Happy Ending

Happy Ending
H-3


__ADS_3

"Apa makanan kesukaanmu?" Aku bertanya pada Antonius saat kami sedang makan siang di dapur.


"Tidak ada."


"Cobalah ini. Aku menambahkan sedikit lada cinta dan juga sesendok kasih sayang," balasku lagi sambil menaruh beberapa sendok nasi goreng di piringnya. Antonius memaknnya dengan lahap bersamaan dengan buncis rebus yang dicampur dengan saus tahini. 


"Kamu menyukainya?" Antonius mengangguk. 


"Makanlah. Anna akan datang hari ini."


"Anna? Siapa dia?"


"Perempuan." 


Grrrrrrhhh!!! Aku tahu Anna itu perempuan. Masalahnya dia itu siapa? Aku menghabiskan nasi goreng dipiringku dengan cepat. Karena gemas, tiba-tiba nafsu makanku meningkat.

__ADS_1


"Mas, ada tamu ...," teriak bibi dari depan diikuti seorang wanita. Antonius pun meninggalkan piringnya yang masih tersisa beberapa sendok lagi makanan dan memilih untuk menyambut tamunya. 


Aku tidak mengikutinya dan memilih melihat dari jauh. Wanita itu? Bukankah dia yang pernah ke sini? Antonius terlihat antusias ketika perempuan bernama Anna itu datang. Dan pria itu menyambutnya dengan pelukan dan ciuman di pipi kiri dan kanan. Dasar play boy!


Aku menyudahi makanku. Dan sisanya kumasukkan dalam box dan menyimpannya di kulkas. Aku melakukan hal yang sama pada makanan yang ada di piring Antonius. Aku tak mau membuang makanan karena diluar sana banyak sekali orang yang kelaparan dan susah cari makan. Meskipun kata pakar kesehatan menyimpan sisa makanan di kulkas tidak baik, toh nyatanya masih banyak yang melakukannya dan mereka sehat-sehat saja.


Setelah selesai mengemas makanan aku mencuci piringnya. Sengaja menimbulkan suara agar dua orang yang sedang asik berduaan di sana sambil berdiri dan tertawa-tawa mendengarku. 


Piring sudah bersih, gelas sudah kinclong, meja sudah dilap. Saatnya pergi karena tiba-tiba aku merasa gerah di rumah. 


"Kenalkan. Anna temanku," ucap Antonius santai dan wajah yang merekah. Sedangkan perempuan yang berdandan menor itu mengulurkan tangannya padaku.


Ia memakai pakaian yang sangat ketat seperti lontong yang dibungkus daun pisang dan belahan dadanya terlihat menyembul. Inikah selera Antonius? Ia melarangku memakai pakaian mini didepan laki-laki selain dirinya, tapi dia menyukai perempuan yang berpakaian seperti ini? I can't believe it!


"Keyla." Aku mengulurkan tangan dengan terpaksa dan tentu saja aku tidak mau tersenyum ramah. Enak saja. Sudah mengganggu makan siang orang lain, geni-genitan pula dengan pasangan orang.

__ADS_1


"Ah ... senang bertemu denganmu, Key. Biasanya hanya melihatmu di layar komputer."


"Oh, benarkah? Aku tidak menyangka perempuan modis sepertimu menyukai dunia memasak."


"Sebenarnya aku tidak suka memasak. Membuat jemari-jemari lentikku ini kotor dan rusak. Aku hanya penasaran seperti apa wanita yang disukai Stevan. Benarkan, Steve?" bantahnya sambil memperlihatkan jemarinya yang dicat warna hijau tua dan diberi manik-manik.


Cih. Perempuan itu benar-benar seperti nenek sihir. Dan anehnya, Antonius mengiyakan sambil tertawa kecil. Apakah dia sedang bahagia sekarang? Bertemu dengan wanita itu? 


"Apakah ada yang lain, Antonius? Jika tidak aku ingin ke atas. Mengobrollah dengan santai berdua saja bersama temanmu," kataku datar sambil berbalik. 


"Stevan, apakah tunanganmu tahu kau mengidap Augesia?" 


Tiba-tiba langkahku terhenti mendengar ucapan wanita itu. A? A apa? Augesia? Apakah itu semacam penyakit? Kelainan? Atau sakit jiwa? Ah, entahlah. Aku tidak peduli. 


Setelah sampai di kamar, aku mengambil tas dan ponselku. Memesan driver untuk mengantarkanku pulang ke Jakarta. Dan untuk antisipasi aku tidak ingin menelepon mama atau papa karena mereka pasti melarang.

__ADS_1


Aku tahu pernikahan kami tiga hari lagi. Tapi aku sudah tidak tahan karena ternyata banyak hal yang tidak aku ketahui. Dan yang lebih menyebalkan lagi, sepertinya si penyihir itu tahu banyak tentang Antonius dibanding denganku dan mereka terlihat lebih dari sekadar teman.


__ADS_2