
Selamat membaca ... pastikan temanยฒ berlangganan, follow akunku, komen dan vote๐
______๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ______
"Key ... nanti malam datanglah ke acara pembukaan film bersamaku," ajak Darrel yang sedang duduk di sofa sambil mengetik pada laptop yang ada di pangkuannya.
"Huuufffttt." Keyla yang sedang membersihkan lantai berlapis karpet dengan mesin penyedot debu pun menghela napas. Wajahnya tiba-tiba mengisyaratkan kegelisan.
Apakah mulai sekarang dia harus menghadiri acara-acara semacam itu? Bukan hal buruk karena paling tidak, jika dia ikut tak akan ada perempuan-perempuan yang cari-cari perhatian di depan Darrel. Tapi di sisi lain, ia tak banyak memiliki bagus yang bisa untuk menghadiri pesta. Pakain-pakaiannya yang dulu, buatan Sabrina, telah menyempit di beberapa bagian. Dada dan bokong! Dua tempat itulah yang mengalami perubahan drastis sejak melahirkan Bintang. Makin berisi, padat dan sering kesulitan membeli beberapa jenis pakaian terutama celana jeans.
"Ada apa, sayang?" Darrel menghentikan aktifitas jari-jarinya dan menatap Keyla karena gadis itu mematikan mesin vacuum cleaner namun tak bersuara.
"Aku tak memiliki baju yang pantas. Aku tak ingin mempernalukanmu, Antonius. Itu pasti acara besar."
"Huuh. Bodoh. Kemarilah!"
Keyla meletakkan gagang penyedot ke lantai dan berjalan ke arah Darrel. "Duduk di sini." Pria itu menepuk pangkuannya agar Keyla mendaratkan bokongnya di sana.
"Cepat selesaikan pekerjaanmu dan kita pergi setelah Bintang bangun."
"Hanya itu?"
"Ya. Kau berharap lebih?" tanya Darrel setengah menggoda.
"Hummmphh!!" Keyla beringsut dari pangkuan Darrel dan kembali menyalakan mesin penyedot debu. Sementara di ujung sana, ada sepasang mata yang telah mengamatinya dibalik pintu yang sedikit terbuka.
Darrel memperhatikannya. Sepasang mata berwarna gelap. "Kemarilah, sayang!" Pria itu melambaikan tangannya pada Bintang. Semula gadis itu ragu siapa pria yang sedang duduk di sofa bersama mama nya beberapa saat lalu. Kemudian, ia mengingat-ingat lagi kejadian sebelum ia tidur. Dia adalah papa baru! Sudah sejak lama Bintang memimpikan seorang papa. Digendong papa. Bermain dengan papa dan diajari naik sepeda di taman yang memiliki banyak rerumputan.
"Papa!" teriak pemilik sepasang kaki kecil itu sambil berlarian. Darrel merentangkan kedua tangannya, siap menangkap kalau-kalau Bintang ingin menghambur ke dalam dekapannya.
"Putri kecil Papa!" Darrel memeluk tubuh gadis kecil. Mencium rambut, kening dan pipinya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Bintang kegirangan dan tertawa. Ia sering melihat teman-temannya diangkat oleh papa mereka seperti ini saat di taman bermain. Dan diam-diam, ia iri pada temannya. Pasti akan sangat luar biasa kalau punya papa! Pikir Bintang saat itu.
"Aku lapar!" suara cemprengnya terdengar nyaring. Ia memegangi perutnya dan Darrel menciumnya dengan gemas. Bintang kegelian namun senang. Sementara Keyla hanya melihat dengan keharuan. Air mata nya hampir jatuh namun cepat-cepat disingkirkan dengan ibu jari.
Ini adalah hal yang membahagiaakan, Keyla. Kamu tak boleh menangis. Kamu harus tertawa dan berjuang agar pemandangan pagi ini akan datang setiap hari dalam kehidupanmu!
Keyla melanjutkan pekerjaan rumahnya. Sedangkan Darrel menyiapkan sarapan untuk Bintang. Gadis itu sangat antusias dan mengawasi Darrel di sampingnya. Lebih tepatnya di atas kursi yang disipkan Darrel untuknya.
"Papa buat apa?"
"Makanan tuan putri yang hanya ada di istana!"
"Tuan putri? Itu kan hanya di dongeng!" balas Bintang mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Tuan putri ada di dunia ini."
