
Awan dan aku sedang membersihkan rumah Bunny. Sisa-sisa sayuran dan juga kotorannya aku masukkan ke dalam lubang yang digali oleh james agar bisa dijadikan pupuk kandang.
"Wash your hand, prince," perintahku ketika Awan selesai membantu membersihkan. Ia kemudian lari ke tempat cuci tangan di pojokan. Dekat dengan beberapa sayuran yang James tanam untukku.
"Apa yang ingin kamu makan untuk makan siang?" tanyaku sambil mengusapkan sabun di tanganku.
"Chocolate."
"Coklat bukan untu makan siang." Aku memercikkan air pada Awan dan dia berlari. Aku mengejarnya dan kami berlari berputar-putar sebelum akhirnya ada suara yang kukenal memanggil. Erika.
"Key. Kemarilah! Temanku sudah datang!" teriaknya dari pintu. "Oke!" Aku menjawab singkat dan kembali mengejar Awan yang masih berlari dan berharap untuk ditangkap.
"Apa kamu ingin coklat untuk makan siang, prince?" Ia mulai memelankan larinya setelah mendengar kata-kata coklat lalu berbalik dan lari ke arahku yang sudah mulai ngos-ngosan. "Dua," balasnya polos dan aku menangkapnya. "Apa kau mau dua ... mau dua?" Aku menciumi pipinya yang gembul dan ia meronta ronta. Tak heran James begitu menyayangi Awan karena dia begitu menggemaskan.
Ayo kita ke rumah aunty Erika dan meminta coklat!
Aku melompati pagar dengan Awan yang berada di gendonganku dan masuk ke rumah Erika melalui pintu dapur. "Hai, Erii ...." Aku terperangah melihat teman Erika yang tengah duduk di sofa dan belum menuntaskan kata-kataku.
"Key, ini temanku. Kemarilah." Aku menurutinya dan mendekat lalu menurunkan Awan dan ikut duduk bersama mereka. "Keyla." Aku mengukurkan tangan dan memperkenalkan diri. Sedangkan dia hanya tersenyum melihatku. "Mama ...," Awan memberikanku sebuah permen coklat yang di dapat dari piring diatas meja dan dia ingin aku membukanya.
"Steve, ini tetanggaku yang aku ceritakan barusan. Ia akan menginap di sini sampai suaminya pulang." Pria itu hanya tersenyum dan menutup hidung sambil tersenyum. Aku baru sadar kalau aku dan Awan baru saja selesai membersihkan rumah Bunny.
"Maafkan aku Erika. Aku lupa kalau aku habis membersihkan rumah Bunny. Aku harus pulang sekarang," kataku pada Erika seraya berdiri. "Prince, ayo kita pulang." Dia menggeleng dan justru asik bermain keping-keping coklat di lantai berlapis karpet. "Awan?" Aku menekan suaraku. Tiba-tiba jengkel karena Awan tak mau mendengarku. "Awan gak mau mandi!" teriaknya sambil berpegangan pada kaki lelaki yang sejak tadi memperhatikanku dan itu membuatku gugup. Tanpa menunggu lama aku mengangkat Awan dan menggendongnya. Ia menangis dan meronta hingga coklat-coklat digenggamannya berceceran. "Sorry Erika. Kami harus pulang sekarang."
__ADS_1
*****
Setelah membujuk Awan untuk makan akhirnya ia mau juga. Ia masih marah karena aku tak membolehkannya main di rumah Erika. Dan sebagai gantinya aku membolehkannya makan coklat sebanyak yang Awan inginkan.
Tok ... tok ... tok ...
Aku menghentikan makanku sedangkan Awan masih asik dengan brokoli rebus siram saus kepiting yang ada di piringnya.
Kubuka pintu dan ternyata ada seorang pria berdiri di sana. "Erika ingin aku memanggilmu untuk makan malam," katanya pelan dan tenang.
