Happy Ending

Happy Ending
Awan


__ADS_3

Langit begitu cerah hari ini. Kebiruan dan diiringi awan yang berarak mengikuti kemana angin hendak berhembus. Quebec telah memasuki gugur. Dedaunan yang menguning mulai jatuh perlahan satu demi satu dan di sana, di bawah pohon yang daunnya pasrah tersapu angin ada Awan yang sedang bermain dengan kelinci putih kesayangannya. 


"Tidak ikut bermain, Key?" James memberikan sekaleng minuman dingin padaku. Aku menggeleng dan pria itu hanya tersenyum. Kami duduk di anak tangga sambil melihat Awan yang berlari kesana kemari dengan teriakan-teriakan gembira. Suara cemprengnya seperti mentari di atas sana. Memberikan cahaya pada kegelapan.


"Apa kamu yakin tidak ingin pulang ke Indonesia, Key?" James memulai pembicaraan karena dari tadi kami hanya berdiam tanpa sepatah kata.


"Apa kamu sedang mengusirku, James?" Mataku melirik ke arahnya. Pura-pura marah. 

__ADS_1


"Oh, bukan begitu darling. Aku hanya khawatir pada orangtuamu. Mereka pergi dengan rasa sedih."


Mama dan papa memang sedih, kecewa, sekaligus marah pada diri mereka sendiri. Seandainya mereka tidak menikahkanku dengan Antonius, aku tak akan lari sampai sejauh ini. Aku masih duduk di pangkuan mereka dan menjadi bulan-bulanan kecerewetan mama.


Setelah lima tahun kami tidak bertemu akhirnya bulan lalu aku memberitahukan mereka bahwa aku tinggal di Kanada melalui surat yang kukirim. Aku memang sengaja tidak menelepon mereka atau memberitahukan dimana aku tinggal. Hingga pada akhirnya James menyuruhku untuk menemui mereka. Tapi aku tak ingin pulang ke Indonesia. Aku tidak ingin menghirup udara yang sama dengan orang-orang yang telah menyakitiku. Aku tidak ingin berbagi oksigen dengan orang yang telah mencampakanku. Itu terlalu menyakitkan dan menyesakkan dada.


Mama dan papa langsung terbang ke Kanada begitu mengetahui alamatku. James menelepon mereka bahwa dia akan menjemput di bandara. 

__ADS_1


"Maafkan Mama, sayang ... maafkan Mama." Tangisnya pecah sambil berlutut di kakiku. "Ma ...." Tak sempat aku berkata-kata tangisku sudah mendorong untuk keluar. Pipiku basah. Aku membungkuk, memeluk mama dengan tangan kananku. Kami sama-sama melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam.


"Mama sangat merindukanmu." Kedua tangannya yang kini kurus membelai kedua pipiku. Wajahnya tak secerah dulu lagi. Kecantikannya hanya tinggal sisa. Pucat tanpa polesan apapun. Rambutnya yang memutih pun dibiarkannya begitu saja. Ia seperti tak peduli dengan penampipannya lagi. Mama benar-benar berubah menjadi seorang nenek. 


"Keyla juga, Ma. Maafin Keyla ya, Ma."


"Tidak sayang. Mama dan Papa yang salah. Iya, kan Pa? Lihat, Pa ... ini Keyla kita. Putri kita satu-satunya. Dan ini? Awan kah? Cucu lelakiku?" Mama langsung mengambil Awan dari gendonganku. Diciuminya cucunya yang selama ini ia rindukan. Awan diam saja dan dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Meskipun begitu ia sama sekali tidak menangis atau menolak. Aku yakin, dia pasti masih mengingat wajah oma dan opa yang sering kuperlihatkan melalui selembar foto.

__ADS_1


"Lihat, Pa. Cucu kita." Papa yang sejak tadi menahan haru akhirnya memeluk mama dan Awan. Diusapnya air matanya yang tak mampu dibendung lagi. "Maafin Keyla, Pa." Aku memeluk mereka. Orang-orang yang selama ini aku rindukan. 


Aku melihat James tersenyum kearahku. Matanya yang sayu menyiratkan kebahagiaan untukku. Terima kasih James ... terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan. Terima kasih karena telah mempertemukanku dengan mama dan papa. Terima kasih telah mempertemukan Awan dengan oma dan opa yang sering ia sebut-sebut dalam kesehariannya. Terima kasih karena telah mau menampungku dan mencintai orang yang terbuang sepertiku.


__ADS_2