"Berarti ada raja juga?"
"Pasti."
"Bagaimana dengan kuda putih?"
"Ada. Kau mau melihatnya?"
Bintang menganggung senang. Matanya terlihat takjub saat melihat Darrel memecahkan dua telur sekaligus. Satu menggunakan tangan kanan dan satunya lagi menggunakan tangan yang sebelah kiri. Darrel bisa melihat wajah cerah putri kecilnya.
Keyla benar-benar mengajari anak-anak dengan baik. Bintang yang berusia empat tahun pun tak menangis saat bangun tidur. Sangat sopan dan lemah lembut. Istriku memang luar biasa!
Darrel memanaskan teflon dan menaruh potongan mentega di atasnya, setelah meleleh, Darrel memasukkan telur yang telah dikocok lepas sehingga bagian kuning dan putihnya menyatu. Setelah setengah matang, ia lalu menaruh keju slice di atasnya dan menggulung telur.
"Papa hebat!" Bintang tepuk tangan seolah-olah sedang menonton sirkus dan inilah bagian klimaksnya.
"Sudah selesai!" kata Darrel puas. Ia menaruh cheese omelet di atas piring berwarna putih polos. Lalu dengan tangan kirinya, dia meraih tubuh Bintang dan membawanya ke meja makan.
"Enak!" Satu kata yang terlontar dari bibir Bintang saat mulai memakannya. Segelas susu coklat dingin telah disiapkan di depannya. Darrel benar-benar merasa gembira. Perutnya seperti dipenuhi kupu-kupu yang berlalu lalang. Sejak bercerai dengan Keyla, ia tak pernah membayangkan hal seperti akan terjadi lagi. Serumah dengan Keyla, tidur seranjang dengannya, menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Benar-benar hal tak terduga dan ia ingin sekali menelepon Sabrina, mama nya. Kalau bukan karena rencana wanita itu, barangkali saat ini dia sedang bersama gadis yang tak ia ketahui latar belakangnya di sebuah kamar hotel.
"Mau membaginya dengan Mama?" celetuk Keyla dengan bintik-bintik keringat di wajahnya. Urusan sedot menyedot debu selesai. Ia ingin beristirahat sejenak. Melihat bibir mungil putrinya mengunyah makanan.
"Sejak kapan kamu jadi pelit begini, Binbin?'
"Sejak punya Papa!"
Hahaha. Darrel dan Keyla tertawa bersamaan. Kota Paris yang panas, pagi yang sibuk, dan suara tawa Bintang yang menggemaskan adalah perpaduan sempurna!
______๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ_______
Darrel baru saja selesai mengancingkan kemejanya yang berwarna putih. Paduan yang pas dengan celana jeans biru tua dan tak lupa jam tangan merk Relux warna silver bertengger di tangan kirinya. Ia menatap bayangannya di cermin, rambut sudah rapi, dan wajahnya juga bersih dari yang namanya bulu-bulu. Sesekali ia tersenyum ketika mendengar jeritan Bintang dan tawa Keyla dari balik kamar mandi. Sudah hampir dua puluh menit mereka mandi. Namun, Darrel tak memiliki niat untuk mengganggu kebersamaan mereka. Lelaki itu akan dengan senang hati menunggu.
Diambilnya laptop yang terletak di meja kayu bercat putih. Tepatnya, di dekat vas yang berisi bunga mitasi yang terbuat dari kain dan plastik. Perpaduam warna putih dan kuning. Ia meletakkan dirinya di kursi rotan dan membuka laptop. Ada email masuk dari pengacanya. Peter.
Setelah membaca dengan teliti dan diulang-ulang, muncul seutas senyum di bibirnya. Dan senyum itu tertangkap oleh mata Keyla yang baru saja keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit sebagian tubuhnya, dan Bintang digendongannya. "Ada berita bagus?"
"Ya. Peter ... maksudku, pengacaraku sudah menyelesaikan dokumen pernikahan dan anak-anak. Dia akan memberikannya secepat mungkin."
"Benarkah?" tanya Keyla sembari mendudukkan Bintang di depan meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. "Itu berita bagus, sayang. Aku tidak menyangka akan lebih cepat dari yang kubayangkan."
"Ya. Apa kau mau mengadakan pesta?"
