Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 52 – Pulang dan Tinggalkan Arka 2


__ADS_3

“Laura, bolehkah aku tidur di sisimu?”


Laura tersenyum menunjukan deretan gigi putihnya dan mengangguk dengan semangat, “Tentu! Suatu kebanggaan bagi saya bisa tidur di


sisi calon istri bos di masa depan!”


Senyum Elina memudar saat mendengar perkataan Laura. Yah, dia bisa maklum kalau orang-orang pasti berpikir bahwa dia adalah calon nyonya masa depan. Tapi itu salah dan yang akan menjadi nyonya mereka sudah jelas adalah Bulan Sang Pahlawan Wanita di novel ini. “Kamu berbicara omong kosong,” gumam Elina yang pasti tidak bisa didengar Laura dengan jelas.


Elina mengambil tas punggungnya dan menatanya menjadi bantal. Yah, tadi siang dia sudah berpengalaman tidur berbantal tas punggung, jadi dia sudah tidak kaget lagi. Elina merebahkan tubuhnya dan seketika itu juga dia merasa sangat nyaman. Ini jelas sensasi yang berbeda saat dia tidur di bangku dan tidur di atas tikar ini, meski sama-sama keras dan tidak empuk, setidaknya tikarnya lebih luas daripada bangku yang dijejer seperti tadi siang.


“Nona, apakah nyaman?” tanya Laura sudah melepas kaca matanya.


“Yah. Nyaman. Ngomong-omong, berapa umurmu?”


“28 tahun, Nona.”


“Apa? Kamu jauh lebih tua dariku. Seharusnya aku memanggilmu dengan sebutan Kak Laura. Maafkan aku karena memanggilmu dengan nama saja.”


Elina jelas merasa bersalah. Meski dia manja, dia masih memperhatikan norma kesopanan yang sudah diajarkan dan mandarah daging sejak


kecil.


“Tidak! Tidak apa-apa. Benar-benar tidak apa-apa, Nona.”


“Kalau begitu aku akan memanggilmu Kak Laura mulai sekarang.”


“Begitu, terserah Nona.”

__ADS_1


Elina tidak bisa menghentikan orang lain menyebutnya “Nona” tapi setidaknya dia bisa memanggil orang lain sesuai dengan tingkatan umur.


Saat Elina sedang bercakap-cakap dengan Laura, tiba-tiba suara lembut menyela percakapan mereka.


“Permisi, apa saya boleh tidur di sini?”


Itu adalah Bulan!


Mood Elina tiba-tiba menjadi buruk lagi dan dia dengan cepat menolak. “Tidak. Kamu bisa tidur di sisi lain, aku tidak ingin bersebelahan denganmu. Aku membutuhkan ruang yang luas kalau tidur. Jadi sebaiknya kamu pergi ke sisi lain atau nanti aku mungkin saja mengganggu tidurmu,” bohong Elina. Dia hanya tidak ingin dekat-dekat dengan Bulan, oke! Semoga saja wanita yang masih berdiri dengan kaku itu mengerti dan segera pergi. Elina sudah tidak tahan dengan keberadaanya. Sangat mengganggu ketenangan jiwa dan raganya.


Laura tadinya ingin mengiyakan permintaan rekan barunya, tapi saat mulutnya baru terbuka, itu sudah terpotong dengan jawaban dari nonanya. Jadi dia hanya diam saja dan terus berbaring dengan tenang. Sebenarnya sisi ini adalah sisi yang paling luas. Di sisi lain dekat dengan bagian pria jika ditambah Bulan mungkin itu akan sangat sempit dan berdesakan. Tapi dia bisa apa? Nona yang memutuskan semuanya menolak Bulan, jadi dia hanya bisa menuruti kemauan Elina.


Bulan yang lagi-lagi ditolak secara terang-terangan oleh Elina merasa sedikit kesal. Nona muda ini kenapa seperti sangat memusuhinya. Seingat dia, sepertinya dia belum menyinggung nona muda ini. Kenapa Elina selalu


bersikap kasar padanya, atau itu hanya perasaannya saja yang belum terbiasa melayani orang-orang kaya? Jelas wanita yang dibesarkan di lingkungan mewah akan memiliki temperamen yang bermacam. Bulan tidak terlalu banyak berpikir dan setelah ditolak, dia tidak mungkin memaksa untuk terus tidur di sisi Elina, jadi dia berjalan ke sisi yang berlawanan.


