
Elina memutar matanya. Omong kosong apa yang kakaknya bicarakan. Balas dendam apa? Siapa yang berani membalas dendam pada protagonist
dalam novel? Sudah pasti balas dendam itu tidak akan berguna karena dunia novel akan berpusat pada Arka dan akan selalu berada di sisi Arka. Jadi pemeran sampingan seperti mereka itu tidak pantas untuk bermusuhan dengan Arka.
“Kakak sebaiknya jangan membuat masalah dan menyusahkan Kak Arka.”
Neo membulatkan matanya tidak percaya dengan perkataan adiknya. Hatinya sakit saat adik manis kesayangannya membela laki-laki lain.”Kamu
membela bajjingan itu?! Kamu melarang kakak tersayangmu untuk tidak menyusahkan
laki-laki bau itu?”
“Hah … Kakak bukan itu maksudku. Kakak terlalu
kekanak-kanakan.” Tidak mungkin Elina mengatakan pada keluarganya kalau dunia
ini adalah dunia novel dan mereka seharusnya tidak mengganggu pemeran utama pria agar tidak berakhir tragis. Kalau bisa menjauh, menjauhlah sejauh mungkin.
“Elin kamu mengecewakanku. Sungguh!”
“Kakak jangan menangis.”
“Siapa yang menangis, sialan!”
“Kakak tidak boleh berkata kasar padaku. Ibu, ayah lihat kakak sangat kasar.”
“Kalian sudah besar tapi masih saja bertengkar seperti waktu kalian masih kecil.” Ibu berkata dengan mata yang masih terfokus pada TV. Sedangkan ayah dengan damai membalik koran lembar demi lembar seolah tidak peduli dengan
pertikaian kecil anak-anaknya.
“Tuan, Nyonya, makan malam sudah siap.”
“Ayo kita makan,” kata ibu sambil meletakan gigitan terakhir pada piring. Dia tidak bermaksud untuk menghabiskan buah itu.
“Kakak setelah makan aku ingin berdiskusi denganmu.”
“Soal apa?”
Mereka ber-4 berjalan menuju ruang makan.
“Soal membuka bisnis. Aku ingin membuka bisnis.”
“Kamu jangan bertingkah aneh-aneh. Ingat kamu sedang hamil! Aku tidak setuju dengan idemu.” Neo dengan tanpa pikir panjang langsung menolak permintaan Elina.
“Aku belum mengatakan ideku!” Elina kesal dan merengut.
“Tetap saja aku menolak.”
__ADS_1
“Ayah! Lihat, kakak tidak mau menuruti kemauanku,” keluh Elina dengan manja dan berjalan menempel pada ibunya.
“Ayah jangan dengarkan permintaan Elina. Itu tidak mungkin. Masih mungkin kalau kamu sudah melahirkan. Aku takut itu akan membuatmu lelah dan mempengaruhi kandunganmu.”
“Tidak akan!”
“Itu benar.” Ayah memimpin duduk di kursi.
“Ibu~~” Elina menatap ibu dengan penuh harap. Satu-satunya harapannya ibu bisa mendukung permintaannya.
“Kakakmu benar. Dengarkan dia.” Ibu dengan santai duduk di sebelah ayah.
“Kalian semua menyebalkan!”
“Maaf, Tuan, Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu,” kata Paman Sam yang baru saja tiba.
“Siapa tamu yang tidak tahu waktu itu? Kenapa berkunjung di saat waktu makan malam,” kata Neo mulai makan.
“Siapa tamunya?” Ibu bertanya dengan lembut.
“Itu pewaris Keluarga Giandra. Tuan Arka.”
“Uhuk, uhuk!” Neo dan Elina tersedak air minum secara bersamaan.
“Siapa tamunya?” tanya Elina tidak percaya.
“Baajingan itu berani datang ke sini untuk makan malam! Sialan!” Neo benar-benar membenci Arka sampai ke tulangnya. Dia dulu mengagumi Arka
penuh cinta harus menderita kehamilan seperti ini dan terlebih pria itu tidak bertanggung jawab untuk menikahi adiknya terlebih dulu malah membuatnya hamil duluan.
Jika Elina bisa mengerti isi pikiran kakaknya, sudah dipastikan dia akan tertawa terbahak-bahak. Itu jelas bukan salah Arka, tapi
salah Elina yang meresepkan afrosidak pada Arka sesuai plot dalam novel.
***
“Siapkan bingkisan untuk dibawa bertamu.”
