
Elina bangun siang. Itu mungkin pukul 9 pagi. Dia dengan malas duduk dan mengambil ponselnya. Dia sebenarnya jarang bermain ponsel karena dokter mengatakan radiasi dari ponsel tidak baik untuk kesehatan anaknya. Jadi selama ini Elina selalu mencoba menjauh dan tidak bermain ponsel.
Selama ini dia lebih sering membaca dan menyulam. Dia juga pergi ke kelas memasak dan kelas untuk ibu hamil.
Elina melihat ponselnya karena tadi ponselnya bergetar. Sepertinya ada pesan yang masuk dan saat dia mengeceknya. Benar saja, itu pesan masuk dari Bara.
Bara : [Kamu masih berhutang memasakanku makanan, El. Aku menunggu makananmu selama 3 bulan. Bukankah itu terlalu lama?]
Elina menyungginggkan senyumnya. Dia memang lupa kalau dia memiliki janji untuk memasakan orang lain makanan.
Elina dengan cepat mengetikan balasan.
Elina : [Aku akan memasakan makan siang hari ini. Tunggu saja, Kak.]
Tidak lama kemudian balasan datang.
Bara : [Oke. Aku menantikannya. Sangat menantikannya.]
Elina meletakan kembali ponselnya dan turun dari kasur. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan turun ke bawah untuk sarapan.
Sarapan terlambat kali ini hanya sebuah roti bakar dengan selai coklat. Elina sangat ingin makan roti dengan selai. Elina sudah terbiasa dengan keinganan yang tiba-tiba dan kadang tidak masuk akal. Kata buku yang ia baca soal kehamilan itu dinamakan menyidam.
Elina menghabiskan 3 tangkup roti bakar. Yah, itu porsi yang lumayan. Tidak ada yang menegurnya jadi itu tidak masalah.
Elina melihat ruangan yang sepi. Ayah dan kakaknya pasti sudah lama pergi ke kantor. Dan ibunya? Itu mungkin sedang berada di rumah kaca atau entahlah, Elina tidak begitu peduli.
Setelah sarapan, Elina bangkit dan berjalan memasuki dapur.
“Nona! Kenapa masuk ke dapur?” Paman Sam yang kebetulan melihat Elina itu jelas terkejut. Dia masih trauma dengan kejadian masa lalu saat nona mudanya pertama kali memasuki dapur. Itu sangat berantakan seperti kapal pecah. Dan sekarang nonanya sedang hamil, dia takut nonanya jika memasuki dapur akan melukai dirinya sendiri.
“Aku akan memasak,” kata Elina dengan polosnya.
Itu wajar jika orang-orang terdekatnya meragukan kemampuan memasaknya karena dia memang tidak memberitahu keluarganya kalau dia telah
melakukan kursus memasak. Dan Elina sekarang sudah bisa memasak beberapa hidangan.
“T-tapi Nona. Itu …”
“Aku sudah bisa memasak. Paman tenang saja.”
__ADS_1
Paman Sam jelas tidak bisa tenang. Itu bisa terlihat jelas dari ekspresi ketidakpercayaannya. Dia mengikuti Elina masuk ke dapur.
Elina terdiam di tengah jalan. Dia bingung. Kira-kira masakan apa yang harus ia masak? Dia tidak tahu selera Bara. Haruskah dia memasak makanan local? Atau makanan khas barat? Elina benar-benar dilema.
“Paman, sebaiknya aku memasak apa?” Elina ingin mencoba mendapat nasehat dari orang lain.
“Untuk siapa Nona akan memasak? Apa akan diberikan kepada orang lain? Nona, ayolah jangan membuat Nona lelah. Perintahkan saja koki untuk
memasak. Itu sama saja. Nona sedang hamil, mohon ingat itu.”
“Kalau begitu aku akan bertanya kepada Clara.” Elina berbalik dan meninggalkan Paman Sam. Dia tidak mengambil hati nasehat kepala pelayan itu.
Elina kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya. Dia akan bertanya pada Clara kira-kira makanan apa yang Kak Bara suka.
Elina menelpon Clara.
“Halo?”
“Halo, Clara … apa makanan favorit kakakmu?”
“Kenapa kamu bertanya?”
“Benarkah?” Clara di ujung sana sangat senang dengan kabar yang diberikan sahabatnya ini. Sudah 3 bulan Clara tidak bertemu dengan Elina. Mereka bahkan tidak saling menghubungi. Apakah diam-diam hubungan antara sahabatnya
dan kakaknya itu mulai berkembang? Clara benar-benar bahagia. Tapi dia masih tidak tahu kalau Elina hamil. Jika dia tahu, mungkin dia akan langsung pingsan.