Bukankah obat anti nyamuk sudah ia pakai, kenapa dia masih bisa mendengar suara nyamuk? Atau obatnya tidak berfungsi? Tapi sejauh ini dia


belum merasakan sensasi gatal yang berarti dia masih belum digigit nyamuk. Elina merasa sedikit lega pada poin dia masih belum digigit nyamuk, yah, masih belum, tapi bukan berarti tidak akan digigit. Siapa yang tahu jika detik berikutnya nyamuk yang terbang itu mengigitnya.


Elina benar-benar tidak bisa tidur dengan kondisi seperti ini, hingga tanpa ia sadari waktu terus berjalan dan saat dia melihat ke jendela ada cahaya yang terpancar di langit. Ini sudah pagi dan satu persatu orang-orang mulai bangun.


Elina tidak terburu-buru bangun dan masih mencoba memejamkan matanya. Tapi tidak bisa karena orang yang bangun sudah mulai banyak dan ruangan kembali berisik dengan berbagai suara.


Elina hanya bisa bangun dan duduk dengan kesal. Dia berjanji setelah ini dia tidak akan pernah mau datang ke tempat pedesaan yang terpencil


seperti ini lagi. Tidak akan pernah! Dia sudah menderita banyak keluhan sejak sistem memberikan misi mengerikan ini padanya. Dia merasa marah pada sistem tapi tidak bisa bertindak apa-apa. Dia hanya bisa menelan kemarahan itu bulat-bulat.

__ADS_1


Agenda pagi ini adalah menunggu truk pengangkut yang membawa berbagai bantuan datang dan mereka akan turun gunung bersama para warga. Lalu setelah foto diambil, mereka bisa pulang. Mereka hanya turun gunung sekalian pulang karena yang akan mengangkut ke desanya adalah warga desa itu sendiri. Para karyawan


tidak akan membantu mengangkut berbagai bantuan karena mereka harus segera pulang. Perusahaan tidak memberikan mereka hari libur dan keesokan harinya mereka harus bekerja seperti biasa jadi para karyawan hanya bisa beristirahat saat di dalam mobil dan sore hari ketika sampai di rumah masing-masing.


 Elina ikut bangun dan saat orang lain sibuk membereskan barang-barang mereka, Elina dan Laura pergi untuk membersihkan diri. Mereka hanya mencuci muka dan menggosok gigi karena


mereka tidak memiliki baju ganti lain. Begitu juga Elina, dia masih menggunakan daster dari semalam.


Mereka semua sarapan dengan menu yang sama yaitu mie instan. Mereka makan dengan ekspresi yang seperti tertekan. Sejak datang ke sini mereka hanya bisa makan mie dan mereka sudah bosan! Mereka muak dengan mie instan ini, itulah yang bisa Elina lihat dari ekspresi menderita orang-orang. Jelas itu berbeda dengan Elina yang masih bahagia memakan sarapan yang berupa mie instan.


Mereka menunggu para warga untuk segera turun gunung. Sekitar pukul 8 pagi mereka mulai berjalan menuruni gunung. Kali ini Elina tidak


mencari bantuan Arka melainkan berjalan berdampingan dengan Laura. Ya, Elina mencoba


menggendong ranselnya sendiri. Meskipun awalnya susah, tapi dia bisa berjalan dengan mantap karena dia juga mengenakan baju yang lebih sesuai dari pada kemarin. Dia meninggalkan payung di balai desa karena dia tidak memerlukannya lagi.


Sudah pukul 9 saat mereka tiba di tempat bus perusahaan parkir. Elina dengan cepat menurunkan tasnya dan masuk ke dalam bis untuk mengambil koper. Dia menyeret koper itu dengan susah payah. Ya, Elina melakukan itu semua sendiri! Hebat! Sudah ada peningkatan dalam diri Elina.


“Mau di bawa ke mana kopernya?” Arka yang baru sampai di tempat bis diparkir terheran-heran saat melihat Elina menurunkan koper.


Elina tidak menjawabnya dan terus diam berjalan ke suatu arah. Saat Arka mengikuti ke mana Elina pergi, dia tertegun. Wanita itu langsung masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari bis.


Saat Arka ingin mengejar Elina, dia terlambat selangkah karena mobil itu langsung tancap gas meninggalkan area parkir meninggalkan Arka


yang penuh tanda tanya.


**follow akun author biar semangat UP**

__ADS_1


__ADS_2