Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 79 – Bulan Makan Malam Dengan Keluarga Giandra


__ADS_3

“Itu malah lebih bagus. Biarkan mereka salah paham supaya aku bisa menikahimu dengan cepat.”


“Kakak bercanda. Tidak semudah itu menikah.” Elina terdiam sebentar dan menatap Bara yang juga sedang menatapnya. Bara memang sangat


tampan. Tapi Elina tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Dan dia tidak ingin


melibatkan Bara dengan urusannya. Setidaknya tidak sekarang sebelum plot selesai.


“Kalau begitu apa impas? Aku sudah memasakanmu makanan.”


“Tidak. Kamu masih berhutang satu masakan lagi.”


Elina hanya menjawab ringan “Oh …”


“Kenapa?” Bara menatap gadis cantik yang terlihat semakin menawan. Mungkin karena kehamilan bisa membuat seseorang terlihat lebih cantik. Yang pasti wajah Elina terlihat sangat berair dan matanya yang bulat dan indah


membuat orang-orang ingin sekali memanjakannya. Sayangnya, anak itu bukan


anaknya. Akan lebih bagus jika itu adalah anaknya.


“Tidak. Kalau begitu aku akan pulang?” tanya Elina ragu-ragu.


“Kenapa terburu-buru?” Bara jelas ingin bersama Elina lebih lama lagi.


“Aku takut mengganggu Kakak bekerja. Aku akan pulang sekarang.” Elina mengambil kotak yang sudah kosong itu. Dia bangkit dan menunduk untuk menatap Bara sekali lagi.


Bara menghela napas. Dia tidak bisa menahan gadis ini lebih lama. Sangat disayangkan. “Kalau begitu biarkan aku mengantarmu ke bawah.”


Elina tersenyum manis tidak tahu kalau efek senyumannya itu mematikan bagi Bara. Jantung Bara berdenyut cepat saat mendapat senyuman manis itu. Sial! Bara sangat ingin memiliki senyum itu hanya untuknya dan tidak ingin


membiarkan orang lain melihat senyum Elina. Bara sangat serakah.


“Oke!”


Bara berdiri dan mengambil alih kotak makan siang itu.”Biarkan aku membawa ini sampai bawah.”


“Ya.” Elina hanya terus mengulas senyum untuk Bara.


“Berhenti tersenyum. Aku bisa mati dibuatnya.”


“Hah?” Elina tidak paham maksud Bara. Kenapa senyumnya bisa membunuh orang? Dia tidak beracun!

__ADS_1


Bara yang gemas mencubit pipi Elina yang tembem karena kenaikan berat badan.”Hilangkan senyummu. Jangan tersenyum kepada orang lain. Itu berbahaya. Kamu tidak tahu bahayanya.”


“Aw! Jangan tarik pipiku. Aku tahu aku bertambah gemuk.” Elina manyun. Dia tidak merasa sakit saat dicubit karena Bara memang tidak menggunakan kekuatannya, tapi dia tidak senang seseorang menyentuh pipinya yang


berlemak. Dia sudah pusing karena berat badannya naik. Dia tidak ingin diingatkan oleh orang lain kalau dia gemuk!


“Kamu tetap cantik mau itu gemuk ataupun kurus. Aku tidak peduli.”


“Hmm.”


Mereka berdua berjalan melewati meja sekretaris dengan lancar. Diana dan Lili berdiri dan menyapa dengan menundukkan kepalanya. “Selamat


siang, Pak!” sapa mereka kompak.


Bara hanya mengangguk singkat dan terus berjalan berdampingan dengan Elina. Mereka masuk ke dalam lift dan langsung menuju lantai 1.


Saat keluar, para karyawan yang baru saja makan dari kafetaria tidak bisa tidak melihat pemandangan bosnya dengan wanita cantik yang


sedang hamil. Bosnya yang terkenal seperti pangeran iblis itu menatap wanita di sampingnya dengan tatapan penuh kasih sayang. Ini seperti mengkonfirmasi gosip soal kemungkinan bos mereka sudah menikah diam-diam dan wanita itu yang sedang hamil mungkin adalah istri bos.


“Sial! Pangeran kita sepertinya sudah menikah.”


“Wanita itu sangat cantik.”


***


Bulan senang saat ini. Itu karena sore ini dia akan pergi ke Keluarga Giandra untuk makan malam. Kakek Thomas kemarin menghubunginya. Meskipun saat ini dia masih belum bisa dekat dengan Arka dan tidak memiliki kemajuan,


dia tidak terburu-buru karena dia memiliki pegangan yang bisa mengikat Arka terus berada di sisinya.


