
Cemburu atau egois? Keyla sedang menimbang-nimbang perasaannya sendiri. Ketika mengetik nama Darrel Douglas di mesin pencarian Google, banyak sekali berita tentangnya. Selain tentang buku-bukunya yang laris manis dipasaran, penghargaan buku tetbaik, karya yang difilmkan, gosip mengenai hubungannya dengan banyak gadis pun tak kalah ramai.
"Panggil aku sesukamu, Key," jawab Darrel dengan lembut. Mengeratkan tangannya hingga Keyla bisa merasakan sesuatu yang mengganjal dari bawah.
"Lepaskan aku." Keyla berusaha melepaskan diri.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Suara itu terdengar sedang menggoda. Keyla merinding dibuatnya dan merasakan tubuh bagian dalam sedikit bergetar.
"Apa kamu sering melakukan ini pada gadis-gadis di sekitarmu?" tanya Keyla. Ia mengontrol suaranya agar tak terdengar sinis atau cemburu.
"Kau cemburu?" Darrel menggigit punggul Keyla. "Ahhhh!" Suara yang dikeluarkan Keyla justru membuat laki-laki itu makin bersemangat.
"Aku sudah tidur dengan banyak wanita, Key. Tapi, tidak ada yang sepertimu," lanjutnya lagi dengan tangan yang menurunkan resleting gaun wanita yang ada di pangkuan.
"Apa kamu mencintai mereka?" Keyla bertanya dengan nada bergetar.
"Aku hanya mencintai ibu dari anakku," jawab Darrel mengecup lembut punggung yang terbuka di depannya.
"Bisakah kamu menghentikannya?"
"Aku tahu kau menginginkannya. Sejak awal kau tak menolak, Key. Kau masih mencintaiku, kan?! Kalau kau mencintaiku kenapa menikahi pria lain?!"
"Kenapa kamu marah? Kenapa kau meninggikan suaramu?" Keyla beranjak dari tempat duduknya yang tak lagi membuatnya nyaman lalu berbalik ke arah Darrel. "Kamu yang tidak peduli padaku! Kamu lebih percaya pada sahabatmu! Kamu lebih mementingkan Anna dibanding istrimu sendiri! Rasa bersalahmu kepada Anna atas kematian suami dan anaknya lah yang menyebabkan rumah tangga kita tidak bahagia. Keegoisanmu lah yang membuatku kecewa. Sekarang kamu menyalahkanku, Antonius? Apa kamu lupa? Dia hampir membunuh Awan. Darah dagingmu sendiri!"
"Keyla. Bukan begitu maksudku," balas Darrel beranjak dari sofa.
"Lalu apa maksudmu? Ha? Aku istri yang berselingkuh dengan pria lain? Aku kah yang menghianati pernikahan kita? Jika kamu sebaik dan seperhatian seperti James, aku tidak akan pernah meminta cerai darimu!"
Oh, betapa kata-kata Keyla menghujam jantung, Darrel. James? Kenapa dia membawa-bawa nama pria lain saat mereka bertengkar.
"Apa kau sangat mencintai, James? Apakah dia lebih hebat dariku?"
"Ya! Aku sangat sangat sangaat mencintainya! Ia lebih baik darimu dalam banyak hal! Dia juga mampu memuaskanku di ranjang! Ia memperlakukanku dengan lembut. Tidak kasar sepertimu!"
Tanpa berkata-kata lagi, Keyla naik ke kamarnya dan menjatuhkan diri di tempat tidur.Sementara Darrel, keluar dari rumah Keyla dengan perasaan marah.
------🗼🗼🗼🗼🗼-------
Marah? Bukankah tempo hari ia bilang dengan senang hati jika Keyla marah padanya? Kenapa sekarang justru sebaliknya? Tidak. Darrel tidak marah hanya karena Keyla marah. Ia marah karena kenapa perempuan itu menyebut nama pria lain yang katanya lebih bisa memuaskannya di ranjang. Oh, tidak! Tercabik-cabik sudah harga diri Darrel!
Darrel keluar dari pintu rumah Keyla dengan bertelanjang dada menuju apartenennya sendiri. Begitu masuk ke dalam, pria itu menendang sofa dan meja lalu berjalan menuju kulkas. Diambilnya beberapa bir keleng dan membawanya ke sofa yang letaknya sudah bergeser dari tempat yang semestinya.
Pria itu membuka kaleng bir dan menenggaknya sekali habis kemudian menggenggam erat hingga kaleng itu mengempis lalu melemparkannya ke arah depan. Darrel tak pernah menyangka jika Keyla akan mengungkit soal James di depannya. Terlebih lagi saat perempuan itu berkata bahwa suaminya lebih bisa memuaskannya di ranjang dan dia lebih mencintainya dibanding dirinya.
Hal paling memuakkan dan seolah diinjak-injak jika pria dibanding-bandingkan kejantanannya. Sama halnya seperti wanita yang tak suka dibandingkan kecantikan serta bentuk tubuhnya.
