Hamil Anak Protagonis

Hamil Anak Protagonis
BAB 8 – Menemukan Pahlawan Wanita


__ADS_3

Gelak tawa di ruang itu langsung menjadi sunyi saat sosok Arka memasuki ruangan. Mereka semua menatap Arka dengan berbagai pandangan. Ada yang membenci, ada yang menatap dengan jijik serta ada juga yang tidak peduli dengan kehadiran Arka seolah dia hanyalah udara.


Di ruang makan sudah ada ayah Andre dengan istri pertamanya yang duduk di sebelah kanannya yaitu Linda wanita yang sudah memasuki umur lima puluhan tetapi masih terlihat sepuluh tahun lebih muda berkat sebuah perawatan dan anak pertamanya Aris Giandra yang berumur tiga puluh tiga tahun. Lalu di sebelah kiri ayah Andre ada istri kedua yaitu Nia yang sudah berumur di akhir


empat puluhan dan sama masih terlihat sangat muda. Di sebelah Nia duduk kedua anaknya. Yang pertama adalah Bagas yang berumur dua puluh lima tahun tahun ini dan adiknya yang perempuan bernama Lia yang berumur dua puluh tahun tahun ini.


Berseberangan dengan ayah Andre adalah anak kedua kakek Thomas yaitu Stefan yang berumur empat puluh tahun dan sudah memiliki seorang


anak yang berumur dua puluh tahun yaitu Lukas. Kebetulan istrinya sedang berlibur dan tidak hadir.


Serta yang terakhir adalah anak ketiga dari Thomas yaikut Wilona yang berumur tiga puluh lima tahun dan memiliki seorang putri yang baru


berusia lima tahun yang bernama Hana. Kevin suami Wilona tidak hadir karena ada perjalanan bisnis ke luar kota.


Lalu di mana ibu Arka? Dan siapa ibu Arka? Ibu Arka sudah lama meninggal dan dia adalah istri di luar nikah. Meski Andre memiliki dua istri sah, tetapi dia tidak menikahi Ningrum-ibu Arka- yang dulu adalah seorang sekretaris Andre.


Semua orang sudah berkumpul kecuali tetua Keluarga Giandra yaitu Thomas Giandra.


“Apakah kamu tidak menyapa para tetua yang ada di sini?” tanya Linda dengan nada tidak mengenakan untuk didengar.


Arka : “…”


“Ck! Anak haram akan selamanya menjadi tidak berguna dan hanya menyakiti mata jika dilihat,” sahut Nia.


Arka sudah biasa mendengar cemoohan seperti ini. Sikapnya hanya diam dan diam. Tidak pernah merespon apalagi menjawab cemoohan itu.


Belum! Belum saatnya untuk bertindak. Dia harus menahan hinaan dan cemoohan ini sedikit lebih lama lagi. Waktunya hampir tiba dan Arka tidak terlalu terburu-buru untuk membalas mereka.


“Kenapa kamu terlambat dan membuat kita semua menunggu lama?” Linda kembali memulai.


“Jalanan macet,” jawab Arka tidak lebih dan tidak kurang.


“Omong kosong seperti apa yang kamu katakan? Macet? Siapa yang kamu bohongi?” Linda merasa dipermainkan. Dia tidak bodoh. Jalan mana yang

__ADS_1


macet di jam ini. Ini bukan waktu pulang kantor dan jalanan menuju ke villa itu jalan khusus. Jadi anak sialan ini pasti berbohong padanya.


Arka : “…”


“Berani berbohong padaku? Pantas seperti ibumu jalaang kurang ajar yang mampu merayu suamiku!” keluh Linda.


Andre yang duduk disampingnya hanya bisa mendengarkan dan tidak berani berdebat. Sejujurnya dia takut dengan istri pertamanya yang seperti singa betina ini. Andre merasa serba salah. Dulu memang sebuah kecelakaan dia dengan Ningrum dan membawa pulang Arka adalah bentuk balas budinya. Setidaknya itu yang harus dia lakukan karena ayahnya-Thomas-tidak


mengijinkannya untuk menikah yang ketiga kalinya.


Dilingkaran elit ibu kota, siapa laki-laki yang bisa memiliki dua nyonya di keluarganya? Itu hanyalah Keluarga Giandra sebagai pengecualian. Thomas sudah sangat malu dengan hal ini dan dia tidak akan membiarkan putranya membuat hal malu lain lagi. Meski tidak ada yang terang-terangan mengejek, tapi Thomas yakin kelakuan Andre ini dijadikan bahan lelucon di belakang mereka.


Thomas benar-benar malu.


“Bu, hentikan,” sela Aris anak satu-satunya Linda.


“Huh!” Linda mendengus tidak suka.


“Diamlah. Kakek sudah akan turun untuk makan.” Aris memperingatkan ibunya. Linda sangat menyayangi anak semata wayangnya yang akan


Beberapa detik kemudian Thomas benar-benar turun dari lantai dua dan didampingi oleh kepala pelayan. Thomas duduk di singgah sananya.


