
Ketika pulang kuliah Erika terkejut mendapati apartemen Anna berantakan. Bantal, buku-buku, bahkan makanan yang ada di dalam kulkas tercecer di lantai. Memang Erika tak keberatan membersihkan segala kekacauan yang sahabatnya buat, tapi Anna tak pernah separah ini jika marah. Sebelum-sebelumnya, jika emosinya tak terkendali, ia hanya akan mengumpat.
Sebagai anak tunggal dari keluarga berada, Anna tak pernah kekurangan apapun. Segala yang diminta tanpa harus merengek atau berusaha, orangtuanya pasti akan menurutinya. Namun sebagai gantinya, ia kehilangan apa itu kasih sayang orangtua. Ia tak pernah bermain dengan ayah ibunya, karena mereka tak pernah ada di rumah. Anna hanya dijaga oleh seorang nanny yang telah merawatnya sejak masih bayi.
"Ma, minggu depan waktunya ambil rapor. Mama datang, ya?!" pinta Anna suatu ketika saat menghubungi mamanya yang sedang ada di Milan.
"Gak bisa, sayang. Mama kan harus nemenin papa. Masih ada banyak perlu di sini. Minta bibi mengambilnya. Oke?!" Mama menutup teleponnya begitu saja seolah-olah enggak melayani telepon dari anaknya sendiri.
Gadis yang masih duduk di kelas dua SMA itu pun hanya duduk sambil memandangi makan siangnya. Ia berpikir bagaimana caranya orangtuanya bisa pulang secepatnya. Ia malu diledek oleh teman-teman sekolah dengan sebutan 'anak pembantu'. Secara, selama ini untuk urusan sekolah nanny lah yang mengurusnya.
Tidak, orang lain tak boleh memandang Anna sebelah mata. Ia tak bisa direndahkan. Lakukan sesuatu! Kalimat-kalimat itu terus saja berseliweran di otaknya. Ia ingin orangtuanya segera pulang dan harus!
"Bi? Kunci mobilnya di mana?" teriak gadis yang mengenakan seragam putih abu-abu itu. Rambutnya lurus, hitam, dan wajahnya juga dipoles. Dan polesan itu terlalu tebal untuk anak seusianya.
__ADS_1
"Dibawa pak Dilman, Neng. Udah ditunggu di depan tuh," sahut bibi yang sedang mencuci piring di dapur.
Anna pun langsung ke depan. Menghampiri pak Dilman. "Pak, sini kuncinya."
"Lho, kan bapak nggak ngijinin non Anna nyetir sendiri. Ntar pak Dilman dimarahi bapak, lho."
"Papa gak ada di rumah. Siniin deh pak kuncinya. Kalau gak, Anna marah, nih."
"Non! Buka pintunya. Nanti pak Dilman dimarahi bapak, lho!" teriak pak Dilman sambil menggedor pintu. Anna tak menghiraukan dan langsung tancap gas.
Bukannya pergi ke arah sekolah, Anna justru memutari jalan yang ada di Jakarta tanpa tujuan yang jelas. Meskipun belum punya surat ijin mengemudi, tak masalah buatnya. Toh orangtuanya kaya. Pasti bisa menutup rapat mulut polisi jika dia kena tilang.
Anna terus saja membunyikan klakson. Padahal jalanan kota Jakarta padat merayap di pagi hari. Dan amrah Anna pun semakin tak terkendali. Rasa-rasanya ia ingin menubruk semua kendaraan yang ada di depannya.
__ADS_1
Setelah lolos dari jalanan kota Jakarta yang ramai, ia masuk ke dalam kawasan perumahan. Jalanannya begitu sepi dan anak-anak bisa bermain dengan bebas di sana karena semua penghuni komplek tahu bahwa tempat mereka adalah children friendly.
Meskipun ada tulisan harap mengemudi dengan pelan karena banyak anak-anak, Anna tak mengindahkannya. Ia menginjak gas secepat yang dia bisa dan ketika hendak menikung, ia kaget ternyata ada seorang anak yang sedang bermain sepeda. Karena ngebut, Anna tak bisa mengendalikan kemudinya, anak kecil yang berusia sekitar enam tahun itu terpental bersama sepedanya sedangkan Anna menubruk pagar sebuah rumah. "Keyla!" Seorang perempuan menangis sambil memanggil-manggil gadis cilik yang berlumuran yang tergeletak di pinggir jalan itu. Ia meraung-raung, sangat takut jika putrinya tak bisa bangun lagi
Sehari setelah kecelakaan, orangtua Anna kembali dari Milan dan langsung menuju ke rumah sakit. "Kamu gak apa-apa sayang?" tanya mama ketika baru sampai.
"Anna takut, Mah!" teriak gadis yang sedang tiduran di ranjang dengan luka di kepalanya. Ia tak terluka sebanyak korban, hanya mobil bagian depannya saja yang penyok cukup parah. Tapi toh gak masalah. Papanya langsung bisa membeli mobil yang baru untuk Anna. Sedangkan di ruangan lain, ada seorang anak yang sedang berjuang keras antara hidup dan mati. Ia belum sadar sejak dilarikan ke rumah sakit. Ia mengalami pendarahan di kepala cukup hebat, beruntung golongan darah Keyla dan papanya sama jadi tak perlu menunggu pendonor darah karena kebetulan stok darah di rumah sakit sedang habis
"Mama ada di sini, sayang. Gak usah takut lagi. Oke? Ini semua salah pak Dilman karena membiarkanmu nyetir sendiri." Mama memeluk anak gadis satu-satunya yang terbaring itu dan Anna tersenyum. Mama dan papanya pulang sebelum hari pengambilan rapor sekolah.
"Kamu baik-baik saja, Ann?" Erika menghampiri Anna yang telentang di kasurnya. Pandangan matanya nanar dan tak menyahut saat diajak bicara. Ia membalikkan tubuhnya, melihat sahabatnya, Erika. "Sorry, ya, Rik. Kamu harus beresin kamar ini?" Erika mengelus rambut sahabatnya itu. Ia tak masalah jika harus membersihkan apartemennya sehari penuh. Erika gadis yang pandai dan pintar mengatur waktu. Yang ia takutkan adalah temannya ... ia takut kalau suatu saat ia sedang marah atau merasa tertekan, Anna akan melakukan hal yang lebih parah dari saat ini.
"Apa kau mau air?" Anna menggeleng. Erika lalu mengambilkan selimut dan menutupi tubuh gadis itu. Dan jauh di dalam lubuk hatinya, Erika merasa bersyukur. Meskipun orangtuanya tidak kaya raya, tetapi ia tak kekurangan kasih sayang dan sering menghabiskan waktu bersama. Erika menarik napas perlahan dan menghembuskannya. Ternyata ... hidup orang lain tak seindah yang dilihat. Seperti gunung, dari jauh terlihat indah. Ketika dekat, banyak binatang buas di sana yang siap menerkam siapa saja.
__ADS_1