
"Semoga aku tidak mengganggumu, Key." Bima mengawali pembicaraan. Ia duduk di sebelah Keyla. Tepatnya, Keyla diapit oleh mantan kekasih dan juga suaminya.
"Tidak. Aku hanya tak menyangka kamu akan datang ke rumah. Oya, di mana Victor?" Keyla sudah bisa menebak. Pasti dia tahu alamat rumahnya dari Victor. Memangnya dari siapa lagi? Gak mungkin kan Bima tiba-tiba nyasar di depan pintu rumah Keyla?
"Sibuk kerja," jawab Bima sambil meneguk secangkir kopi yang ada di hadapannya.
"Bisakah kamu geser sedikit?" Keyla melirik Darrel dengan kesal. Masih banyak space tempat duduk tapi Darrel memilih berhimpitan dengannya. Seolah-olah mereka sedang naik Kopaja. "Lihatlah. Masih banyak sisa tempat. Duduklah di sana." Ia menunjuk sofa yang kosong.
"Kenapa tidak kau saja yang duduk di sana?"
"Oke. Fine!" Keyla beranjak dari sofa dan duduk di pojokan. Padahal tadinya ia ingin duduk di sebelah Bima untuk membuat suaminya cemburu, gagal sudah rencananya!
"Ada apa ke sini?" Darrel bertanya pada Bima yang terlihat asik menikmati kopi di tangannya.
"Hei! Harusnya aku yang bertanya!" Keyla menyela.
"Sepertinya aku datang di waktu yang salah. Hehehe." Bima menimpali pembicaraan. Ia bisa menangkap tatapan mata Darrel yang ingin sekali mengusirnya.
"Ternyata otakmu lebih pintar, sekarang. Pulanglah. Jangan kemari lagi," balas Darrel menepuk pundak Bima yang baru saja meletakkan cangkir putih polos yang dibeli Keyla di supermarket saat ada diskon. Bima sampai mengernyitkan dahi karena tepukan itu sangat kuat. Untung saja ia tak sampai patah tulang!
"Antonius? Bima adalah tamuku. Naiklah ke atas. Jangan mengganggu. Oke?"
__ADS_1
"Kau adalah istriku. Tamuku adalah tamuku juga."
"Hei ... hei ... sudahlah. Jangan ribut lagi." Bima berusaha melerai pertengkaran suami-istri itu. "Aku hanya ingin mengundang kalian ke acara pertunanganku. Aku harap kalian bisa datang." Lanjut Bima meletakkan undangan berwarna keemasan di atas meja.
"Itu berita bagus!" Keyla mengambil undangan itu. Saat membukanya, ada foto Bima dan juga calon istrinya yang mengenakan gaun pengantin berwarna merah cerah. "Sangat cantik!"
"Ya ... kami bekerja di bidang yang sama."
"Apakah kalian sudah lama pacaran?"
"Hmmm ... tidak. Tapi, aku sudah mengenalnya cukup lama."
"Baiklah. Akan kupastikan kami datang."
"Hahaha. Kau terlalu khawatir!" Bima menepuk punggung Darrel dengan keras lalu berdiri. Rasakan pembalasanku!
"Pulang?" Keyla ikut-ikutan berdiri.
"Ya. Sepertinya ada orang yang tidak senang dengan kedatangan ku."
"Ternyata kau tahu diri," kata Darrel dingin dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.
__ADS_1
"Kamu adalah temanku, Bima. Aku sangat senang bertemu denganmu. Kuharap kita akan bertemu lagi."
"Sure," jawab Bima mendekat ke arah Keyla dan memeluk perempuan itu dengan lembut. "Lain kali mari kita makan siang bersama."
"Dengan senang hati." Keyla menepuk-nepuk punggung Bima. Ia turut senang akhirnya mantan kekasihnya akan menikah.
Darrel menarik tangan Keyla hingga tubuh perempuan itu menempel pada suaminya. Ia baru saja menutup pintu saat Bima keluar dari apartemennya. Dilingkarkan tangannya yang besar dan berotot di pinggang istrinya yang ramping. "Ingin membuatku cemburu?"
"Hmmphh! Terlalu percaya diri." Keyla memalingkan wajahnya ke arah kanan. Ia sedang tak ingin melihat wajah suaminya. "Hei! Lepaskan. Ada anak-anak!" lanjutnya lagi ketika Darrel menekan tubuhnya agar semakin mendekat.
"Aku tidak keberatan." Darrel menyeringai. Melihat ke dalam mata Keyla dengan tatapan menggoda.
____🤟🤟___
-Side part-
"Binbin ... apa kau tahu siapa yang datang barusan?" tanya Missy menutup pintu dengan perlahan. Sejak tadi, ia dan Bintang mengintip ke arah ruang tamu.
"Tidak. Apa kau tahu?"
"Aku juga tidak tahu. Yang kutahu dia adalah pria dewasa yang tampan."
__ADS_1
"Eheem! Apa kalian sudah puas mengintip?" tanya Awan yang terlihat kesal dengan kelakuan adik dan temannya.