__ADS_1
"Pesta? Aku tidak terlalu suka pesta. Bagaima kalau foto keluarga di akhir pekan?"
"Baiklah. Aku akan menghubungu studio foto terbaik di kota ini dan membuat reservasi."
"Berarti sekarang anak-anak memakai nama belakangmu? Sungguh disayangkan aku tak suka namamu yang sekarang."
"Kau boleh memanggilku seperti biasa. Hanya kau."
"Aku tiba-tiba merasa sedikit bersalah. Berpindah kewarganegaraan. Menjadi orang Prancis. Semoga tak ada ada netizen yang membullyku." Keyla berlagak sangat pongah. Seperti seorang artis di atas panggung opera yang berperan antagonis.
"Kau bisa kapan pun pergi ke Indonesia, Ny. Douglas. Saat Awan liburan sekolah. Selain itu kau bukan Anggun. Jangan khawatir akan ada yang memakimu!" Darrel tahu yang Keyla maksud. Penyanyi berkulit gelap asal Cilacap yang kini berpindah kewarganegaraan.
Setelah rambut Bintang kering, keyla memakaikan baju untuknya. Dress polkadot pink tanpa lengan. "Anak Mama sudah cantik!" Keyla mendaratkan ciuman di keningnya.
"Aku tahu itu," balas Bintang turun dari kursi dan menghampiri Darrel. "Papa? Bagaimana bajuku? Papa suka?"
Darrel mencubit hidungnya yang kecil dan kemerahan dan mencium pipinya yang halus. "Suka. Sangat cantik!"
"Oke. Kalau begitu aku kan turun dan menunjukkan bajuku pada pangeran." Gadis cilik itu melangkahkan kaki dari kamar dan menuruni tangga. Sedangkan Darrel bertanya-tanya hingga keningnya terlihat berkerut. Ia melihat Keyla. Berharap pertanyaannya terjawab. "BTS," ucap Keyla pelan.
"BTS?" Dahi Darrel makin mengerut. Matanya menyipit. Keyla tertawa ketika melihat bayangan itu di dalam cermin.
"Boy Band dari Korea. Bintang menyimpan beberapa poster di dalam laci. Aku tidak mengijinkankannya menempelnya di tembok," sambung Keyla sambil mengeringkan rambutnya.
"Mereka tampan?"
"Ya! Itu sebabnya dia suka. Dia juga sering menari-nari sendiri sambil melihat video mereka. Aku tidak sabar melihat Bintang menjelma menjadi seorang gadis remaja."
"Masih lama, Ny. Douglas. Kau harus sabar." Darrel beranjak dari kursi dan mendekati Keyla. Dilayangkannya bibir pria itu pada pundak istrinya yang terbuka di depan mata. Putih dan menantang.
"Jangan sekarang, suamiku." Suara Keyla terdengar berat. Seberat cinta Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang yang rela membuatkan seribu candi untuk gadis itu dalam waktu semalam. Meskipun pada akhirnya candi itu tak terselesaikan karena kelicikan Roro Jonggrang yang mengutus orang-orang untuk membuat api dan membunyikan lesung, namun cinta Bandung Bondowoso tak bisa ditampik! Ia melakukan apapun yang diminta Roro Jonggrang.
Membangun seribu candi dalam waktu singkat adalah hal mustahil bagi manusia biasa. Tapi, lelaki itu tetap berusaha dan mencari cara agar gadis yang ditaksirnya mau menjadi istrinya. Dan memang begitulah seharusnya. Jika mencinta, harus berani berkorban. Memberikan meskipun tak memiliki.
"Lima menit," balas Darrel melepaskan handuk yang menutupi dada istrinya. Puncak dari Sindoro dan Sumbing itu pun telah mengeras. Keyla melenguh saat kedua tangan suaminya yang besar dan hangat mulai bermain-main di sana dengan lihai.
"Sayang ... tolong hentikan."
"Empat menit."
Darrel memutar tubuh Keyla. Menghujani setiap lekuk tubuhnya dengan cinta hingga perempuan itu berkali-kali menyebut namanya saat tubuhnya bergetar dan sebelum terkulai lemas. "Pakailah bajumu, sayang. Kau sangat lamban!" goda Darrel menikmati wajah Keyla dengan napas yang tak beraturan.
"Ini semua salahmu!" Keyla mencubit perut lelaki itu dengan gemas.
__ADS_1
_______๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ______