Happy Ending

Happy Ending
James


__ADS_3

"Papa, give me more, please."


"No, Boy. That's enough for today."


"No, Papa. I want more. I want more!"


Terlihat Awan mulai berpura-pura menangis dan mengguling-gulingkan badannya di lantai dapur. Dan saat melihatku ia berlari ke arahku," Mama. Lihatlah Papa," sambil menunjuk ke arah James yang sedang menikmati sarapannya. "Papa tidak memberikanku coklat hari ini."


"Benarkah?" tanyaku sambil membungkukkan badan dan mencubit hidungnya karena gemas.


"Mmmmm. That's not fair, Mama!" Awan mulai pandai memprotes kebijakan yang kami terapkan dalam mendidiknya. 


"Baiklah kalau begitu. Mama akan menghitung berapa sisa coklat yang ada di laci dapur." Aku berpura-pura akan jalan ke dapur sedangkan James yang melihat kami berusaha menahan tawanya.


"Sepertinya Bunny memakan jatah coklat hari ini. Aku akan bersabar menunggu besok," sergah Awan menggandeng tanganku agar menjauh dari dapur. Aku dan James tertawa bersamaan. Sejak pangeran kecilku sakit gigi karena terlau banyak makan coklat, aku dan James hanya memberi jatah satu coklat untuk satu hari. 

__ADS_1


"Come on, Boy! Apa kau mau extra coklat hari ini?" Awan tiba-tiba sudah berada di pundak James. "Yes, Papa!" Awan kegirangan menyambut tawaran papanya. "Ayo kita bersihkan rumah Bunny. And i will give you more chocolate!" James kemudian berlari menuju kandang Bunny yang terletak di halaman belakang. Tawa Awan terdengar begitu riang dan nyaring dari dalam rumah. Sedangkan James terlihat menikmati perannya sebagai orangtua. 


Aku bertemu dengan lelaki keturunan Indonesia-Itali itu lima tahun lalu saat berada di Singapura. Dua hari setelah Antonius meninggalkan hotel, aku menuju China Town dan mencari penginapan yang lebih murah di sana.


Ketika itu, kupikir Antonius akan kembali untuk menjemputku. Tetapi apa yang kuharapkan tidak terjadi. Ia hanya meninggalkan kartu kreditnya di resepsionis. Dan saat aku check-out aku meninggalkan kartu kredit itu di sana. Aku memang tak memiliki banyak uang tapi bagaimana dengan harga diriku jika memakai uang dari pria yang telah membuangku? 


Saat makan siang, tidak sengaja aku bertemu dengan James yang sedang mengambil foto di kawasan China Town. "Indonesia?" Dia bertanya padaku yang sedang menyantap semangkuk mi siam yang rasanya cukup asing di lidah. Bihun putih, udang rebus, tahu goreng, telur, dan disiram kuah berwarna kecoklatan yang rasanya asam.


"Iya." Aku menjawab tanpa ragu. Dari wajahku memang terlihat Indonesia sekali. Jadi, tak mungkin orang menyangka


"James. Ibuku berasal dari Itali. Ayahku orang Indonesia. Papua," katanya sambil mengulurkan tangannya yang bertato. Pantas saja kulitnya terlihat sedikit gelap meski wajahnya kebule-bulean. 


"Keyla." Aku menyambut uluran tangan itu. Meskipun dia orang asing entah kenapa aku merasa dia tak memiliki niat jahat dan tanpa sadar cerita tentang kehidupan yang baru aku alami meluncur begitu saja dari bibirku.


"Apa rencanamu sekarang?" James bertanya padaku. Dan aku belum memiliki jawaban yang pasti. Aku masih memikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya.

__ADS_1


"Apa kamu mau pulang ke Indonesia?" Aku menggeleng. Aku tak ingin kembali ke Indonesia. Setidaknya untuk sekarang. 


"Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka pasti mengkhawatirkanmu."


"Aku sudah menghubungi mereka dan kubilang sebulan sekali akan berkirim surat untuk memberitahukan keadaanku."


James menganggukkan kepalanya. Tanda ia mengerti dengan keputusanku dan tak ingin terlalu banyak berkomentar. "Apa kau pernah ke Kanada? Aku tinggal di sana. Apa kau mau melihat-lihat seperti apa musim gugur?"


Kanada? Siapa yang tak ingin ke sana? Lagipula, aku ingin mengunjungi negara itu sudah sejak lama dan Kanada ada di list honeymoonku bersama Antonius. 


"Tidak." Aku menggeleng meskipun saat ingin. 


"Come on, Key. Kamu bisa menghilangkan stressmu di sana." Aku menghitung-hitung berapa biaya yang harus kukeluarkan di dalam kepalu. Dan itu sangat banyak. Aku tak memiliki cukup uang.


"I don't have enough money, James." Aku berterus terang padanya. Dan tidak terduga, pria yang mengenakan t-shirt warna biru tua dengan kacamata hitam yang menggantung di lehernya menawariku tiket dan tempat tinggal yang tak bisa kutolak. Bukankah aku ingin menjauh dari orang yang memberikan rasa sakit padaku? 

__ADS_1


Pertemuan singkat itulah yang membawaku ke Quebec, Canada. Dan di sinilah Awan kecilku dilahirkan.


__ADS_2