__ADS_1
Apakah aku cemburu pada orang yang telah mati?
Darrel menekan-nekan pelipisnya. Rasanya darahnya memuncak dan kepalanya terasa sakit. Ia membuka kaleng bir satu demi satu dan meminumnya hingga habis. Bahkan ia tak meninggalkan setetespun di dalam kaleng.
Apa kau sudah gila, Steve? Darrel bertanya pada dirinya sendiri dan sebuah pertanyaan dari Keyla berdengung di telinganya," Bagaimana aku harus memanggilmu? Stevan Antonius atau Darrel Douglas?" Damn it! Darrel mengumpat. Semua nama hewan sekebun binatang diucapkannya!
Sementara itu, di tempat lain, di dalam kamar yang agak gelap karena pemiliknya enggan menyalakan lampu, sedang terbujur tubuh seorang Keyla yang sedang bimbang layaknya remaja ketika jatuh cinta. Ia berguling ke kanan, ke kiri, telungkup, telentang, mencoba mencari posisi yang nyaman namun sama sekali tak menemukannya.
Dia mencoba mengusir jauh-jauh pikirannya yang negatif. Kenapa dia harus mempermasalahkan mantan suaminya yang pernah tidur dengan banyak wanita sehingga hal itu merembet ke mana-mana. Toh, posisinya mereka tak memiliki hubungan apa-apa. Terlebih lagi, Darrel adalah pria normal, tampan, mapan dan sebelumnya pernah menikah. Selain itu, bukankah dulu saat mereka menikah, Antonius yang kini mengubah namanya menjadi Darrel, sama sekali tak mempermasalahkan kegadisannya? Keyla merasa putus asa dengan hatinya dan pikirannya sendiri. Dia merasa bersalah sekaligus kesal.
Karena tak ingin tenggelam dengan pikirannya sendiri yang tak stabil akibat dipengaruhi hormon Estrogen, Keyla memilih untuk menyibukkan dirinya sendiri dengan cara membersihkan kamarnya yang sudah bersih. Bahkan, debu pun tak berani menempel di mejanya. Setelah itu ia turun ke lantai bawah, melihat meja makan, Keyla pun membuka tudung saji. Sayuran rebus dan juga ayam panggangnya kini sia-sia. Terongok begitu saja di meja karena awal mulanya ia menyiapkan makan malam untuk Darrel.
Ya sudahlah! Ini semua salah pria itu! Gerutu Keyla kembali menutup tudung saji dan mulai mengelap meja, rak, buku, apapun yang bisa dibersihkan. Untuk membunuh waktu, ini adalah satu-satunya hal yang dilakukan. Namun begitu selesai, ia justru kelelahan dan akhirnya kehabisan energi.
Tenangkan dirimu, Keyla. Kamu bukan lagi anak remaja. Jangan bilang kamu sedang mengalami puber kedua?
Tok ... tok ... tok ....
Suara pintu terdengar sedang di ketuk. Keyla yang tadinya menyandarkan punggungnya di sofa, berdiri dan membuka pintu. "Hai, Keyla!" sapa Victor penuh dengan semangat sambil mengangkat dua kotak kardus. Dari aromanya, pizza dan juga ayam goreng tepung yang masih panas dan terlihat menggugah selera. Tanpa disadari, Keyla pun menelan ludah.
"Masuklah." Keyla mempersilakan dan tanpa ragu, pemuda itu pun duduk di sofa Keyla yang terasa empuk, nyaman dan dari bentuknya, sofa itu terlihat mahal.
"Apa kau sudah makan malam? Aku memesan pizza dan ayam goreng. Aku ingin berbagi denganmu dan juga anak-anakmu. Apakah mereka sudah tidur?"
"Sayang sekali," balas Victor dengan wajah sedikit kecewa sambil membuka dua kotak kardus di depannya.
"Apa kau punya soda?" tanya Victor pada Keyla yang tengah mengamati ayam goreng. Di benaknya, ia sudah memikirkan bagaimana gurihnya kulit-kulit sayap ayam itu ketika masuk ke dalam mulutnya.
"Aku tidak punya soda. Apa kamu mau orange juice?" tanya Keyla sambil melangkahkan kakinya ke dapur.
"Aku bisa meminum apapun!" teriak Victor santai sambil menggigit pizza dengan topping mushroom, tuna dan juga red pepper.
Keyla kembali dari dapur. Membawa dua buah gelas dan juga sebotol orange juice yang masih utuh. Dan tanpa ragu, Keyla pun mengambil sepotong sayap ayam dan mulai menggigitnya. Rasa gurih dan renyah di lidahnya, membuat lelah dan emosinya menguap begitu saja. Sekilas dia berpikir, apakah kemarahan dan kebingungannya disebabkan oleh rasa lapar? Keyla terkekeh dalam hati.
