Happy Ending

Happy Ending
James Patek


__ADS_3

"Pergilah ke luar negeri," ucap seorang pria paruh baya. Badannya tinggi tegap dan kulitnya sedikit legam. Ia sedang berdiri di dekat jendela. Memandang ke arah luar yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit serta kendaraan yang berlalu lalang. Sementara itu seorang pemuda yang diajaknya bicara hanya diam. Dia duduk di sofa sambil memandang ke arah tembok, namun pikirannya melayang entah kemana. 


"Papa akan masuk ke dunia politik. Kalau lawan-lawan Papa menemukan hal tentangmu, semuanya bisa kacau! Pergilah sejauh mungkin. Papa akan memberikan uang sebanyak apapun yang kau mau."


"Baiklah." Pemuda itu menjawab lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia berpikir, apakah sebaiknya ia berada di dalam tempat rehabilitasi saja? Di sana ada teman-teman yang sepertinya dan saling mengerti satu sama lain. Mereka semua memiliki alasan kenapa menggunakan barang haram tersebut. Merasa depresi karena terkucilkan, tak percaya diri, atau karena background keluarga yang sama sekali tak peduli pada anak-anak mereka?


James jadi ingat gadis yang melaporkannya ke polisi. Padahal, gadis itu sudah dipacarinya selama tiga tahun. Mereka saling mengerti satu sama lain dan punya alasan yang sama kenapa bersama. Sama-sama kehilangan kasih sayang keluarga. James merasa dikhianati. Hatinya bergemuruh. Ia mengepalkan tangan dan mulai memukuli tembok kamarnya.


Pesawat yang ditumpangi James akhirnya mendarat di Fiumicino air port. Pemuda betubuh tinggi tegap itu berjalan menyusuri lorong pesawat sambil menggendong tas ransel menuju pemberhentian taksi. 


"Via voce ferde," ucapnya pada sopir taksi yang baru ditumpanginya. Drrrttt ... drrrttt ... telepon genggam yang ada di saku jaketnya bergetar. "Hai, Mam. Di dalam taksi. Baiklah ... hmmm ...." James menutup teleponnya dan memilih tidur selama perjalanan ke rumah mamanya. 


"Quanto costa?" Setelah sopir taksi menyebutkan harga yang harus dibayar dan James memberikan sejumlah uang ia pun turun dari mobil itu. Mamanya sedang menunggu di depan rumah, terakhir mereka ketemu saat kelulusan SMP James. "Come stai?" Pemuda itu memeluk mama yang kini tingginya hanya sedada James. "Baik, sayang ... baik. Masuklah." Wanita paruh baya itu menuntun anaknya masuk. Ia tinggal sendirian di rumah. Sejak bercerai dengan ayah James, Rossi memilih kembali ke tanah kelahirannya. Dia tak menikah lagi dan sering menghabiskan waktunya di dalam rumah sambil berjualan parfum buatannya secara secara online.


"Ini kamarmu, James." Ruangan itu tidak terlalu besar. Ukuran empat kali empat. Jendelanya langsung terhubung dengan halaman belakang dan ada kolam renang di sana. 


"Apa kau mau makan?" 


"Tidak, terima kasih." Rossi menatap lekat-lekat putra satu-satunya. Ia kini sudah besar. Rambutnya kecoklatan dan agak keriting. Perpaduan antara dirinya dan ayah James. 


"James ...." Wanita itu menggenggam telapak tangan anaknya. "Kamu berbeda dengan papamu. Kamu anak baik, James." Rossi tahu bagaimana anaknya sampai direhabilitasi. Ia mengkonsumsi sabu dan saat ia sedang sakau, James ingin memperkosa pacarnya dengan melakukan kekerasan. Ayah James memiliki itu. Penyimpangan seksual. Tapi tidak dengan James. Rossi yakin itu.

__ADS_1


"Apa kau menyesali perbuatanmu?" James diam saja. Ia tak yakin dengan apa yang dia rasakan. Ia juga ingin hidup normal seperti orang lain. Yang memiliki keluarga dan dipenuhi dengan cinta. Keinginannya sesederhana itu. Sulitkah?


"Tinggallah di sini untuk beberapa saat," ucap Rossi sebelum memeluk James lalu meninggalkan dia sendirian di kamar.