Adam yang baru selesai membacakan laporan itu terdiam. Kenapa bosnya tiba-tiba tidak nyambung. Seharusnya respon bosnya itu menanggapi laporan yang ia bacakan, bukan malah meminta dia untuk menyiapkan bingkisan. Tapi sebagai asisten khusus dia harus mempertahankan keprofesionalitasnya.
“Baik, Pak.”
“Hari ini tidak lembur dan kalian bisa pulang sesuai jam kantor.”
Sebenarnya jam pulang kantor ini adalah pukul 4 sore dan sekarang sudah pukul 5 sore. Jadi dalam kata lain kantor direktur itu sudah
melakukan kerja lembur selama 1 jam. Apakah bosnya tidak sadar dengan fakta kecil itu. Tapi Adam tidak bisa mengatakan itu dan hanya bisa berkata, “Baik, Pak.”
__ADS_1
“Hm.”
Saat Adam pergi, Arka duduk santai dan mencoba memejamkan matanya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu Elina. Meski dia gagal melobi pada Neo tadi sora, sepertinya memang lebih baik langsung mendatangi rumah Elina. Biarkan dia menerobos masuk, jika tidak bisa bertemu maka dia akan membuat keributan. Ya,
itu rencana Arka.
Tabiat dingin dan tenang Arka sekarang seolah sudah tidak bisa dipakai lagi. Sekarang dia selalu cemas dan selalu terburu-buru dan tidak
bisa mempertahankan ketenangannya. Setidaknya dia harus bertemu dan berbicara
dengan Elina agar semuanya jelas dan dia bisa kembali tenang.
Lima belas menit kemudian Adam datang dengan dua bingkisan yang Arka tidak tahu apa isinya dan dia juga tidak mau repot-repot memeriksanya
karena dia ingin segera bertemu Elina dan tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi.
“Ini, Pak.”
“Begitu, terima kasih.”
Arka langsung pergi ke parkiran bawah tanah dan langsung mengendari mobilnya menuju Vila Maharani. Dia berkendara dengan sangat cepat. Hanya buku waktu empat puluh menit dia sudah sampai di depan gerbang vila.
Arka dihentikan oleh penjaga gerbang.
“Aku dari Keluarga Giandra dan ingin bertemu untuk berdiskusi dengan Neo. Aku sahabat Neo,” bohong Arka sedemikian rupa agar diizinkan masuk ke area dalam vila.
Mendengar kata “Giandra” penjaga gerbang jelas tahu soal keluarga besar itu ditambah dengan Arka yang mengatakan kalau dia ingin bertemu
dengan tuan muda mereka. Dengan cepat penjaga gerbang itu membuka gerbang dan
membiarkan mobil Arka masuk. Tapi sebelum itu penjaga gerbang juga menelpon kepala pelayan untuk memastikan.
Arka memarkir mobilnya di depan pintu vila. Di sana kepala pelayan sudah berdiri menunggu tamu yang dikatakan oleh penjaga gerbang.
“Tuan tunggu sebentar, saya akan bertanya pada kepala keluarga terlebih dahulu.” Paman Sam tidak langsung membiarkan Arka masuk
melainkan dia harus melapor dulu karena keluarga saat ini sedang makan malam dan Paman Sam takut tindakannya salah.
“Baik.”
Arka tidak berniat menunggu kepala pelayan itu karena setelah Paman Sam masuk, dalam jeda sekitar satu menit, Arka menyusul masuk
diam-diam karena pintu rumah juga memang terbuka dan tidak ditutup oleh Paman Sam.
Arka dengan lancang memasuki rumah dan berdiri diam di tengah ruang tamu. Saat dia mendengar percakapan di ruang makan, dia memutuskan untuk pergi ke ruang makan dan langsung menyapa.
“Paman, Bibi, Neo dan Elina, maafkan aku yang langsung masuk ke dalam rumah.” Arka langsung berlutut di lantai marmer membuat orang-orang
__ADS_1
yang ada di ruang makan terkejut. Terlebih Paman Sam yang tidak menyangka kalau tamunya akan tidak tahu malu diam-diam masuk sebelum dipersilakan untuk masuk.
“Uhuk, uhuk!” Elina masih terkejut dan belum bisa pulih. Keterkejutannya bertambah dua kali lipat. Adegan apa yang ia lihat. Kenapa bisa pahlawan dalam novel menerobos masuk seperti pencuri! Apa otaknya rusak?