
"Dia pasti kelelahan." James mengusap dahi Awan yang sudah tertidur pulas. Setelah makan siang tadi ia bermain dengan Bunny di halaman belakang.
"James ...."
"Hmmmm?"
"Aku ingin bicara."
Kami pun berjalan kelur kamar agar tidak membangunkan Awan. "Apa kau mau teh?" tawarku ketika kami di dapur. Ia menggeleng. "Duduklah." James menepuk-nepuk kursi agar aku duduk di sebelahnya. "Apa yang ingin kau bicarakan?" lanjutnya lagi sambil menatap ke arahku yang terus menunduk. "Bicaralah, Key," ucapnya halus. Digenggamnya tanganku dengan hangat. "Steve ... aaad," jawabku terbata. Aku tak yakin apakah harus menceritakan hal yang sebenarnya padanya atau tidak. Ia lalu bangkit dari kursinya kemudian memelukku. Dan untuk bertama kalinya aku sedekat itu dengannya. Mendengar detak jantung serta hembusan napasnya. "Apa kau ingin berbicara tentang suamimu?" Aku mendongak ke atas. Melihat wajah James. Darimana ia tahu apa yang ingin aku bicarakan?
"Jika itu yang ingin kamu bicarakan, lebih baik tidak usah."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah tahu."
"James?"
__ADS_1
"Itu sebabnya aku pulang lebih cepat. Orangtuamu mengirimkan email padaku setelah kau bilang ingin menikah denganku."
"Padahal aku ingin memberitahumu sendiri tentang pernikahan itu." Aku menunduk lesu dan pria itu tetap mendekapku.
"Mama bilang, Stevan selama ini mencarimu. Ia sering bertanya pada orangtuamu di mana kamu tinggal? Tapi mereka tidak memberitahu karena mereka juga tidak tahu. Hingga suatu ketika Stevan tahu kalau orangtuamu pergi ke Kanada. Dan dari situ ia mulai mencari tahu tentangmu."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, James? Aku tidak tahu bagaimana cara memberitahukannya pada Awan. Aku juga tidak ingin Antonius tahu bahwa Awan adalah anaknya. Kamu papanya, James. Selama ini kamulah yang menjadi papa Awan dan akan selalu begitu!"
"Sssstttt. Tenanglah, Key. Kita hanya perlu menunggu waktu untuk menjawabnya. Bagaimanapun, Stevan masih berstatus suamimu dan Awan adalah anaknya. Mereka sama-sama memiliki hak untuk saling mengetahui satu sama lain."
"Kita menunggu waktu yang tepat. Dan mungkin sekarang bukan saatnya.
Keesokan harinya aku melihat dari jauh James yang sedang mengobrol dengan Antonius sambil menemani Awan bermain dengan Bunny di belakang rumah. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan karena aku hanya sesekali mengintip dari balik jendela. Sesekali mereka tertawa, kemudian terlihat serius dengan apa yang mereka bicarakan. Dan aku terus terang tidak mengerti apa yang ada di pikiran James. Aku telah memutuskan hal itu karena kupikir itulah hal terbaik untuk Awan.
"Lalu bagaimana denganmu, Key? Bagaimana dengan kebaikanmu? Apakah kamu menginginkan pernikahan itu?" tanya James tadi malam. Tentu saja aku menginginkan pernikahan itu. Apapun yang terbaik untuk Awan akan baik juga untukku. Dan soal kepulanganku ke Indonesia ... sejujurnya aku lebih nyaman berada di sini dan tidak ada keinginan untuk kembali ke Indonesia. "Kamu belum bisa memaafkan masa lalumu, Key. Itu sebabnya kau terus menghindar. Menghindar dari orang-orang di masa lalumu, dan menghindar dariku," katanyaa terakhir kali sebelum mengucapkan selamat malam dan ia masuk ke kamarnya. Sedangkan aku masih duduk di kursi dan memikirkan apa yang James katakan.
"Apa yang kalian bicarakan, James?" tanyaku ketika saat James masuk ke dalam rumah dan mendekatiku yang sedang memasak. "Di mana Awan?" lanjutku dengan nada kaget ketika tidak melihat Awan di belakang papanya.
__ADS_1
"Dia sedang bermain dengan Papanya, Key."
"Kamu Papanya, James! Bukan yang lain!" Buru-buru aku ke belakang rumah tapi Awan tidak ada sana. Aku melompati pagar dan mengetuk-ngetuk pintu rumah Erika. "Dimana Antonius, Erika? Di mana dia?" Erika kaget melihatku menerobos masuk begitu saja dan mencari-cari seisi ruangan untuk mencari Awan. "Key, Awan tidak ada di sini. Ia sedang bermain dengan Steve ... maksudku, Papa kandungnya."
Mendengar ucapan Erika aku pun berbalik. Apakah dia telah mengetahui semuanya? Apakan Antonius yang menceritakannya? "Papa Awan hanya James, Erika! Tidak ada yang lain!" Aku pergi dari rumah Erika kemudian mencari ke sekeliling hingga ke ujung gang. "Hai Daniella, apa kau melihat Awan?" tanyaku dalam bahasa Perancis pada wanita paruh baya yang tengah menyirami sayurannya di depan rumah. Ia menunjuk ujung danau. Ke arah taman bermain anak-anak.
Aku berlari sekencang mungkin. Memutari danau dan menghiraukan pemandangan musim gugur yang indah. Dedaunan yang berwarna warni tak mampu mengalihkan perhatianku dari Awan. Dari jauh aku mampu melihatnya. Bermain prosotan dengan pria yang hingga kini aku belum bisa menerimanya lagi hadir dalam kehidupanku.
"Awan!" Aku berteriak. Lari ke arahnya. Kupeluk dan kuciumi tubuhnya yang kecil. "Tidak seharusnya kau membawanya tanpa seizinku, Antonius."
"James telah mengizinkan, Key."
"Aku ibunya. Aku yang melahirkannya. Tidak ada yang boleh menyentuh Awan tanpa sepengetahuanku."
Aku meninggalkan Antonius yang berusaha mencegahku. "Key, dengarlah pnjelasanku! Kumohon!"
Aku mengabaikannya. Kugendong Awan menjauh dari tempat itu sejauh yang kubisa. "Mama marah sama Om itu? Papa bilang, Awan punya dua papa." James kah yang mengatakan itu? Apa maksudnya melakukan hal ini semua?
__ADS_1