“Makan,” titah Thomas.


Mereka semua makan dalam diam. Bahkan Arka pun mengikuti makan hanya sesuap dan setelahnya dia enggan untuk menghabiskan makanannya. Siapa yang punya nafsu makan di saat seperti ini setelah mendapat serangan


verbal berkali-kali? Jelas bukan Arka orangnya. Toh, makanannya benar-benar tidak terasa enak dan Arka tidak bisa menelannya.


“Setelah makan ada hal yang ingin aku bicarakan.” Di sela-sela makan Thomas berkata.


Wajah semua orang berubah. Mereka harap-harap cemas dengan topik apa yang akan kakeknya bicarakan. Sangat jarang bagi mereka untuk makan bersama. Bahkan dalam setahun mungkin hanya tiga kali makan bersama dan salah


satunya saat kakek tua ini berulang tahun. Sisanya mereka hidup saling berjauhan karena mereka diam-diam saling membenci.

__ADS_1


“Apa kalian sudah selesai makan?” Thomas hanya makan sedikit dan dia sudah selesai makan. Pun sama dengan yang lainnya, mereka juga tidak bisa menikmati makanan mewah di depan mereka dengan normal.


“Seperti yang kalian tahu, hidupku mungkin sudah tidak lama lagi dan kursi presiden direktur pasti nantinya akan kosong. Aku ingin menyerahkan kursi ini secepatnya. Kalian semua anaku dan cucuku berhak ikut memperebutkan kursi ini,” kata Thomas dengan kejam. Ini sama saja mengisyaratkan untuk membuat ornag tua , anak,  saudara dan saudari saling menyerang satu sama lain dan siapa yang terkuat dia yang akan menempati kursi presdir. Thomas benar-benar berdarah dingin. Dia tidak peduli dengan keharmonisan keluarganya. Yang ia pedulikan adalah kemajuan perusahaannya dan menjadi nomor 1 di lingkaran elit ibu kota bahkan kalau bisa di dunia.


“Apakah anak haram itu juga bisa mengikuti perebutan kursi presdir?” tanya Nia tanpa takut.


Pertanyaan itu langsung membuat wajah Thomas menjadi dingin dan tiba-tiba Nia merasa menyesal sudah bertanya seperti itu. Bagaimana jika


anaknya tidak bisa ikut merebutkan posisi presiden direktur?


“Ehm! Syarat utama masih sama, yaitu aku nilai dari performa kalian selama di perusahaan. Dan dewan direksi juga akan ikut menilai. Lalu aku


memiliki syarat yang lain.”


“Apa itu, Ayah?” tanya Andre. Meski Andre adalah anak pertama Thomas dia juga belum tentu bisa mendapatkan kursi presdir ini. dia harus bersaing dengan adik serta anak-anaknya. Tapi kemungkinan tidak semuanya akan ikut bersaing. Paling yang bersaing hanya anak dari istri pertamanya yaitu Aris, dan anak dari Ningrum yaitu Arka. Anak dari istri keduanya sepertinya


tidak tertarik dengan posisi ini dan kedua adiknya, Stefan sepertinya tertarik dan Wilona juga seperti tidak tertarik.


Maka ini hanya akan menjadi perang antara anak sahnya dan anak haramnya dan adik keduanya . Persaingan antara Aris dan Arka dan Stefan, dia


tidak tahu harus mendukung yang mana.


“Dulu saat aku masih muda, aku hampir mati muda tapi diselamatkan oleh seorang teman. Dan teman itu dulu berkata padaku untuk menjaga cucunya. Sayangnya aku putus kontak dan meski aku sudah mencari melalui detektif tidak bisa menemukan keberadaan temanku dan cucunya. Aku ingin kalian yang ingin kursi presdir ini untuk bisa menemukan cucu temanku. Itu adalah


salah satu syarat terakhirku. Informasi yang aku miliki tidak terlalu banyak dan berharga. Kalian bisa meminta informasi itu pada kepala pelayan. Dia akan memberikan informasinya pada kalian.”


Semua orang langsung menatap pada kepala pelayan yang sedari tadi berdiri di samping kursi Thomas.


“Aku lelah. Aku akan istirahat dulu. Kalian bisa


membicarkannya dengan hati-hati.” Thomas berjalan kembali ke kamarnya.


Sementara itu Arka yang sedari tadi menyimak dalam diam tiba-tiba menyeringai. Ini adalah kesempatannya! Dia harus segera memulai balas

__ADS_1


dendamnya. Arka merasa santai karena kakeknya sudah pernah mengatakan ini sebelumnya. Sejujurnya, Thomas lebih condong ke arah Arka untuk kursi presdir ini. Tapi tidak ada yang tahu kalau kakek tua ini diam-diam membantu Arka


dengan informasi yang sedikit lebih akurat.


__ADS_2