"Katakan padanya aku sudah makan. Dan aku tak jadi menginap." Belum sempat pintu rumah tertutup sepenuhnya, kaki pria itu menghalangi dan aku tak cukup kuat untuk melawannya.
"Bisakah kita berbicara sebentar?"
"Papa!" Tiba-tiba Awan menoleh dan menyangka lelaki yang barusan masuk adalah papanya. "Bukan sayang. He is not your father!" Aku menyela agar Awan tetap berada di kursi makannya.
"Keluarlah. Tolong," pintaku pada pria itu yang justru duduk dengan nyaman di sofa. Sedangkan aku masih berusaha menenangkan diri sendiri. Aku tak ingin dia menangkap kegugupanku. Dan aku masih setengah tak percaya teman yang Erika ceritakan adalah Antonius yang sampai kini masih berstatus suamiku yang sah dan ayah dari Awan.
"Aku mencarimu selama ini."
Aku memalingkan wajah. Tak sudi mendengarkan alasannya. Jika pun seperti yang Erika bilang bahwa dia merasa bersalah pada Anna, bukan hal yang benar dia meninggalkanku dan mendatangi sahabatnya. Aku tak ada hubungannya dengan kecelakaan itu lalu kenapa aku yang ijut terkena imbasnya?
"Keluarlah. Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Seperti yang kau lihat, aku sudah menikah dan memiliki anak." Aku menunjuk ke arah pintu dan dia masih bergeming. Aku berjalan menuju Awan dan tak menghiraukan pria itu. Anggap saja dia seperti angin lalu.
__ADS_1
"Sudah selesai sayang?"
"Hmmmm." Dia mengangguk.
"Mau puding mangga?"
"Yes, please." Aku mengambil semangkuk puding dari dalam kulkas dan aku tahu ada mata yang mengawasiku. Ruang tamu dan ruang makan sekaligus dapur memang dalam satu ruangan. Tak ada pembatas.
Sembari menunggu Awan selesai makan, aku membereskan dapur dan mencuci piring. Rumah James tidak begitu besar. Hanya ada dua kamar tidur, dapur sekaligus ruang makan, dan ruang tamu. Tapi aku menyukainya. Sederhana dan elegan. Bangunan dan ornamennya berwarna putih dan memiliki pekarangan yang cukup luas. Val-David adalah perkampungan terbesar di Quebec. Tak hanya memiliki makanan yang lezat, pemandangannya saat musim gugur pun sangat menakjubkan. Dedaunan yang berwarna warni yang tak ada di Indonesia adalah daya tarik tersendiri buatku. James memang bukan orang kaya, tapi dia adalah pria yang baik.
"Mama." Awan menunjukkan mangkuknya yang telah kosong.
"Sudah? Ayo ke kamar mandi dan gosok gigimu."
Awan turun dari kursinya dan tiba-tiba ia lari ke arah Antonius dan duduk di sampingnya.
"Aku boleh duduk di sini?" tanyanya bernada menggemaskan. "Aku tidak suka gosok gigi. I hate it!" Ia pura-pura marah dan orang yang diajaknya bicara hanya tersenyum.
"Awan?" Aku melotot ke arahnya. "Let's go to the bed."
"No, Mama! Awan mau main!" Ia lalu turun dari sofa dan berlari menuju keranjang mainannya. Dikeluarkannya helikopter terbarunya dan ditunjukkan pada Antonius.
"Papa membelikannya. Minggu depan Papa akan membelikanku pesawat."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Antonius tak tahan untuk tidak mengangkat dan memangku Awan. Hah, aku tak kuasa lagi untuk melarang ataupun marah. Aku tak ingin melakukannya di depan Awan. Ia belum tahu kalau dialah papanya yang sesungguhnya. Dan aku juga tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya . Tidak seharusnya Antonius muncul tiba-tiba dan membuat canggung suasana. Aku sudah cukup bahagia ....