
Pagi hari berikutnya, gadis yang masih tertidur itu
tiba-tiba membuka matanya. Dia bangun sesuai dengan jam biologisnya. Jam enam adalah waktu bagi Elina untuk bangun. Dia memiliki waktu satu jam untuk menyiapkan diri sebelum turun untuk sarapan pukul tujuh.
“Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Ibu.”
Elina menyapa ayah dan ibunya yang sudah di ruang makan. Sang ayah sedang membaca koran sedangkan sang ibu sedang membaca majalah. Ini adalah pemandangan langka dan kebiasaan langka karena sebelum sarapan mereka
masih sempat-sempatnya membaca sesuatu. Jika itu Elina … oh! Jangan disebutkan. Dia pasti tidak akan punya waktu untuk membaca di pagi hari di waktu hampir sarapan. Dia sibuk. Sibuk berdandan dan mempercantik diri. Ya, hobinya adalah perawatan. Jadi Elina lebih suka menghabiskan waktu luangnya untuk melakukan
perawatan tambahan. Elina membaca hanya jika waktu benar-benar terasa lambat dan dia membaca hanya untuk membunuh waktu.
“Pagi,” balas Ayah Teguh singkat, padat dan jelas.
“Pagi, Sayang,” seru Ibu Leila. Kemudian dia menutup majalahnya dan memberikan isyarat pada Elina untuk duduk di sampingnya.
Elina mematuhi Leila. Diapun duduk di dekatnya. Dengan cepat pelayan datang dan mengambil majalah dan koran yang sudah selesai mereka baca lalu menyimpannya di suatu tempat yang Elina tidak ketahui. Hanya pelayan yang tahu.
Makanan pagi ini cukup sederhana. Bukan gaya barat tapi itu hanyalah semangkuk bubur ayam. Meski hanya semangkuk bubur ayam tapi rasanya
sangat enak karena Keluarga Maharani mengundang koki dari hotel bintang 4 untuk
khusus memasak di villa.
Makanan segera disiapkan di atas meja. Itu hanya bubur ayam dan segelas susu kedelai. Elina tak habis pikir, bukankah keluarganya kaya?
Kenapa hanya sarapan semangkok bubur ayam? Apa tidak ada menu lain yang bisa dibuat? Kenapa begitu sederhana. Tapi dia hanya mengeluh di dalam hatinya. Dia tidak berani berbicara atau mengeluh kepada ayah atau ibunya. Untuk kali ini mari kita sarapan dengan menu super sederhana.
Saat Elina sedang menikmati makanannya. Tiba-tiba suara sistem kembali terdengar. Kali ini bilah notifikasi juga langsung muncul di depan Elina.
Ding!
[Memasak makanan untuk Arka dan biarkan Arka memakan masakan yang tuan rumah masak. Hadiah uang 50 juta. Jika gagal maka uang tidak akan didapat dan justru akan dikurangi. Terima atau tolak.]
__ADS_1
Elina hampir tersedak bubur yang ia makan.
Apa?
Memasak?
Masalahnya adalah baik di dunia nyata maupun dunia novel Elina seumur hidupnya tidak pernah memasak. Jangankan memasak, dia saja tidak
pernah memasuki dapur! Untuk itu Elina merasa sangat tertekan dengan misi sistem dan merasa marah. Nona muda ini tidak pernah begitu menderita kejahatan seperti memegang pisau dapur atau memotong sayuran yang bisa saja membuat kuku cantiknya rusak.
Ibu Leila melihat putrinya berhenti makan dan sepertinya melamunkan sesuatu. Kemudian dia bertanya dengan rasa khawatir yang berlebihan.
Itu karena Leila sangat menghargai momen makan bersama ini. dulu Elina dalam novel tidak pernah mau sarapan dengan keluarganya. “Kenapa? Apakah buburnya tidak enak?”
“Hah? Oh! Enak kok, Bu! Ibu jangan khawatir. Sarapannya enak hanya saja aku harus menjaga bentuk badanku jadi aku tidak akan makan banyak.”
“Makan terlalu sedikit tidak baik untuk kesehatan tubuh. Menjaga penampilan boleh saja, tapi jangan sampai sakit.” Ayah Teguh menceramahi Elina.
“Baik, Ayah.”