“Pak, apa kita akan pergi ke Villa Giandra bersama?” Bulan yang meletakan kopi di meja menatap Arka dengan penuh harap.


Arka tidak repot-repot mendongak dan menatap Bulan. Dia langsung menolaknya dengan tegas. “Tidak.”


“Tapi bagaimana caraku bisa pergi ke villa?”


“Itu urusanmu. Kamu bisa keluar.”


Bulan mencibir. Di dalam hatinya dia mengutuk Arka yang sikapnya sangat sulit diluluhkan. Dia pikir itu akan mudah. Tapi sudah berapa


bulan dia bertransmigrasi tapi hubungan mereka tidak lebih dari atasan dan bawahan.

__ADS_1


Bulan dengan berat hati keluar. Bersama Arka ataupun tidak, dia akan tetap pergi ke Villa Giandra dan mencoba masuk ke dalam keluarga itu.


Bulan pulang ke apartemen yang diberikan Arka dan mengganti pakainnya. Di dunia nyata dia belum pernah memakai gaun indah. Itu karena


sebagai penulis, dia miskin! Dia tidak mampu membeli gaun-gaun mahal ini. Tapi di dalam novel ini, dia bisa dengan mudah membelinya karena uang dari Kakek Thomas. Bulan sangat senang hidup dalam novel. Dia memilih gaun putih selutut yang menunjukan karakter polos dan murni yang paling disukai para tetua.


Bulan dengan cepat memesan taksi dan setelah itu dia turun ke lantai satu untuk menunggu taksi. Bulan sebenarnya sedikit kesal. Kakek Thomas


seharusnya menyuruh seseorang untuk menjemputnya, tapi dia juga tidak mendapat


perlakuan baik itu dari Kakek Thomas.


Bulan dengan cepat masuk ke dalam taksi saat taksi itu datang. Dia memberitahukan alamat yang dituju dan harus menggertakan gigi saat


membayar ongkos taksi yang sangat mahal.


Itu benar-benar mahal. Meskipun dia sekarang mempunyai banyak uang, tapi tetap saja rasanya menyakitkan untuk membayar taksi dengan mahal. Dia bertekad nanti akan meminta kepada Kakek Thomas ataupun Arka untuk mengantarnya pulang. Atau lebih baik lagi kalau dia bisa menginap di villa mewah ini. Dia juga ingin merasakan tinggal di rumah besar seperti istana ini.


“Nona Bulan sudah datang. Mari saya antar ke ruang makan.” Paman Anto yang memang sudah diinstruksikan oleh Kakek Thomas untuk menyambut Bulan itu tersenyum sopan dan menunjukan jalannya.


“Nona Bulan sudah datang, Tuan.”


Bulan tersenyum manis dan bersikap baik di depan orang-orang. Bulan melihat orang-orang yang sudah berkumpul di ruang makan. Ada banyak sekali orang. Bulan menebak ini pasti anggota keluarga lain. Dia juga melihat Arka sudah duduk di kursinya dengan tenang.


Bulan ingin marah, tapi dia tidak memiliki hak untuk memarahi Arka. Dia ternyata sudah datang duluan dan tidak mau repot-repot membawanya.


“Bulan sudah datang. Duduk,” kata Thomas. “Perkenalkan, ini adalah cucu penyelamatku dan juga tunangan Arka.”


Perkataan Thomas itu seperti petir di siang bolong membuat orang-orang yang penasaran dengan identitas Bulan sangat tekejut. Jadi orang


yang mereka cari sudah ketemu dan itu ditemukan oleh Arka. Mereka semua terdiam


dan tidak ada yang mersepon atau bertindak sok ramah pada Bulan.


“Tunangan Arka? Bukankah itu Elina? Kenapa tiba-tiba wanita ini?” Lia, anak kedua dari istri kedua itu bertanya dengan merendahkan dan tidak kenal takut.


“Yah, anak haram dan putri miskin memang cocok,” kata Wilona, anak bungsu Thomas yang juga tidak kenal takut karena dia tidak tertarik dengan kursi Presdir dan ayahnya yang memanjakannya.


Bulan mengepalkan tinjunya hingga kukunya menusuk kulitnya. Sial! Dia memang menciptakan karakter sampingan jahat untuk membuat alur menarik, tapi dia tidak menyangka akan sangat menyakitkan hati jika benar-benar dihina secara


langsung dan merasakan hinaan itu di depan mata.

__ADS_1


__ADS_2