
Ding!
[Misi utama mencium Arka di depan sekretarisnya dan bertindak cemburu tanpa sebab dan memerintahkan Arka untuk memecat sekretarisnya. Hadiah 100 juta. Telah berhasil dilaksanakan. Selamat!]
Elina tersenyung girang saat melihat bilah notifikasi. Dia kemudian menghubungi sistem lagi ingin tahu berapa jumlah saldo saat ini.
“A1? Berapa jumlah saldo yang aku miliki saat ini?”
“Saldo saat ini adalah 110 juta, Nona.”
“Hmm, masih sangat sedikit. Itu tidak cukup bahkan untuk perawatan kulitku. Kapan akan ada misi lainnya?”
Ding!
[Misi memasak makanan untuk Arka dan biarkan Arka memakan masakan yang tuan rumah masak. Hadiah uang 50 juta. Jika gagal maka uang tidak akan didapat dan justru akan dikurangi. Terima atau tolak. Masih belum
terlaksana. Mohon diingat misi ini ada batas waktu 1 jam. Waktu dimulai dari sekarang.]
Elina langsung mengubah wajahnya menjadi datar saat sistem mengingatkannya dengan misi yang belum terlaksana ini. Dia tahu dan tidak perlu selalu diingatkan, oke!
“Kenapa mengingatkanku?”
“Karena Nona bertanya tentang misi lain yang bahkan misi di atas saja belum terlaksana.”
“Kurang ajar!”
“Sistem akan offline untuk sementara. Selamat tinggal, Nona.” Demi menghindar dari amukan Elina, A1 kabur dan berpura-pura offline. Sungguh melayani wanita tertua itu sangat sulit. Terlalu banyak mengeluh dan emosinya sangat tidak setabil.
Elina melihat Arka dan Arka melihat Elina. Sedari tadi Arka memperhatikan raut wajah Elina yang berubah-ubah. Dia melihat wajah Elina terlihat senang tapi detik berikutnya wajah cantik itu mengerut sebal seperti sedang kesal. Fenomena random ini benar-benar langka dan jujur saja itu
terlihat … lucu.
Tunggu!
Kenapa Arka menganggap Elina lucu? Padahal dia selalu menganggap Elina itu menyebalkan karena selalu menempel padanya. Oh! Mungkin
karena kali ini Elina membantunya untuk mengusir Indah. Jadi kesannya pada Elina perlahan berubah tanpa Arka sadari.
__ADS_1
“Kakak! Kenpa berdiri di dekat jendela? Apa urusanmu sudah selesai? Kalau sudah selesai, datang dan makan masakanku. Ayo cepat, jika
terlalu lama ini akan membuat masakan menjadi dingin.”
“Jangan bergerak dan tetap diam duduk di sofa. Ada begitu banyak pecahan beling. Aku akan memanggil sekretaris lain untuk membersihkan,”
titah Arka dan kemudian Arka memencet intercom dan berbicara, “Masuk dan bersihkan pecahan beling yang ada di ruanganku. Iya, sekarang.”
Tak lama kemudian seorang petugas kebersihan datang dan membersihkan pecahan gelas. Dalam sekejap itu kembali bersih tanpa noda seolah
gelas yang Elina banting hingga percah berantakan tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi.
Arka memijat pelipisnya. Dia sudah dibuat sangat pusing oleh tingkah Elina. Tapi dia juga sebenarnya sudah sangat lapar. Dengan berat hati Arka melangkahkan kakinya menuju sofa dan duduk berseberangan dengan Elina. Kemudian dia melihat kotak makan siang berwarna merah muda yang baru saja Elina keluarkan dari wadah isolasi panas kotak makan siang yang juga berwarna merah muda.
Kenapa begitu feminim dan kekanak-kanakan. Sejak kapan selera Elina berubah. Arka memandang Elina yang berpenampilan berbeda. Baru kali ini dia memperhatikan Elina dengan teliti. Kenapa Elina sepertinya berubah. Seingat Arka dulu Elina sangat suka menggunakan make up yang tebal dan terlihat menjijikan namun sekarang Elina terlihat sangat cantik dengan balutan gaun indah dan elegan dan juga make up yang terlihat natural. Jujur, Elina memang sangat cantik dengan tambahan lain yaitu bentuk tubuh yang bagus. Kenapa Arka baru sadar sekarang?
