Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 67 - Elina Hamil! 2


__ADS_3

Paman Sam datang dengan lima pelayan dan dia membawa kursi roda.


Elina yang masih memejamkan mata dan tidak berani membuka matanya itu dipindahkan ke kursi roda. Untung saja di villa ada kursi roda yang


tersedia.


Paman Sam mendorong kursi roda menuju lift. Ya, villa ini juga terdapat lift untuk memudahkan hal-hal darurat seperti ini.


Elina yang masih memejamkan mata dengan cepat dipindahkan ke dalam mobil dan setelah itu mobil berjalan menuju rumah sakit.


“Jangan pergi ke rumah sakit keluarga. Pergi ke rumah sakit lain,” kata Elina. Dia tidak ingin kabar dia sakit terdengar oleh keluarganya. Kalau keluarganya tahu, itu pasti akan sangat heboh. Pasalnya, selama 23 tahun Elina hidup, dia


tidak pernah sakit parah dan sampai masuk ke rumah sakit. Jika dia dibawa ke rumah sakit milik Keluarga Maharani, dia takut itu akan langsung dilaporkan ke orang tuanya dan kakaknya. Elina tidak ingin membuat keributan.


Sebenarnya Elina takut karena ini adalah pertama kalinya dia mengalami hal-hal menyakitkan dan tidak nyaman ini. Dia takut kalau mungkin saja dia mengidap penyakit yang serius. Elina benar-benar khawatir dan takut.


“Baik, Nona.” Kepala pelayan yang ikut mendampingi dan duduk di co-pilot itu memerintahkan sopir untuk membawa Elina ke rumah sakit pemerintah. Dia juga paham dengan keluarga ini, jika nonanya dibawa ke rumah


sakit milik keluarga lain, dia juga takut itu akan menimbulkan gosip di lingkaran elit. Maka dari itu rumah sakit umum milik pemerintah adalah jalan


keluar satu-satunya. “Bawa Nona ke rumah sakit umum pemerintah.”


“Siap!”


Itu membutuhkan waktu dua jam untuk berkendara dari villa ke rumah sakit umum. Kalau saja itu ke rumah sakit milik keluarga tidak akan memakan waktu begitu lama karena macet. Ya, sekarang memang sore hari waktu jalan sedang macet-macetnya karena waktu jam pulang kerja.


Saat mobil sampai di depan IGD, Elina langsung dibawa masuk ke dalam ruangan. Paman Sam memerintahkan dokter untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh karena ini adalah pertama kalinya nonanya diperiksa di RS


umum. Kalau itu di RS milik keluarga, pemeriksaan menyeluruh tidak diperlukan

__ADS_1


karena setiap bulan nonanya juga melakukan pemeriksaan rutin, jadi pihak RS keluarga sudah memiliki riwayat pemeriksaan. Tidak seperti di RS umum ini yang baru pertama kali dikunjungi nonanya.


Sesuai permintaan Paman Sam, Elina melakukan pemeriksaan menyeluruh terlebih dahulu. Itu memakan waktu 30 menit untuk mendapatkan hasil tes darah.


Dokter mendekati Elina dan menjelaskan situasinya.


Elina yang sudah tidak terlalu pusing itu membuka matanya dan menatap dokter wanita yang berdiri di sisi ranjang.


“Bagaimana hasilnya. Apakah saya sakit parah?”


Dokter itu tersenyum ramah dan mulai membuka lembar hasil pemeriksaan. “Nona, keluhan yang Anda alami itu wajar bagi ibu hamil.”


“Jadi aku tidak sakit parah. Tunggu! Apa?!” Elina merasa dia salah dengar. Apa yang dokter ini katakan.


Dokter itu kembali menjelaskan dengan sabar. “Kehamilan trimester pertama memang akan membuat ibunya mengalami rasa mual dan lemas.”


“Apakah Nona tidak tahu kalau Anda sedang hamil? Itu sudah satu bulan menurut pemeriksaan darah.”


Elina membulatkan matanya. Ini seperti dia tersambar petir di siang bolong!


Tidak hanya Elina yang terkejut, Paman Sam bahkan sudah membatu di tempatnya saat ikut mendengarkan laporan dari dokternya. Apa nonanya hamil? Tapi bagaimana bisa hamil? Bagaimana bisa?


