
Dokter keluar dari ruang operasi. Wajah lesu dan penuh keringat saat dokter tersebut membuka maskernya. Mereka semua yang ada di sana sedang menunggu kabar baik dari dokter.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Dariel tidak sabar mendengar penjelasan dari dokter.
Dokter tersebut menghela nafas kemudian berkata, "kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Maaf kami tidak bisa menyelamatkan istri anda," ucap Dokter. Saat itu juga Dariel merasa dunianya gelap. Kesunyian dan kekosongan langsung menghantam dirinya. Bukan hanya Dariel, semua keluarga yang ada di sana ikut menangis. Adeline kehilangan keseimbangannya. Perawat yang baru saja keluar dari ruang operasi menyuruh perawat lain untuk segera membawa Adeline.
"Casey.." ucap Dariel lirih lalu masuk ke ruang operasi. Melihat wajah pucat pasi Casey yang terbaring di sana.
"Jangan tinggalkan aku sayang.." ucap Dariel menggoyang tubuh Casey.
"Kamu bercanda kan? ayo bangun... kamu membuat ku takut. Jangan bercanda sayang.." tukas Dariel histeris dan menangis kuat.
"Casey... ayo bangun," teriak Dariel keras. Dokter dan perawat pun membawa jasad Casey untuk di pindahkan dari ruang operasi.
"Kalian mau membawa istriku kemana?" bentak Dariel mengikuti dokter dan perawat dari belakang.
"Jangan bawa istriku," ucap Dariel segera di tahan oleh Luvena dan Halton.
"Nak.. biarkan dokter mengurus jasad Casey dulu," ucap Luvena menagis memeluk tubuh putranya.
"Casey... tidak akan meninggalkan kita kan mom," gumam Dariel lirih. Luvena hanya diam menangis tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Ayo jawab mom, Casey baik-baik saja kan mom," lirih Dariel.
Dariel melepaskan tubuhnya dari pelukan Luvena dan berlari mengejar dokter yang membawa jasad Casey.
"Casey... Casey.. jangan tinggalkan aku," ucap Dariel keras.
****
"Casey....." pekik Dariel kuat dan membuka kedua matanya. Keringat di dahinya menetes turun ke pipinya.
"Nak.. kamu sudah sadar.." ucap Luvena menatap putranya.
"Mom.. aku dimana?" tanya Dariel.
Dariel kontan teringat dengan sesuatu. Mimpi buruknya. Tapi rasanya seperti kenyataan. Dariel semakin takut jika mimpi itu menjadi kenyataan.
"Mom.. Casey.." ucap Dariel turun dari atas brankar dengan tergesa-gesa.
"Casey belum selesai di operasi," balas Luvena mengikuti putranya dari belakang.
Dariel kembali ke ruang operasi Casey. Ia melihat Matilda ada di sana sembari menangis di pelukan Adeline. Bagaimana bisa wanita itu menangis. Bukankah ia membenci Casey? lalu kenapa sekarang ia seolah peduli di saat Casey sedang sekarat. Dariel benci itu. Dariel benci karena sikap Matilda pada Casey.
__ADS_1
Dariel duduk di kursi tunggu di samping ayahnya.
"Kamu sudah sadar nak," ucap Halton mengusap punggung putranya. Baru kali ini Halton melihat putranya yang dingin itu menangis kuat. Halton semakin menyadari jika putranya benar-benar mencintai Casey. Dariel hanya mengangguk.
Hampir dua jam lamanya proses operasi yang di jalani Casey. Dokter akhirnya keluar dari ruang operasi. Kontan Dariel berdiri.
"Bagaimana dengan istri saya dok?"
"Bagaimana keadaan putri saya dok?" ucap Dariel dan Matilda bersamaan menghampiri dokter tersebut. Dariel sangat takut sekarang, mengingat mimpinya yang sebelumnya.
"Operasi berjalan lancar. Tapi saat ini pasien kritis dan dinyatakan koma. Berdoalah semoga pasien bisa melewati masa kritisnya," ucap dokter.
"A.. apa.." pungkas Matilda menutup mulutnya. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak terima.
"Berapa lama istri saya akan melewati masa kritisnya?" tanya Dariel.
"Tidak dapat dipastikan kapan pasien akan melewati masa kritisnya. Kemungkinan pasien melewati masa kritisnya hanya 15 persen saja," kata dokter membuat mereka semua terpaku ditempatnya.
Seorang dokter lain yang ikut membantu operasi Casey tiba-tiba keluar dari ruang operasi.
"Dokter kondisi pasien tiba-tiba menurun," ucap dokter itu. Kedua dokter itu masuk kembali.
__ADS_1
"Mom... bagaimana ini? Casey akan baik-baik saja kan?" ucap Dariel menangis memeluk Luvena.
"Casey pasti bisa bertahan nak. Dia anak yang kuat," balas Luvena mengusap lengan putranya.