
Senyum Aris langsung menghilang saat Elina menolak duduk di tempat duduk yang sudah dia siapkan dan malah memilih duduk di dekat Arka yang jauh darinya. Aris mendengus ringan menertawakan dirinya sendiri.
Elina tidak peduli dengan ekspresi Aris yang terlihat kurang mengenakan. Toh mereka ini sama-sama penjahat dan tidak mungkin Aris akan
mengincar dirinya. Aris pasti akan mengincar Bulan jika waktunya sudah tiba. Jadi Elina tidak khawatir saat menyinggung perasaannya.
“Kak Arka, apa kamu baik-baik saja.” Elina bertanya tanpa sadar. Ini murni karena dia penasaran dengan kondisi Arka.
Arka hanya mengangguk ringan sebagai tanggapan dari pertanyaan Elina.
“Jangan dimasukan ke hati. Mereka itu orang-orang bodoh,” bisik Elina yang membuat Arka tersenyum kecil. Tapi senyum itu dengan cepat menghilang digantikan dengan wajah dinginnya.
“Elin sudah datang?”
Kakek Thomas turun dari tangga dan menyapa Elina.
“Kakek yang baik. Elin sudah datang. Apa kabar Kakek?” Elina memasang senyum manisnya. Baik di kehidupan nyata maupun novel Elina bisa
dengan mudah meluluhkan hati para tetua dari banyak keluarga orang kaya di lingkaran ibu kota. Jadi dia sudah tidak kaget dengan sambutan Kakek Thomas.
“Bagus-bagus! Seperti yang kamu lihat, kakek baik-baik saja. Apa nanti setelah makan malam kita akan bermain catur?”
“Baik, Kek. Elin akan menemani Kakek bermain. Tapi Elin harus meminta maaf karena satu hal, Kek,” kata Elina dengan nada sedih. Dia sudah siap berakting menyedihkan. “Maafkan Elin karena lupa membawa hadiah untuk Kakek. Lain kali Elin pasti akan membawa hadiah saat berkunjung.”
“Tidak apa-apa. Dengan Elin datang sudah membuat kakek senang. Mari kita makan malam.”
Saat makan malam berlangsung, tiba-tiba sistem kembali berbunyi.
Ding!
[Misi baru telah tiba. Tidur dengan Arka di kamar yang sama dan dapatkan uang 200 juta. Terima atau tolak.]
Elina tertegun sejenak saat membaca bilah notifikasi. Semakin hari misi yang diberikan semakin aneh. Dia tahu ini demi meningkatkan
tingkat kebencian Arka, tapi kenapa harus sesulit ini. Elina ingin mengeluh pada A1 tapi itu percuma. Tidak ada gunanya karena A1 pasti tidak akan bisa membantu.
Elina menerima misi itu dengan getir. Dia pusing memikirkan alasan apa yang harus digunakan agar dia bisa tidur dengan Arka lagi. Tidur di
sini jelas hanya tidur di ranjang yang sama dan tidak melakukan hal-hal panas seperti malam itu. Tapi bagaimana cara memintanya? Haruskah dia diam-diam menyelinap ke kamar Arka di tengah malam? Atau haruskah dia jujur dan langsung
__ADS_1
bertanya? Entahlah, fokusnya buyar saat acara makan sudah selesai.
Elina sudah selesai makan dan dia siap menemani Kakek Thomas untuk bermain catur. Sebenarnya Elina tidak bisa bermain catur. Menemani di sini hanyalah menyaksikan kakek bermain dengan Aris ataupun Arka. Elina hanya
mendampingi dari samping. Tugasnya memang sangat mudah, tapi itu sangat membosankan untuk menonton orang lain bermain catur yang harus menggunakan dan memeras otak itu. Elina tidak suka kegiatan yang memerlukan banyak tenaga dan banyak pikiran. Dia hanya ingin bersantai, oke!
“Bocah bau! Sengaja mengalahkan kakek di putaran pertama? Apa setidak inginnya kamu bermain dengan kakek?” Thomas memarahi Arka yang sudah mengalahkan Thomas di putaran pertama.
Ya, saat ini di ruang belajar Thomas ada dirinya, Aris, Arka, Bagas dan Stefan. Seluruh anak laki-laki di Keluarga Giandra sedang bergantian bermain catur dan Elina adalah perempuan satu-satunya.