"Terima kasih, Victor. Berkat ayam goreng yang kamu bawakan, suasana hatiku membaik."
"Oh, aku sungguh kecewa. Kukira karena kedatanganku kau merasa menjadi lebih baik."
"Hahaha." Keyla tertawa sekenanya. Ia merasa Victor adalah teman yang sudah lama kenal dengannya. Tak merasa canggung, atau pun timbul perasaan untuk berbasa basi. Obat stress terbaik adalah makanan dan teman untuk mengobrol. Pikir Keyla.
"Victor? Apakah kamu bekerja di sini?"
"Tidak. Hahaha. Aku hanya seorang pengangguran. Hahaha." Tentu saja Keyla tak mempercayai kata-katanya. Seorang pengangguran, mana mungkin bisa membeli apartemen mewah? Karena tak mungkin Victor menyewanya. Jika hanya menyewa, kenapa tak memilih apartemen yang harganya murah.
"Itu kah sebabnya rumahmu masih kosong melompong?" balas Keyla diikuti tawanya.
__ADS_1
"Hahaha. Kau benar, Key. Aku belum memiliki cukup uang untuk membeli furniture."
"Tapi kamu punya cukup uang untuk membeli pizza dan ayam goreng?"
"Aku tidak menyangka kau punya selera humor yang bagus. Lain kali kalau aku sudah memiliki uang, kau harus membantuku membeli furniture." Victor berbicara serius kemudian diakhiri dengan tawa seperti biasa. Dan tanpa terasa, kedua box itu hanya tersisa remahan-remahan.
"Aku kenyang sekali, Victor. Aku tidak sanggup berdiri."
"Aku masih sanggup makan lagi. Hahaha," balas Victor meneguk cairan berwarna orange itu dengan sekali minum gelasnya langsung kosong.
"Dari mana asalmu, Victor?"
"Ibuku orang Maroco dan ayahku orang Prancis. Itu sebabnya wajahku tampan. Setelah beberapa tahun tinggal di Tanzania, aku memutuskan untuk tinggal di Paris. Apa kau naksir padaku?"
Keyla tersedak ketika mendengar ucapan pria yang duduk di depannya. "Apa kamu tahu berapa usiaku? Aku lebih tua darimu."
"Usia tidak jadi masalah. Yang penting kau tidak bersuami. Bukankah kau bilang tinggal sendirian? Itu artinya kau tidak punya suami."
"Bagaimana kalau suamiku bekerja?"
"Oh, itu tidak mungkin, Keyla. Dari kalimatmu terdengar kalau kau sedang sendirian. Maksudku, statusmu yang sendiri."
Saat sedang mengobrol, terdengar suara orang mengetuk pintu. "Sepertinya ada orang yang datang." Keyla beranjak dari sofa dan saat membuka pintu, Darrel telah berdiri dengan muka masam.
"Ada apa lagi? tanya Keyla dengan nada yang dibuat seolah dia sedang kesal. Tanpa menjawab, tangan Darrel yang berotot menarik tubuh Keyla ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, Key."
"Ada orang di dalam. Lepaskan aku." Keyla mendorong tubuh Darrel agar menjauh darinya.
"Aheeem! Sepertinya aku harus pulang sekarang." Victor merasa canggung dan malu menyaksikan pria yang tiba-tiba datang dan memeluk Keyla.
"Lebih cepat lebih baik. Atau aku yang akan mengusirmu dari sini!" sahut Darrel menunjukkan ketidak sukaannya saat melihat Victor. Pria itu terlihat muda dan tampan. Nampaknya ia juga menaruh hati pada mantan istrinya. Mata kedua itu saling melihat ketika mereka berpapasan. Seandainya tak ada Keyla, barangkali sekarang mereka langsung beradu jotos.
"Terima kasih, Victor. Lain kali kita mengobrol kembali," ucap Keyla lalu menutup pintu sesaat setelah Victor keluar.
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan, Antonius?" tanya Keyla sambil berjalan menjauhi Darrel.
"Kau bisa tertawa dengan pria lain. Denganku, kenapa begitu sinis?" Darrel menarik tangan Keyla dan secepat kilat ******* bibir wanita itu dengan ganas. Keyla memekik, berusaha mendorong tubuh Darrel namun itu hanya hal yang sia-sia.
---------🗼🗼🗼🗼🗼--------
Yang ada di pikiran Keyla :
Malaikat ; Keyla! Keluarkan seluruh tenagamu! Bukankah kau sudah menghabiskan beberapa potong ayam goreng dan pizza? lari kemana energimu? Dorong sekuat tenaga. Jangan biarkan dia menciummu.
Setan : Sudahlah, Key. Menyerah saja. Lagipula kau menyukai ciuman yang ganas daripada yang lembut. Iya, kan? Jangan suka pura-pura. Nanti Antonius diambil orang, loh.
__ADS_1