“Bagaiamana Nona saya bisa hamil? Nona bahkan belum me-“ Paman Sam dengan cepat menutup mulutnya dan tidak melanjutkan kata-katanya. Ini adalah tempat umum, dia tidak bisa mengekspos kalau nonanya hamil sebelum menikah. Tapi yang membuat dia bingung adalah bagaimana nona mudanya bisa hamil? Dengan siapa dan bagaimana? Nonanya sangat dijaga selama ini dan aturan serta etiket bangsawan seharusnya mampu membuat nonanya menjaga diri dan tahu batasan dalam bergaul. Bagaimana jika kabar kehamilannya yang di luar nikah ini tesebar ke lingkaran elit.


Itu bukan pertanyaan yang harus dipusingkan karena yang terpenting yang sekarang harus ditanyakan adalah nonanya hamil dengan siapa? Pria mana yang berani membuat nonanya hamil di luar nikah!


“Haha! Apa aku hamil? Haha …” Elina tidak bisa percaya dan dia tertawa dengan sarkas menertawakan berita tidak masuk akal yang dia dengar barusan. Apa? Dirinya hamil? Omong kosong macam apa itu.  Dia bahkan belum menikah dan tidak melakukan hal-hal itu.


Tunggu!

__ADS_1


Hal-hal itu! Ya dia sudah melakukannya dengan Arka! Sialan!


Apakah ini kekuatan pemeran utama pria? Hanya melakukan satu malam tapi bisa langsung membuahkan hasil?


Elina menepuk kepalanya. Dia bodoh! Kenapa dia tidak meminum obat setelah melakukan itu! Kenapa dia tidak kepikiran dan dia tidak memperhatikan jadwal menstruasi dirinya.


“Aku hamil? Sudah satu bulan? Haha …” Elina berbicara sendiri yang berhasil membuat dokter wanita itu kebingungan.


“Aku hamil ya? Yah, aku hamil … hiks, hiks.” Elina tiba-tiba menangis. Dia tidak tahu menangis sedih atau malah bahagia. Berita ini seperti pedang bermata dua yang di satu sisi melindunginya dan sisi lain malah menyakitinya.


“Kalau begitu Nona bisa beristirahat di sini untuk


observasi. Kalau dalam dua jam masih lemas dan masih tidak bisa makan, maka Nona bisa mendapatkan infus. Kalau begitu saya permisi.” Saat melihat Elina yang menangis, dokter wanita itu mengira kalau wanita muda ini tidak tahu kalau dirinya hamil dan merasa terharu saat mendengar berita tentang kehamilannya makanya dia menangis. Dokter wanita itu tidak memeriksa Elina lebih lanjut dan meninggalkan bilik Elina karena dia harus memeriksa pasian lain yang lebih darurat.


Elina tidak memperhatikan dokter yang sudah pergi. Saat ini otaknya sedang dipenuhi dengan pemikiran untuk masa depannya dan apa yang harus dia lakukan.


Elina sangat bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


“Nona, bagaimana Anda bisa hamil? Dengan siapa Nona melakukannya?” Paman Sam sangat berani bertanya demikian pada Elina karena dia sudah dari kecil berada di sisi Elina dan menyaksikan nonanya ini tumbuh dan berkembang. Jadi saat mendengar berita kehamilan nonanya, dia seperti orang tua yang akan mengalami serangan jantung. Itu sangat mengejutkan dan menyedihkan. Tidak ada kegembiraan dan kebahagiaan sama sekali. Ini karena nonanya belum menikah! Jadi bagaimana


dengan reputasinya nanti.


“Hiks, hiks, aku tidak tahu. Hiks, hiks, jangan beri tahu kakak dan orang tuaku. Jika mereka tahu, mungkin mereka akan membunuhku. Hiks,


hiks.”


Elina benar-benar tidak merasa bahagia saat mendengar berita yang seharusnya membahagiakan ini. Dia malah sedih dan bingung. Bagaimana cara dia untuk memberi tahu orang tuanya dan kakaknya?


“Haruskah aku menggugurkan kandungan ini?”

__ADS_1


__ADS_2