Waktu terus berjalan dan Elina pun menguap.
“Ini sudah malam. Sudah jam 9 malam. Waktunya istirahat. Elin bisa tidur di lantai dua. Kalian juga istirahat.”
“Baik, Kek,” jawab mereka serempak.
Elina tidak memiliki kenangan di kamar tamu mana dia biasa tidur. Lalu dia bertanya pada kepala pelayan.
“Pak, di mana aku akan tidur malam ini?”
“Di lantai dua kamar yang paling ujung, Nona. Seperti biasa, kami sudah menyiapkan hal-hal yang diperlukan Nona.”
Elina sengaja berjalan melambat dan membiarkan orang-orang itu menaiki tangga terlebih dahulu. Saat semua orang sudah menghilang masuk ke
kamar masing-masing, Elina bingung saat melihat Arka tidak naik ke lantai dua.
“Kak Arka kenapa tidak naik?”
“Kenapa aku harus naik?”
“Untuk tidur?” jawab Elina polos.
“Kamarku ada di sana. Apa kamu lupa?” Arka menunjuk sebuah pintu di lantai pertama yang jalurnya lurus dengan ruang makan. Saat kamu
keluar dari kamar, kamu bisa langsung ke ruang makan.
Elina tertegun. Bukankah lantai satu adalah kamar para pelayan? Kenapa Arka tidur di lantai satu dan tidak di lantai atas? Ini tidak
disebutkan dalam novel sama sekali. Elina jelas terkejut! Ternyata perlakuan mereka terhadap Arka sangat buruk. Bahkan kamar saja satu baris dengan kamar pelayan. Bukankah Arka juga keturunan darah Giandra? Meski itu anak di luar
__ADS_1
nikah. Ini benar-benar keterlaluan!
“Kak! Aku ingin tidur denganmu,”kata Elina tanpa banyak berpikir. Dia harus menjalankan misi apapun yang terjadi.
Arka menaikan satu alisnya. “Aku tidak tertarik.”
“Kakak~ hanya tidur bersama, oke? Tidak melakukan apapun. Aku janji! Aku takut tidur sendirian.” Bohong Elina.
“Omong kosong apa yang kamu bicarakan. Cepat naik dan istirahat. Ini sudah larut.” Arka mengabaikan Elina dan berjalan ke kamarnya
sendiri tanpa menoleh.
Elina putus asa! Bagaimana cara dia bisa tidur dengan Arka? Haruskah dia benar-benar menyelinap di tengah malam? Tapi pintunya pasti
terkunci dan Elina tidak memiliki kemampuan untuk membobol pintu. Dia tidak diajarkan hal-hal seperti itu.
Elina naik ke kamarnya dengan kuyu. Dia masih pusing dengan misi yang diberikan sistem. Haruskah kali ini dia menyerah dan kehilangan 200 juta. Tapi itu adalah tabungan dia untuk masa depan! Dia tidak boleh kehilangan
momentum ini.
Disaat Elina berpikir keras, di luar hujan mulai turun dengan deras disertai Guntur. Elina terkejut dengan kilatan petir dan dia refleks berteriak dan bersembunyi di balik selimut. Seluruh tubuhnya dia balut dengan selimut.
Debaran jantung Elina berdetak dengan tidak beratuan. Sial! Fobianya terhadap petir sepertinya tidak hilang. Elina pikir saat masuk ke tubuh Elina dalam novel, hal-hal seperti fobianya akan hilang. Tapi nyatanya masih ada.
Elina sangat ketakutan. Dia meringkuk dan napasnya mulai memburu.
“Ah!”
Saat kilat itu kembali datang Elina tanpa pikir panjang langsung keluar dari kamar dan menuruni tangga. Dia ingin mencari sumber rasa
aman. Di villa ini satu-satunya orang yang Elina kenal hanyalah Arka. Ya, bersama dia mungkin akan bisa meredakan ketakutannya.
Saat sampai di depan pintu kamar Arka, Elina mengetuk pintu dengan membabi buta.
“Kakak! Kakak! Buka pintunya!”
Saat pintu terbuka, Elina langsung menghambur ke pelukan Arka. Dia memeluk Arka dengan sangat kuat hingga membuat Arka terhuyung dan
hampir jatuh.
__ADS_1