Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 87 – Jadi Apa Itu Anakku?


__ADS_3

“Oke. Penjelasanmu sudah cukup. Kamu bisa pergi dan pulang,” kata ayah langsung mengusir Arka.


“Tapi?”


“Cepatlah keluar dari sini. Aku sudah tidak tahan melihatmu!” seru Neo benar-benar bosan melihat Arka.


“Paman aku ingin berbicara dengan Elina. Tolong beri aku kesempatan untuk mengobrol dengannya.”


Ayah menatap Elina meminta jawabannya. Dia tidak bisa benar-benar menolak permintaan Arka. Toh ayah sebenarnya percaya kalau anak yang dikandung Elina itu mungkin juga anak Arka. Dan dia tidak mungkin menghalangi pengejaran Arka karena dia tidak ingin Elina memiliki reputasi yang semakin buruk. Akan lebih baik kalau bayi yang dikandung Elina memiliki ayah.


Elina yang mendapat tatapan bertanya dari ayah menghela napas lemah dan berkata, “Baiklah. Mari kita bicara. Ayah, Ibu dan Kak Neo bisa


beristirahat terlebih dahulu.”


“Tapi Elin! Kakak tidak setuju kamu berduaan dengan Arka.”Neo masih tidak mau membiarkan adiknya dekat dengan Arka. Saat Neo masih ngotot melarang Elina tiba-tiba saja dia mendapat panggilan dari asistennya dan Neo terpaksa pergi ke ruang kerjanya. “Jangan buat adikku sedih. Atau aku akan berurusan denganmu!” ancam Neo pada Arka.


“Neo tenang saja.”


Neo dengan enggan pergi ke kamarnya untuk mengurus masalah bisnis.


“Oke kalau begitu kalian bisa berbicara. Ibu dan Ayah akan pergi beristirahat terlebih dahulu.” Ibu menyeret ayah dan mereka bergandeng


tangan naik ke lantai dua untuk beristirahat.


Elina tidak berbicara dan Arka juga tidak berbicara. Keadaan jatuh pada titik canggung.


“Aku mau pergi keluar untuk berjalan-jalan mencerna makanan. Apa Kakak mau ikut?” tanya Elina sambil mengelus perutnya.


Pandangan Arka jatuh pada tangan putih Elina yang mengelus perut yang sudah membesar itu dengan penuh kasih sayang. Tiba-tiba dia juga


ingin menyentuh perut Elina.


“Tentu! Mari kita berbicara di taman.”


Elina memimpin Arka untuk pergi ke taman belakang vila yang meskipun hari sudah malam tapi taman tetap terang benderang jadi Elina tidak


takut akan jatuh atau tersandung sesuatu.


“Jadi apa yang ingin Kakak bicarakan.”


“Mari kita duduk dulu.”


Kebetulan ada kursi di taman. Elina patuh dan duduk. Begitupun Arka yang langsung duduk di samping Elina.


“Elin, kenapa kamu berhenti mengejarku? Aku tahu kamu dulu sangat mencintaiku. Jadi kenapa kamu berhenti?”

__ADS_1


Elina tidak menduga kalau Arka akan memberikan pertanyaan ini. Elina tidak mungkin menjawab kalau ‘Kamu adalah pahlawan pria dalam novel dan aku adalah penjahat yang akan menderita di akhir jadi aku harus menjauh darimu’ Elina tidak mungkin menjawab dengan itu.


“Aku lelah,” kata Elina.


“Apa karena aku tidak kunjung meresponmu?”


“Itu benar. Jujur saja, Kak Arka juga tidak akan menaruh perhatian padaku jika aku tidak hamil, kan?”


“Itu …” Itu memang benar. Arka sebelumnya memang tidak benar-benar memberikan kepastian akan pengejaran Elina. Paling-paling dia hanya memperlakukan Elina sebagai adiknya sendiri karena sejak kecil Elina sudah mengejarnya.


“Itu tidak benar. Jujur saja setelah kamu berhenti


mengejarku dan menggangguku, itu seperti ada yang kurang.”


Elina mencibir, “Itu karena Kakak sudah terbiasa dikejar. Dan sekarang aku lelah. Sebenarnya Kakak juga tidak perlu bertanggung jawab. Aku tidak membutuhkannya.”


“Jadi benar itu anakku, kan?”


“Ya.” Elina tidak perlu menyembunyikan kebenaran dari Arka karena bagaimanapun dia berhak tahu dan anak ini juga anaknya.


“Kalau kamu lelah mengejarku, maka kali ini biarkan aku yang mengejarmu.”