Beberapa bulan tinggal di bersama ibunya, James mulai menyukai dunia fotografi. Ia berkeliling Itali dan mengambil foto-foto yang menarik baginya. "Hari ini kau mau ke mana, James?" tanya Rossi saat mereka sedang sarapan.


"Pantai Rambla." 


"Berhati-hatilah. Jika tidak pulang hubungi mama." James mengangguk pelan dan menikmati kopi serta sandwich yang ada di depannya.


Pemuda itu tengah membidik seekor burung yang nangkring di pohon. Bermodalkan uang yang dikirim oleh ayahnya, James bisa membeli kamera profesional keluaran terbaru. "Apa kau tak ingin melanjutkan studimu, James?" tanya Rossi suatu ketika. James menggeleng. Saat ini hal yang paling nyaman buatnya adalah tak bertemu dengan banyak orang. Maksudnya, berbaur dan mengobrol. James ingin melakukan apa yang membuat hatinya tenang. Fotografi. 


"Hai? Bolehkah aku duduk di sini?" Dua orang wanita berambut blonde mendekatinya. James menyunggingkan bibirnya dan mempersilakan kedua gadis itu duduk.


"Apa kau sedang menunggu pacarmu?" James menggeleng sambil menyeruput minuman kaleng. Tubuhnya yang berkeringat berkilauan ketika diterpa sinar matahari sore. 


"Apa kau sudah punya tempat menginap malam ini? Jika belum, datanglah bersama kami."


"Apa kau tinggal sini?"


"Ahh ... akhirnya kau berbicara juga. Suaramu sebagus wajahmu," goda wanita yang menggunakan bikini warna putih. Ia tak tahan untuk tidak meraba dada James yang berotot dan sedikit berbulu. Kini dia sudah menjelma menjadi lelaki dewasa, tentu tubuhnya terbentuk sempurna. "Baiklah. Mobilku ada di sana." James berjalan ke arah parkiran mobil. Ia seperti model majalah dewasa yang hanya mengenakan celana dalam super ketat. Otot punggungnya akan membuat wanita manapun berdecak kagum dan ingin mengencaninya meskipun hanyasatu malam.

__ADS_1


"Naiklah." Dia mempersilakan kedua gadis itu masuk ke dalam mobilnya. James melajukan mobilnya menuju sebuah rumah yang tak jauh dari pantai. 


"Rumahmu bagus," kata James mendudukkan pantatnya di sofa depan televisi. Ia masih mengenakan baju pantai. Begitu juga kedua gadis berkulit putih itu.


"Di mana aku harus tidur?" 


"Kau ternyata tidak sabaran. Siapa namamu?" tanya gadis berbikini warna hitam. 


"James. James Patek," ia mengulurkan tangan dan disambut girang oleh dua bule yang tak sabar ingin melahap makanan yang ada di depannya. 


Dan akhirnya mereka bertiga bergumul di sana. Di depan televisi yang menyamarkan desahan dua gadis blonde itu.


Dua wanita itu masih terbaring di karpet sementara James sudah menyegarkan tubuhnya dan berganti pakaian. "Apa kalian punya makanan?" tanya James. Perutnya keroncongan. 


"Apa kau kehabisan tenaga? Kami masih sanggup melawanmu." Kedua gadis itu meracau. Tubuhnya tidak tertutupi sehelai benang pun. James menuju ke dapur, membuka kulkas dan mencari makanan. Ia mengambil apel, beberapa keping roti lalu memakannya sambil menonton televisi. Tak digubrisnya kedua wanita di depannya. Dia hanya butuh tempat untuk tidur. Syukur-syukur dapat makanan gratis. 


"Apa kalian punya komputer?" 


"Carilah di kamar James." 


James menuju ke kamar salah satu gadis itu. Ada komputer di atas meja dan ia pun langsung menggunakannya. Membuka website sebuah majalah satwa. Bulan lalu ia memasukkan beberapa foto untuk lomba. Dan hari ini adalah pengumumannya. Jika diterima ia bisa bekerja di majalah itu dan berkeliling dunia. Ia ingin mencari angin baru, yang tak hanya bisa menyejukkan tubuhnya saat kepanasan, tapi juga hatinya.

__ADS_1


__ADS_2