Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 51 – Pulang dan Tinggalkan Arka 1


__ADS_3

Elina kembali makan malam dengan menu mie instan. Dia tidak lagi kaget justru malah sangat senang dan lagi-lagi dia mampu menghabiskan tiga cup mie instan.


Elina mengusap perut ratanya yang sudah sedikit membuncit karena kekenyangan. Dia merasa sangat nyaman dan sekarang pertanyaannya adalah bagaimana cara dia tidur nantinya.


Elina tadi saat makan mendapat kenalan baru yaitu sekretaris lain Arka yang bernama Laura. Ya, Arka memiliki satu asisten laki-laki yaitu Adam dan dua sekretaris perempuan yaitu Bulan yang baru bekerja beberapa hari dan Laura yang sudah lama bekerja dengan Arka.


Laura sendiri adalah perempuan dengan tampilan sederhana. Dia memakai kaca mata yang minusnya cukup tebal. Dia adalah wanita yang baik. Setidaknya itu adalah kesan Elina saat berkenalan dengan Laura.


“Apakah kamu sudah sering ikut acara amal di perusahaan?” Elina bertanya pada Laura.


“Ya, Nona.”


“Kalau begitu, bagaimana cara untuk tidur?”


“Kami biasanya hanya akan menggelar tikar dan menggunakan tas kami untuk dijadikan bantal.”


“Apa itu tikar? Apakah malam hari tidak dingin? Apakah nanti akan ada banyak serangga?” Elina jelas terkejut dengan cara tidur mereka. Dia tahu


apa itu karpet tapi dia tidak tahu apa itu tikar dan bentuknya seperti apa dia juga tidak tahu.


“Tikar itu seperti karpet yang ukurannya lebih besar dan harganya lebih murah. Jauh lebih murah dibanding karpet mewah yang mungkin ada di rumah Nona. Dan memang sangat dingin di malam hari dan tidak ada serangga, tapi akan ada banyak nyamuk. Tapi Nona tenang saja, kami sudah menyiapkan obat anti nyamuk.” Laura menyengir dan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Elina menatap ngeri ke arah Laura. Apa tadi katanya? Di malam hari akan dingin? Lalu dia tidak membawa selimut. Selimutnya ada di dalam koper yang ditinggalkan oleh Arka. Oh! Mengingat ini membuat Elina jadi membenci Arka. Dia sangat benci! Jika kopernya dibawa, dia akan bisa tidur dengan nyaman. Lalu apa tadi, tidak ada serangga tapi ada nyamuk katanya? Elina takut pada serangga dan dia juga takut akan digigit nyamuk meskipun seumur hidupnya dia belum pernah digigit nyamuk, tapi kata orang-orang yang sudah pernah digigit itu akan menimbulkan sensasi gatal yang menyiksa. Elina merinding! Dia tiba-tiba ingin menangis dengan keras dan berteriak ‘Dia ingin pulang!’


“Apakah benar-benar sudah ada persiapan agar tidak digigit nyamuk?”


“Ya. Kami membawa obat anti nyamuk.”


“Baguslah.”

__ADS_1


 Keadaan kembali hening karena semua orang sibuk dengan ponsel masing-masing. Elina juga


mengambil ponselnya dan melihat bahwa itu tidak ada sinyal. Jadi mereka yang bermain ponsel sepertinya sudah mengunduh game sebelum datang ke pedesaan ini.


“Tidak ada sinyal.”


Laura yang duduk di sebelah Elina yang sebelumnya sedang bermain game menghentikan aktifitasnya dan memandang nona muda di sampingnya. “Nona, di sini memang susah sinyal. Jika ingin menghubungi orang perlu keluar dari balai desa ini dan kita perlu mencarinya di luar.”


“Begitukah? Aku ingin menghubungi orang rumah. Kalau begitu aku akan keluar dulu.”


Elina bangkit dan dia tidak melihat Arka maupun Bulan di dalam balai desa ini. Elina tidak peduli dengan mereka dan memutuskan untuk pergi keluar mencari sinyal.


Elina berjalan dan berkali-kali menyodorkan ponselnya ke atas untuk mencari sinyal.


“Ada sinyal!” seru Elina senang. Saat sinyal didapat, ponsel Elina sibuk dengan berbagai notifikasi yang baru bisa masuk itu. Salah satunya


adalah sahabatnya, Clara. Dia memutuskan untuk menghubungi sahabatnya terlebih dahulu. Untuk itu dia membuat panggilan dan tak lama kemudian mereka terhubung dalam panggilan telepon.