“Apa maksud Kakak?” Ada desiran aneh di perutnya. Seperti kupu-kupu berterbangan. Terasa menggelikan dan aneh.


“Tidak.” Itu tidak mungkin. Pahlawan pria seharusnya mencintai pahlawan wanita. Sampai detik ini Elina masih takut akan plot. Dia juga


masih belum menerima perkataan Arka yang berbicara kalau dia menyukainya. Dia takut


keselamatan anak dan dirinya akan terpengaruh kalau dia menerima Arka.


“Kalau begitu aku akan terus mengejarmu sampai kamu percaya. Bersiap-siaplah dengan pengejaranku.” Arka sudah sangat bertekad. Dia tahu mungkin akan sulit meluluhkan hati wanita yang sudah lelah dan terlanjur kecewa. Tapi dia


tidak percaya kalau usahanya akan gagal. Jika benar-benar gagal maka dia hanya perlu bekerja lebih keras lagi.


“Kenapa?”


“Aku ingin menikah denganmu. Dan juga kita tidak mungkin membiarkan anak kita lahir tanpa keluarga yang lengkap.”


Itu memang benar. Tapi saat mendengar alasan itu, Elina tidak bisa menahan dirinya untuk marah dan kesal. “Jadi Kakak hanya ingin anak ini


memiliki keluarga yang lengkap?”


Arka tertegun. Sepertinya dia menimbulkan krisis baru dan sepertinya dia salah berbicara. “Tidak! Itu memang benar tapi itu juga tidak sepenuhnya benar. Bagaimana aku menjelaskannya-“


“Kakak pulang. Aku tidak ingin melihat Kakak.”

__ADS_1


“Jangan marah. Aku tahu aku salah. Elin maafkan aku.” Arka dengan cepat meraih tangan Elina. Dia menggenggamnya dengan hati-hati. Ini adalah


pertama kalinya Arka berinisiatif melakukan kontak dengan Elina.


“Lepaskan!”


“Oke. Tapi jangan marah. Yang aku katakan memang benar, kita harus memberikan keluarga yang lengkap untuk anak kita, tapi itu juga bukan


satu-satunya alasanku. Seperti yang aku katakan dan mungkin kamu tidak percaya kalau aku bilang aku menyukaimu dan aku dengan tulus ingin mengejarmu. Kamu harus memberiku kesempatan Elin.”


Elina terdiam. Tidak sampai perutnya berdenyut dan sepertinya anaknya mulai menendangnya saat dia mendengar perkataan ayahya. “Aw!”


“Elin kenapa?” Arka langsung cemas saat mendengar jeritan kecil Elina. “Apa yang salah? Apakah perutmu tidak nyaman? Haruskah kita pergi ke rumah sakit?” Arka sudah berdiri dan berniat untuk membopong Elina.


“Berhenti. Aku tidak apa-apa. Itu karena anak ini menendang perutku.”


Mata Arka berbinar saat mendengar penjelasan Elina. Selain merasa lega, dia juga merasa sangat bersemangat mendengar bayinya menendang. Dia sangt ingin menyentuh perut Elina.


“Syukurlah. Elin bolehkah aku menyentuh perutmu? Aku ingin merasakan tendangan anakku.”


“Tidak setiap menit anak akan bergerak. Itu tergantung keberuntunganmu.” Elina tidak menolak maupun mengiyakan.


“Apakah aku boleh menyentuhnya?”


“Silakan. Bagaimanapun kamu juga ayahnya.”


Arka kembali duduk dan jujur saja dia sangat gugup. Rasa gugupnya melebihi saat dirinya akan menandatangin proyek besar ratusan miliar. Dia perlahan-lahan mengulurkan tangannya dan dengan lembut mengelus perut Elina. Yang tidak Arka duga setelah mengelus beberapa detik, anak itu kembali menendang yang membuat Arka


sangat senang. Jenis kebahagiaan yang tidak pernah ia alami sebelumnya.


“Elin anak itu menendang! Sepertinya dia tahu kalau ayahnya sedang mengelusnya.” Arka saat ini terlihat seperti anak kecil yang diberi


permen. Terlihat konyol dan lucu.


“Bodoh,” gumam Elina.


“Apa Elin? Aku tidak mendengarmu dengan jelas.”


“Sudah. Singkirkan tangamu!”


Arka dengan sayang menarik tangannya tapi kemudian dia kembali mendapat semangatnya. “Elin, kamu menerima pengejaranku, kan?”


“Itu tergantung usahamu,” kata Elina seperti tidak tertarik.


“Kalau begitu aku akan bejuang dengan semangat!”

__ADS_1


__ADS_2