adiknya sendiri karena Kakak Elina juga merupakan
salah satu teman dekat Arka yang juga tidak menganggap rendah Arka.
Arka benar-benar berterima kasih pada Keluarga Maharani yang tidak menunjukan rasa penolakan seperti yang keluarga besar di ibu kota lain
lakukan terhadapnya dulu. Sekarang mereka masih membenci asal usunya tapi tidak terlalu ditunjukan karena mungkin mereka takut dengan dirinya yang sekarang sudah berubah.
“Pak, apa boleh saya duduk di dekat Bapak?”
Pertanyaan Bulan jelas membuat rekan-rekannya terkejut karena keberanian pegawai baru ini. Apa wanita itu buta? Tidak bisa melihat dan tidak bisa membaca situasi. Meskipun wanita itu tidak buta, tapi status apa yang Bulan miliki hingga berani duduk di dekat bosnya?
Laura yang melihat Bulan rekan sekretaris barunya jelas mengernyit tidak suka. Dulu Indah juga secara aktif mendekati bosnya dan tidak tahu malu secara terang-terangan menunjukan rasa sukanya. Dulu mereka hanya diam karena
__ADS_1
Indah memiliki backingan yang kuat karena salah satu pamannya merupakan salah satu dewan direksi perusahaan. Tapi memang siapa Bulan? Apa dia juga memiliki backingan yang kuat.
Arka bahkan tidak menoleh saat mendengar suara yang sudah dia hafal saking seringnya wanita ini mendekatinya. Dia ingin segera memarahi Adam kenapa bisa memilih sekretaris yang tabiatnya sama seperti Indah dulu.
Arka sudah dibuat sakit kepala dengan memikirkan Elina, sekarang dia jelas mengeluarkan aura yang seolah berkata “Jangan dekati aku, kalo tidak kamu akan habis!”
“Bulan, kamu bisa duduk denganku atau duduk sendirian. Kursi belakang sini masih banyak yang kosong,” kata Laura membaca situasi dengan
cepat dan dia datang seolah menyelamatkan Arka tepat waktu.
Bulan melihat ke arah Arka yang sedang memejamkan matanya. Dia sendiri juga kaget dengan apa yang baru saja dia lakukan. Kenapa dia begitu berani. Bulan merasa seolah tubuhnya dikendalikan oleh orang lain dan dia beberpa
hari ini bertindak tidak sesuai dengan kemauan dirinya sendiri. Dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.
“Aku tidak bisa duduk di belakang. Aku mabuk perjalanan.” Bulan harus mencari alasan yang jelas untuk menormalkan tindakannya yang menganggu Arka itu. Seolah-olah dia ingin duduk dengan Arka itu semata-mata karena kebetulan kursi Arka tepat di belakang sopir.
Tapi semua karyawan memiliki otak dan tidak bodoh. Jelas mereka meliki pendapat yang negative tentang Bulan ini.
“Kamu kan bisa duduk dengan asisten Adam. Dia juga kursinya ada di sebelah Park Arka persis. Kenapa kamu tidak bertanya pada asisten Adam
dan malah bertanya pada Pak Arka?”
Bulan mati kutu. Dia kalah telak dan merasa sangat tertohok. Memang benar, alibinya tidak bisa digunakan saat ini karena tepat di sebelah
Arka, Adam juga duduk sendirian. Dan kursinya juga di depan.
“Itu …” Bulan tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk membantahnya.
“Kamu duduk di belakang. Aku tidak mau duduk dengan seseorang,” kata Adam langsung menyela sebelum Bulan menargetkan dirinya, Adam sudah membentengi dirinya sendiri agar tidak diganggu.
Bulan malu. Dia akhirnya berjalan ke kursi belakang dengan susah payah.
__ADS_1