Happy Ending

Happy Ending
Terungkapnya Rahasia


__ADS_3

"Hai James ... kapan kau pulang?" Erika berteriak dari dapurnya. Sedangkan James dan Awan sedang membersihkan rumah Bunny sambil bermain. Setiap ada kesempatan, James memang lebih memilih menghabiskan waktu dengan Awan untuk mempererat ikatan mereka. Terkadang, James memiliki ketakutan jika Awan tahu jika dia bukanlah ayah yang sebnarnya. Ia tak mau kehilangan harta yang paling berharga baginya.


"Hai, Er. Tadi pagi. Apa kau sedang ada tamu?"


"Ya. Kemarilah. Kita makan siang bersama. Keyla? Aku menunggumu tadi malam untuk makan."


"Sorry, Erika. Aku terlalu lelah semalam."


"Baiklah. Yang penting hari ini kita makan bersama. Lihatlah, aku sudah menyiapkannya." 


Aku sebenarnya enggan pergi ke rumah Erika, tapi James dan awan buru-buru cuci tangan dan melompat pagar. Sedangkan aku pura-pura memetik tomat yang memang sudah merah. 


"James, ini Steve. Steve ini James. Suaminya Keyla." Erika memperkenalkan kedua pria itu yang sama-sama tampan, sama-sama memiliki tubuh yang kekar, dan sama-sama pria yang ada di dalam hidupku. Aku memasang telinga lebar-lebar agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tentu saja aku bukan menguping. Suara Erika sungguh keras padahal tubuhnya mungil. 


"Apa kau akan lama tinggal di sini, Steve?"


"Ya. Mungkin sampai aku menemukan istriku." Mereka mengobrol sambil membolak balikkan ayam yang sedang dipanggang. Aromanya membuat perutku keroncongan. 


"Kemana istrimu kalau aku boleh tahu?" 

__ADS_1


"Sepertinya dia marah padaku. Dan ngambek." 


"Hahaha ... istrimu sangat kreatif sekali. Ngambek sampai pergi ke luar negeri." Tawa James ditimpali Antonius. "Eh, benarkah itu Steve? Kau tidak pernah bercerita tentang istrimu?" Erika menyela. Kaget. Karena baru pertama kali mendengar kisah rumah tangga Antonius. 


"Dia memang memiliki banyak ide. Itulah sebabnya sampai 5 tahun berlalu aku belum menemukannya."


"Wow. Apakah dia pergi dengan lelaki


lain?"


"Entahlah. Mungkin aku tahu jika sudah bertemu dengannya. Apakah istrimu tidak ikut makan?"


"Kemarilah, Key. Bantu aku menyiapkan piknik kecil-kecilan." Erika tak mau kalah dan suaranya lantang yang menarikku secara paksa ke dalam suasana yang aneh. Satunya suamiku, dan yang yang satunya lagi calon suamiku.


Seperti biasa, aku melompat pagar. Kemudian mencuci tomat dan menaruhnya di pring yang telah disediakan Erika.


"Key, kemarilah." James menyuruhku untuk mendekat dan aku menurut. "Apa kau sudah berkenalan dengannya?" lanjut James. Aku mengangguk dan melingkarkan tanganku ke pinggang James untuk pertama kalinya. Pria yang sedang mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan itu langsung rambutku dengan lembut. Sedangkan di sana ada sepasang mata yang mengamati.


"Apa ayamnya sudah matang, James?" 

__ADS_1


"Sepertinya sudah." James mengambil piring di dekatnya dan ditaruhnya pototongan ayam. "Apakah ayammu sudah matang, Steve?" 


"Ah, entahlah. Aku tidak begitu pandai memasak. Biasanya istriku yang memasak." James melihat ayam-ayam itu. Membolak baliknya beberapa saat dan mengangkatnya. 


Kami duduk melingkar di atas tikar. James di sebelah kiriku, Awan di sebelah kanan disusul dengan Antonius dan Erika. Aku menaruh nasi putih dan ayam bakar yang telah kusuwir ke piring Awan. Ia memakannya dengan lahap. "Apa kau menyukainya, Prince?" Awan mengangguk. "James, makanlah," kataku sambil mengambilkan nasi dan sepotong paha. "Apa kau mau sambal?" 


"Boleh." 


Kutaruh sesendok sambal di piringnya. James makan menggunakan tangan. Dan sesekali menyesap jari-jarinya yang berlumuran bumbu. 


"Erika. Apa kau mau mencoba?" Aku menyodorkan letuce yang kuisi dengn suwiran ayam, mentimun dan sambal.


"Ini enak sekali, Key. Aku ngerasa sedang ada di Indonesia," kata Erika setelah memasukkan bungkusan lettuce ke dalam mulutnya. Sepasang mata mengamatiku. Barangkali ia berharap aku akan menawari makanan. Tapi aku sedang tidak ingin melakukannya. "Bolehkah aku mencobanya?" Antonius menunjuk lettuce di depanku. "Tentu. Ambillah sebanyak yang kau mau." Tangannya yang panjang meraih piring dan mengambil beberapa lettuce.


"Apa kau menyukainya, Steve?" tanya Erika pada sahabatnya.


"Ya. Ini enak sekali." Ia menjawab singkat sambi melihatku. "Seperti masakan istriku," lanjutnya kemudian yang tiba-tiba menjadikan susana makan siang kami canggung dan diam untuk sesaat. Hanya suara piring dan sendok Awan yang bersuara.


"Sebenarnya apa tujuanmu ke sini?" tanyaku setengah berbisik ketika kami selesai makan siang. Antonius diam sambil melipat tikar. "Apa kau tau aku ada sini?" Dia diam lagi. "Kau tidak pernah berubah. Egois dan selalu memikirkan dirimu sendiri." Aku meninggalkannya dan menyusul yang lain di dalam rumah. Mereka sedang menikmati teh sore sambil menonton televisi.

__ADS_1


"Aku memang egois. Itu sebabnya aku menyesal," kata Antonius sebelum aku pergi meninggalkannya dan aku memilih untuk tidak mendengarnya.


__ADS_2