Happy Ending

Happy Ending
Kerinduan


__ADS_3

Polisi telah menemukan Awan. Mereka menemukannya di rumah Lunny dan sedang tidur di dalamnya. "Maafkan Bapak, Mas karena tidak mencari den Awan dengan teliti." 


"Tidak apa-apa, Pak. Siapa yang menyangka dia akan tidur sana." Kami semua lega. Awan baik-baik saja dan dia tetap ceria.


Aku menciumi tubuhnya yang berbau kelinci. Segera aku memandikannya dan menggantikan baju."Kenapa kau tidur bersama Lunny, Sayang?" tanyaku sambil menyuapinya di dapur. Sementara Antonius sedang sarapan karena di kantin tadi ia tak sempat makan.


"Bunny menyuruhku. Dia datang ke kamar dan aku mengikutinya," jawabnya polos dan tanpa terasa air mataku berlinang.


"Apa kau tidak takut?" Awan menggeleng sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong. 


"Apa Bunny masih di sini?"


"Ya. Dia sedang bermain Lunny. Aku akan menengoknya lagi nanti." 


Rumah Lunny berada di pojokan paling ujung belakang. Antonius membuatnya tertutup dan luas. Di sekelilingnya di beri pagar agar mereka tidak bisa berkeliaran dan masuk ke taman mawar. 


"Apa kau merindukannya?"


"Ya. Bunny terlihat gemuk sekarang. Tante Erika pasti memberikannya banyak makan," jawabnya dengan suara menggemasakan.


"Mama juga merindukanmu, Sayang. Rindu sekali!" Aku memeluknya erat sampai-sampai ia ingin melepakannya. "Sakit,Mama."

__ADS_1


"Apa yang akan terjadi pada James? tanyaku pada Antonius saat kami sedang di kamar. Awan sedang di paviliun belakang bersama bapak dan bibi yang baru saja pulang dari rumah sakit. "Polisi akan menjaganya, Key. Dikamarnya juga ditemukan barang bukti. Dan saat ini mereka juga sedang mencari tahu apakah dia ada hubungan dengan sindikat atau tidak. Bagaimanapun James warga asing. Tidak heran jika polisi mencurigainya sebagai pengedar."


Ya Tuhan James. Selama ini dia baik sekali padaku dan Awan. "Sudahlah, Key. Biarkan polisi yang menanganinya. Yang penting Awan sudah ketemu," lanjut Antonius. 


Belum, Antonius. Masih ada hal yang tak beres. Tentang Anna. "Apa kau tidak tahu aku sedang lelah?" Antonius mencium bibirku tanpa aba-aba. Aku merangkul lehernya yang ada di atasku. "Kalau lelah, tidurlah," godaku dan dia hanya menyeringai. "Aku ingin tidur denganmu," balasnya. "Ini masih terlalu siang untuk bercinta, Antonius!" Aku pura-pura mendorong tubuhnya dan dia juga pura-pura terjatuh. "Aku tak menyangka kau sangat kuat, Key."


"Tentu saja. Jangan meremehkanku!" balasku kemudian duduk di atas tubuh Antonius yang telentang. "Apa kau sedang mencoba merayuku?" 


"Entahlah." Kubuka kancing baju Antonius dan mata kami saling menatap satu sama lain. Ia menarikku ke arah dadanya mendekapku seakan-akan tak ingin kehilangan. "Berjanjilah Key, semarah apapun dirimu, tetaplah bersamaku," ucapnya lirih sebelum menautkan bibirnya padaku. Aku merasakan sesuatu yang mendesak ke arahku. Tangan Antonis mengangkat tubuhku agar duduk tepat di atas kejantanannya. "Key, kamu tahu kan apa yang harus kau lakukan?" Kugerakkan pinggulku. Pelan dan mata Antonius tak berhenti melihatku. "Ini memalukan. Kita seperti remaja, Antonius!" Aku turun dari tempat tidur mengambil segelas air putih di meja. "Apa kau mau minum?" tanyaku yang sedang duduk di sofa. Sudah lama aku tak merasakan suasana seperti ini. Pria yang aku cintai di ranjang, jendela yang terbuka hingga angin sepoi-sepoi yang bebas hilir mudik ke kamarku membawa aroma mawar dari taman belakang. "Aku sedang ingin meminum yang lain. Tapi minumanku kabur."


"Apakah minumanmu memakai tekhnologi terbaru? Jadi dia punya kaki?"


"Mungkin saja. Atau jangan-jangan ia ingin diminum pria lain. Tapi aku tak yakin apakah ada pria setampan aku di luar sana?!"