Tunggu!
Memangnya kenapa kalau baru sadar sekarang? Sebenarnya apa yang Arka pikirkan sih? Entah, pikirannya sedang kacau saat ini.
menjijikan?”
Arka kembali sakit kepala mendengar tuduhan tidak berdasar dari Elina. Dia ingin makan, oke! Akan lebih nyaman makan jika berhadapan
seperti ini. Tapi kenapa anak ini tidak tahu hal sederhana ini! Arka jadi kesal.
“Lebih nyaman makan dengan berhadapan seperti ini.”
“Tidak! Kalau berhadapan , bagaimana caraku bisa menyuapimu?”
“Menyuapi apa? Apa? Menyuapiku?” Tanya Arka kaget. Seumur hidupnya dia belum pernah disuapi orang lain selain ibunya dulu saat masih
bayi. Saat Arka berumur 3 tahun, dia sudah bisa makan sendiri dan begitu mandiri.
“Iya! Aku ingin menyuapi Kakak!” kata Elina dengan semangat. Dalam hati Elina sebenarnya menjerit. Mana mau dia menyuapi orang lain jika
bukan karena misi! Dia ini nona muda dari keluarga bangsawan yang apa-apa
__ADS_1
dilayani oleh pelayan! Bagaimana bisa dia melayani orang lain! Elina ingin menangis tanpa air mata. Sungguh sial nasibnya, hanya demi uang dia harus melakukan hal-hal yang dilakukan para rakyat jelata. Sungguh tidak bermartabat
dan tidak anggun sama sekali.
“Kalau Kakak tidak pindah, maka aku yang akan datang dan duduk di samping Kakak!” tekad Elina semakin kuat. Ini semua demi uang, oke! Demi uang! Catat itu.
Arka tidak bergerak dan dia juga tidak menolak Elina.
Melihat sinyal hijau dari Arka, Elina bangkit dan berjalan ke sisi Arka kemudian dia duduk dengan jarak satu jengak tangan. Sangat dekat hingga membuat Arka tidak nyaman. Tapi entah kenapa dia tidak bisa menolak atau mengusir Elina. Sebenarny sihir apa yang Elina berikan pada dirinya. Batin Arka bertanya-tanya.
Elina perlahan membuka kotak bekalnya dan nasi goreng dengan toping telur mata sapi setengah matang itu tersaji.
"Lihat! indah bukan masakanku!” Elina kembali
membanggakan masakannya. Padahal itu hanyalah nasi goreng! Tapi Elina tidak peduli. Nasi goreng ini dibuat dengan keringat dan darahnya dan mengharuskannya merelakan tangan halusnya bekerja. Dia akan membual meski itu hanya nasi goreng.
Arka : “…”
“Kakak, kenapa diam saja?” Elina kemudian menyendok nasi goreng dan mengarahkannya ke mulut Arka.
“Apakah ini bisa dimakan? Tidakkah kamu memasukan racun ke dalam masakanmu?” Arka sangat skeptis dengan rasa masakan Elina. Jika ini benar-benar masakan Elina dan bukan masakan kokinya. Kemungkinan besar rasanya
pasti tidak akan enak! Dia tidak mau memakannya. Jujur saja, Arka sedikit takut.
“Jelas bisa dimakan! Ini yang aku masak dengan mengorbankan tanganku! Lihat, tanganku jadi jelek dan tidak halus lagi.” Tanpa sadar Elina
mengeluh dengan nada manja pada Arka. Dan Arka juga bekerja sama melihat tangan yang Elina sodorkan. Tapi, dia tidak bisa melihat apa yang dimaksud dengan tangan yang menjadi jelek dan tidak halus lagi. Di mana letak ketidak bagusan
dan ketidak halusan yang Elina masksud? Tangannya bahkan sangat halus dan terlihat cantik! Apa wanita ini bercanda?
“Apakah Enak?” Saat sendok itu berhasil masuk ke dalam mulut Arka, Elina bertanya dengan penasaran. Dia ingin tahu seperti apa pendapat Arka.
Arka yang awalnya skeptis langsung ditampat di tempat. Ini benar-benar enak!
“Enak.” Komentar Arka singkat padat dan jelas.
Tanpa sadar Arka menghabiskan nasi goreng yang Elina buat dengan Elina yang terus menyuapi Arka.
__ADS_1