“Hmm.”
“Tunggu sebentar. Aku tidak begitu tahu, kakakku sepertinya pemakan segalanya. Haha! Apapun akan dia makan jika itu dimasak olehmu El. Terserah kamu saja.”
Elina sakit kepala. Bertanya kepada temannya bukannya mendapat jalan keluar malah yang dia dapatkan adalah kebingungan lain. “Bertanya
kepadamu sangat sia-sia. Aku menyesal.”
“Hahaha. Aku benar-benar tidak tahu. Kenapa kamu tidak bertanya kepada kakakku langsung saja?”
“Kamu benar. Tapi itu sama saja bukan kejutan namanya.” Elina bisa saja bertanya langsung pada Bara, tapi itu tidak akan mengejutkan
Bara nantinya.
__ADS_1
“Jadi kamu ingin mengejutkan kakakku? Wah! Ada apa ini? Apa kamu menyukai kakakku? Kenapa harus memberinya kejutan segala? Haha …” Clara terdengar sangat senang.
Elina : “…”
Elina tidak bisa berkata-kata. Dia hamil dan dia tidak terpikirkan untuk mencari suami. Terlebih, mungkinkah akan ada laki-laki yang menerimanya dan anaknya? Elina jelas tidak percaya akan ada laki-laki yang mau menerima kekurangannya. Jadi dia benar-benar berniat untuk membuka usaha dan membesarkan anaknya sendirian tanpa harus repot-repot menikah dengan laki-laki yang
mungkin tidak akan menerima anaknya dengan tulus. Elina hanya menganggap Bara sebagai kakaknya dan tidak lebih.
“Sudahlah. Menelponmu tidak ada gunanya. Kalau begitu aku tutup.”
Elina turun sambil memikirkan menu apa yang harus ia masak. Akhirnya saat dia sampai di dapur, sebuah menu sudah ia pilih. Dia akan memasak nasi goreng dengan toping daging kepiting. Itu pasti akan sangat enak.
Selama kehamilan, Elina sudah makan seafood dengan takaran yang pas dan cara memasak yang benar sesuai anjuran ahli gizi. Daging kepiting sangat bermanfaat bagi pertumbuhan otak pada si kecil, jadi Elina lumayan sering
makan daging kepiting sekitar satu minggu sekali dengan tidak lebih dari 170 gram saat memakannya.
Beruntung di villa selalu tersedia bahan masakan yang kumplit. Mulai dari bahan makanan laut hingga bahan makanan gunung. Villa menyediakan itu dan sangat memudahkan Elina untuk memasak.
Elina menyiapkan menu utama nasi goreng dengan toping daging kepiting dan makanan penutup yang berupa pudding labu.
Untuk memasak itu membutuhkan waktu lama. Kali ini Elina tidak lagi didampingi oleh koki keluarga. Tapi Paman Sam masih setia berdiri di
samping menjaga nonanya siapa tahu jika akan ada kecelakaan yang terjadi. Paman Sam lebih seperti induk ayam yang menjaga anak yang baru menetas itu. Menjaga dengan sangat waspada dan sangat berbeda dengan Elina yang santai.
Pukul 11 Elina selesai memasak. Dia berbalik dan menghadap Paman Sam yang sangat setia menemani Elina dalam diam.
“Paman, tolong siapkan mobil.”
“Siap, Nona. Saya sendiri yang akan mengantar Nona pergi. Ngomong-omong, Nona akan pergi ke mana?”
“Perusahaan Wijaya.”
“Oh. Saya kira Anda memasak untuk ayah dan kakak Anda.”
Elina menghentikan kegiatannya mengemas masakannya ke dalam wadah dan menatap paman dengan polos dan berkata, “Mereka bisa makan di kafetaria perusahaan.”
“Nona, Anda begitu jahat.”
“Tidak apa. Makanan kafetaria tidak seburuk itu. Aku sudah pernah memakannya di Perusahaan Wijaya.”
__ADS_1
Paman Sam diam-diam mengerutkan alisnya. Lagi-lagi itu Perusahaan Wijaya, apa nona mudanya jatuh cinta kepada putra mahkota Keluarga Wijaya? Bara Wijaya? Yah, itu lebih baik daripada jatuh cinta dengan Arka.