
Antonius tidak ada di sofa saaat aku membuka mata. Jendela juga masih tertutup. Biasanya, di jam seperti ini dia sudah berlomba dengan ayam jantan untuk berkokok.
Aku menyibakkan selimut dan berjalan keluar kamar. Aku penasaran di mana dia. Di dapur tidak ada. Saat aku membuka ruang kerja, dia juga tidak ada. Di tempat gym juga tidak ada. Lalu aku mencoba membuka pintu di samping tempat gym karena lampunya menyala. Ruang musik.
Antonius terbaring di sofa warna hitam dengan dada telanjang. Ketika aku mendekat, sayup-sayup terdengar suara dengkuran. Wajahnya begitu tenang, bibirnya yang tipis nampak berkilauan. Kupandangi dan aku menyadari satu hal. Sepertinya aku telah terporosok jauh kedalam cintanya.
Karena tidak ingin membangunkan Antonius, aku melihat-lihat ruangan itu. Banyak sekali piringan hitam baik itu dari penyanyi lawas atau modern. Tidak heran kenapa dia memilih piringan hitam daripada kaset atau cd, karena dia memang menyukai hal-hal klasik. Rumah ini contohnya.
Aku duduk di karpet yang terlihat usang. Ada sebuah buku yang terletak di atas meja. In Black And White karya Rudyard Kipling. Buku yang berisi kumpulan cerita pendek.
Joseph Rudyard Kipling atau yang dikenal dengan nama Rudyard Kipling adalah seorang penulis cerita pendek, novelis, dan juga penyair. Pria kelahiran Bombay, India pada 30 Desember 1865 telah menelurkan banyak sekali buku-buku yang terkenal di seantero jagad raya. Salah satunya adalah The Jungle Book.
"Apa kau menyukainya?" suara Antonius mengagetkanku saat sedang membuka lembaran-lembaran buku yang warnanya sudah coklat kekuningan itu. Aku tidak sadar kalau dia sudah duduk di sampingku.
"Entahlah. Kukira aku akan menyukainya jika sudah membacanya," balasku seadanya dan tiba-tiba Antonius mengangkat tubuhku agar lebih dekat dengnnya. Kakinya yang panjang terbuka dan aku duduk diantara kedua kaki itu. Ya Tuhan, apa lagi ini? Hatiku bergemuruh dan sangat kacau.
"Bisakah kamu memberi aba-aba sebelum melakukannya?" tanyaku terengah-engah seperti habis lari seratus kilo meter.
__ADS_1
Tangannya yang kekar melingkar di perutku dan tubuhku yang kecil menempel di dadanya. Aku bisa merasakan detak jantung Antonius. Suaranya terdengar seperti genderang yang ditabuh. Sedangkan aku seperti sampan yang ingin segera dikayuh oleh nelayan. Mengharap dengan sangat.
"Apa kau kaget?" balasnya tepat di depan telingaku yang membuat bulu roma merinding.
"Mmmmmhhh." Aku tak bisa lagi berkata-kata. Suasana ini sangat canggung.
Antonius kemudian memelukku dari belakang. Tubuhku tenggelam dan keringatnya membasahi punggung. Aku berusaha bertahan agar aku tidak jatuh kedalam rayuannya. Ia mengecup kepalaku, kemudian turun ke pundak. "Ahhhh." Aku tidak sengaja memekik.
"Kenapa kamu melakukannya? Bukankah kamu sendiri yang menyuruhku bersabar?" tanyaku terbata.
"Karena kau selalu menggodaku." Ia menjawab sambil menggigit leherku dengan lembut. Aku menggigit bibirku sendiri. Menahan agar tidak ada suara yang keluar.
"Apa?"
"Berdirilah. Ambil sesuatu dari laci meja itu."
Aku menurutinya. Dan akhirnya aku dibebaskan dari cengkraman. Aku mengambil sebuah album foto dari dalam laci dan memberikan pada Antonius.
__ADS_1
"Bukalah."
Aku membukanya. Ada foto seorang bayi yang sangat lucu. Ia memakai bando warna pink. Aku membalikkan album. Ada foto seorang bayi yang belajar merangkak. Dan dibaliknya lagi ada seorang anak perempuan memakai gaun biru muda yang belajar berjalan. Aku mengernyitkan dahi. Ada sesuatu yang aneh. Aku seperti mengenali foto yang terakhir. Apakah ini aku?
"Antonius ... apakah ini fotoku?" Aku bertanya. Antara ragu dan bingung. Dan perlahan pertanyaan yang beberapa hari ini menggelayuti mulai tersingkap. Antonius tersenyum. Manis dan menggoda bercampur menjadi satu. Aku membuka lembaran album itu hingga habis. Dan di halaman paling belakang ada seorang wanita yang sedang hamil dan seorang anak laki-laki sekitar usia sepuluh tahun. Aku mengamati wajah wanita itu betul-betul. Mama? Dan anak laki-laki itu, aku seperti melihatnya di suatu tempat. Antonius?
Antonius memelukku yang sedang diliputi kebingungan. Berusaha mengumpulkan teka-teki yang kutemukan. "Aku mencintaimu bahkan sebelum kamu lahir," ucapnya lembut dan sebuah kecupan kecil mendarat di kening.
Apakah itu sebabnya aku tak merasa asing lagi padanya? Seperti pernah melihat dan mengenalnya di sebuah tempat. Apakah tempat itu adalah rahim mama? Dan apakah perjodohan kami sudah direncanakan bahkan saat aku masih dibungkus air ketuban?
Kami saling berpandangan. Kubelai wajahnya yang mulai ditumbuhi rambut halus. Aku tidak percaya ada seorang pria yang jatuh cinta hanya sekali seumur hidupnya. Ini seperti mimpi. Mimpi yang tidak akan kulupakan meski hanya sebentar.
Antonius mengeratkan pelukannya dan aku mulai kesulitan untuk bernapas namun aku menikmatinya. Tubuhnya yang basah, aromanya yang jantan, juga sentuhan tangannya yang mulai membuat diriku tidak terkendali.
"Apa kau mau melakukannya?" tanyaku dengan nada memelas.
"Sampai kapan kamu menyiksaku?" Aku menatapnya dengan sayu. Berharap ada simpati yang datang padaku.
__ADS_1
Antonius menjatuhkan tubuhku di lantai lalu memandangiku tanpa melakukan apa-apa. "Bersabarlah ...," ucapnya lirih dengan kecupan di pipi. Antonis kemudian berdiri dan meninggalkanku.
"Antonius?!" Aku berteriak ketika ia hendak membuka pintu. Antonius menoleh ke arahku. "What?" tanyanya dengan senyum tersungging di bibir. Shit!