Bilah notifikasi masih berada di depan Elina. Dengan cepat Elina memilih untuk menerima misi. Tidak mungkin untuk menolak karena jumlah hadiahnya lumayan. Bisa untuk membeli baju baru.
“Aku ingin belajar memasak. Biarkan para koki di rumah untuk mengajariku,” pinta Elina pada orang tuanya.
Ibu dan ayah menghentikan makannya. Mereka terdiam cukup lama seolah mereka salah mendengar dan pendengarannya sepertinya rusak. Apa itu? Putrinya ingin belajar memasak? Dia bahkan tidak pernah pergi ke dapur.
“Untuk apa kamu belajar memasak? Apakah ada sesuatu yang terjadi di pesta ulang tahun yang kamu hadiri kemarin?” Leila jelas paham
persaingan orang-orang di kalangan sosial elit ibu kota. Sedari kecil anak-anak mereka sudah diberikan berbagai macam les dari berbagai bidang untuk menambah nilai jual untuk dipamerkan. Dan begitupun dengan Elina. Sedari kecil sudah diberikan les seperti piano, berenang, ballet dan lain-lain. Tapi Elina belum pernah
diajari untuk memasak karena bagi mereka memasak tidaklah penting karena di setiap rumah tangga pasti akan memiliki koki pribadi. Jadi permintaan aneh Elina jelas mengundang kecurigaan Leila sebagai seorang ibu.
“Tidak ada yang terjadi di pesta ulang tahun kemarin. Aku juga tidak bersaing dengan seseorang. Hanya saja aku ingin belajar memasak
__ADS_1
untuk kalian, Ibu dan Ayah dan juga Kak Neo.” Bercanda! Hehe. Jelas dia belajar memasak untuk menyenangkan pahlawan pria! Untuk apa lagi? Tapi Elina tidak mungkin berkata seperti itu pada kedua orang tuanya, kan?
“Aduh sayangku, kamu tidak perlu repot-repot belajar memasak. Kami sudah menerima niatmu dan kami sangat bahagia.” Leila tersentuh
hatinya. Matanya bahkan memerah dan dia
tersenyum dengan sangat tulus. Sementara itu sang ayah malah hanya diam dan tidak memberi respon sama sekali.
“Tidak! Aku inging belajar memasak. Aku sangat ingin membuat masakanku sendiri, Ibu! Tunggu saja, aku pasti akan membuat makanan untuk
kalian.”
“Benarkah? Dengan penampilanmu seperti itu?” tanya Ayah Teguh. Dia memindai putrinya yang terlihat sangat sempurna, apalagi kesepuluh
jari-jarinya yang lentik dan tanpa kapalan. Dia skeptis pada putrinya sendiri. Dia tidak yakin tangan halusnya itu bisa memegang pisau. Apalagi memotong sesuatu. Dia saja sepertinya belum pernah memegang gunting dan benda-benda tajam berbahaya lainnya.
“Baiklah, lakukan apa yang kamu mau.”
“Terima kasih Ayah dan Ibu. Aku sayang kalian semua!” Elina bangkit dan memeluk ibu dan ayahnya satu per satu.
***
Kaki Elina akhirnya melangkah ke dapur! Ini adalah momentum yang langka. Sangat amat langka! Seorang putri bangsawan memasuki dapur untuk pertama kalinya dan siap untuk menghancurkan dan memporakporandakan isi dapur. Hehe! Bercanda, Elina tidak semenakutkan itu, oke!
Elina berdiri diam, dia bingung. Di dalam dapur yang sangat besar ini yang terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah alat-alat untuk memasak makanan khas Barat dan di bagian kedua adalah alat-alat untuk memasak makanan khas Asia.
Di dalam dapur juga sudah berdiri sepuluh orang pelayan wanita dan dua diantaranya memegang tabung pemadam api untuk keadaan darurat
dan juga sudah berdiri empat koki dengan dua koki adalah koki yang berspesialis di masakan Barat dan dua lainnya yang berspesialis masakan Asia.
Ngomong-omong kepala pelayan juga berada di sini. “Nona, masakan apa yang akan Anda masak kali ini? apakah itu makanan utama atau makanan penutup?”
“Aku tidak tahu.”
__ADS_1
Semua orang : ”…”
Jawaban Elina jelas membuat semua orang merasa gemas. Kalau nonanya saja tidak tahu, lalu siapa yang tahu?