"Baiklah. Suamimu ini memang pengangguran. Tapi aku masih cukup kaya untuk bisa membangun sebuah kastil untukmu dan Awan."


"Apa kau sedang tidak waras?!"


"Mana ada laki-laki yang waras jika ditolak oleh istrinya?"


"Siapa bilang aku menolakmu? Aku hanya ingin kamu bersabar."

__ADS_1


Aku mendekati pria yang sedang merengek seperti bayi dan duduk di atas tubuhnya. "Apa kau mau bermain?" Aku mengerlingkan mata. "Taruh tanganmu di atas dan jangan menyentuhku. Kalau kau melanggar, kau harus menunggu sampai malam. Oke?" Pria itu tak menjawab. Napasnya naik turun dan dia ingin menciumku. Aku menghindar dan dia terlihat kesal. "Bukankah aku sudah bilang jangan menyentuhku."


"Kau bilang tangan, Key. Bukan bibir," balasnya greget. "Sama saja Antonius!" Aku tak mau kalah. Kugerakkan tubuhku dan Antonius mulai gelisah. Tangannya gusar dan ingin sekali menyentuhku. "Apa kau senang menyiksaku?" tanya Antonius terbata.


"Tentu saja."


"Keyla!" Lelaki itu menarik tanganku dan permainan kami berakhir. "Kau kalah Antonius!" Aku kembali duduk di sofa.


"Papa!" Awan tiba-tiba muncul dari balik pintu lalu naik ke atas ranjang. "Ada apa jagoan?" Antonius memeluk Awan dan berguling-guling di atas tempat tidur. Awan cekikikan. "Geli geli geli." Awan berusaha melepaskan diri dari cengkraman papanya. Jambangnya memang masih mengotori wajah Antonius, tak heran Awan tidak mau dicium. "Papa, ayo kita membersihkan rumah Lunny."


"Tapi Papa haus. Bisakah kau meminta Mama untuk memberikan susu?" 


"Awan akan mengambilkannya di kulkas," jawabnya polos disertai kekecewaan Antonius. "Papa mau susu coklat? Ayo ikut." Awan menarik tangan papanya dan mengajak turun. Aku tak bisa berhenti tersenyum. "Pergilah Antonius, kau bisa minum susu sepuasmu di dapur!" ejekku sebelum mereka menghilang dibalik pintu. 


Aku meraih tas di meja. Mengambil buku diary milik Anna dan membacanya kembali.


Aku tak menyukai kedatangan Keyla dan anaknya di rumah ini. Perhatian Stevan jadi teralihkan dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Terlebih lagi aku tak menyukai pria yang datang bersamanya. James.


Aku tak suka bagaimana cara ia memandangku. Ia seperti tengah melucuti bajuku satu persatu. Aku juga tak menyukai tawa anak kecil. Hal itu membuatku sakit. Awan selalu mengumbar tawanya, ia juga kerap membawa kelinci putihnya bermain di dalam rumah. Aku terganggu. "Mama?" kata Awan yang menjatuhkan mainannya tepat di bawah kakiku. "Papa bilang Awan punya dua papa. Apakah Awan juga punya dua mama?" Anak laki-laki itu bertanya dengan polos. Aku mengacuhkannya dan dua malah memberikan minannya berbentuk bola salju itu padaku kemudian ia berlari entah ke mana. Awan mengingatkanku pada Ben. Tak bisa diam dan selalu berputar-putar di rumah. Jack membelikannya banyak mainan sama seperti yang dilakukan Steve. Diam-diam, aku merindukan mereka dan tanpa sadar air mataku tertumpah. 


Tak kuat lagi membaca diary Anna, aku menutupnya. Bagaimanapun juga dia adalah seorang perempuan dan seorang ibu. Dan bagi seorang ibu, tak ada yang lebih sakit ketika kehilangan buah hatinya? Aku tak bisa lagi menyalahkannya atas kebenciannya terhadapku. Barangkali, jika aku tidak hadir dalam kehidupan Antonius mereka akan bersama dan hidup bahagia.

__ADS_1


Air mataku luruh perlahan-lahan ... tak bisa kubayangkan bagaimana jika Antonius pergi dalam waktu bersamaan. Mungkin aku akan kehilangan kewarasanku atau mungkin membunuh diriku sendiri dan menyusul mereka. Sungguh, aku tak pantas membenci wanita yang kehilangan anak dan suaminya. Aku ingin sekali menemui Anna, memeluk dan meminta maaf padanya. Keberadaanku menambah luka di hati wanita itu. Dan kini ia masih terbaring di rumah sakit.


__ADS_2