“Apa kamu tidak tahu kalau aku sedang berada di pedesaan yang sangat terpencil? Di sini sangat susah mencari sinyal. Ini saja aku harus keluar dari ruangan untuk bisa mendapat sinyal.”


Elina memang keluar dari balai desa, tapi dia berjalan tidak terlalu jauh karena dia sejujurnya takut. Ini sudah malam dan di luar gelap. Untung


saja di bawah lampu jalan dia sudah menemukan sinyal. Jadi Elina hanya berdiri di bawah lampu jalan persis.


“Benarkah? Kamu tidak memberitahuku.”


“Aku mungkin lupa. Besok pagi aku akan pulang, kita bisa bermain bersama. Bagaimana kal-“


Perkataan Elina terputus karena dia melihat sosok Arka dan Bulan sedang berjalan bersama menuju ke arahnya.

__ADS_1


Elina terdiam. Dia jelas sangat terkejut. Apakah hubungan pahlawan wanita dan pahlawan pria sudah sedekat itu hingga mereka pergi berduaan


di malam hari? Benarkah? Kalau begitu tugasnya akan segera selesai untuk menempel pada Arka dan dia bisa terbebas dari Arka secepatnya. Tapi entah kenapa ada bagian lain dari hatinya yang tidak rela dan tidak suka melihat Arka dan Bulan bersama.


“Halo, Elina, kamu mau bicara apa?”


Elina kembali tersadar dan dia langsung membuang muka tidak lagi melihat Arka dan Bulan yang semakin mendekat. “Itu, kamu harus datang menjemputku besok pagi. Karena perjalanan lama kamu harus datang sekitar jam 4


dari rumah. Apa kamu mendengarku? Pokoknya besok pagi aku menunggumu! Alamatnya


ada di desa xxx kecamatan xxx kota xxx. Pokoknya kamu harus datang agar aku


bisa pulang.”


“Oke!”


Elina langsung mengakhiri panggilan setelah mendengar persetujuan dari Clara. Elina langsung berjalan masuk ke balai desa dan tidak ingin bertemu atau menyapa Arka maupun Bulan. Elina melihat mereka tiba-tiba menjadi sakit mata. Dia tidak menoleh sekalipun dan tidak memperdulikan apapun. Dia dengan cepat kembali dan langsung memilih duduk di dekat Laura.


Saat Elina masuk, tikar sudah disiapkan dan kursi-kursi sudah ditumpuk membuat ruangan menjadi sangat kosong.


Arka melihat Elina dan dia ingin berbicara dengannya, tapi belum sempat dia memanggil Elina, gadis kecil itu sudah melarikan diri. Saat dia


masuk ke dalam, Elina sudah berbaring di bagian para wanita tidur. Arka tiba-tiba merasakan krisis yang tidak bisa dijelaskan. Dia merasa Elina mungkin benar-benar marah tanpa sebab. Dan dia juga merasa jika kemarahan Elina tidak diredakan, mungkin saja gadis kecil ini akan terus menjauh darinya. Arka merasakan ketakutan yang tidak bisa dijelaskan.


“Terima kasih, Pak. Berkat Bapak saya jadi tidak terluka. Maaf sudah merepotkan Bapak dan mengganggu waktu Bapak,” kata Bulan berterima kasih dan langsung pergi ke area wanita tanpa menunggu respon Arka.


Arka mengerutkan keningnya tidak suka. Dia merasa setelah Bulan bekerja dan masuk ke dalam hidupnya, Elina tiba-tiba menjadi terasing. Apakah ini semua karena sekretaris barunya? Ke manapun dia pergi, entah kenapa dia selalu bertemu dengan Bulan. Sama dengan tadi, saat dia menelpon dan berbicara tentang urusan kantor di luar yang agak jauh dari balai desa, dia tiba-tiba ditabrak oleh seseorang. Itu memang salahnya karena berdiri di kegelapan, tapi orang yang menabraknya harusnya melihat cahaya yang terpancar dari ponselnya jika dinalar dengan logika. Dan harusnya orang itu bisa mendengar ada seseorang yang sedang berbicara, tapi kenapa masih menabraknya seolah orang itu tuli dan buta.


Dan orang yang menabraknya adalah Bulan. Arka jadi mempertanyakan sebenarnya apa motif orang ini. Haruskah dia benar-benar

__ADS_1


memecatnya?


__ADS_2