Happy Ending

Happy Ending
Honeymoon


__ADS_3

Tempat pertama yang kami kunjungi untuk berbulan madu adalah Singapore. Tujuan pertamaku dan Antonius adalah Jewel yang merupakan air terjun dan ada di dalam bandara serta dikelilingi pepohonan. Persis menyerupai air terjun sungguhan yang berada di pegunungan. 


"Apa kamu menyukainya?" tanyaku pada Antonius yang sedang duduk sambil melihatku bermain air. Dia hanya tersenyum. Aku tahu dia tidak menyukai keramaian dan lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tapi aku ingin sekali menikmati bulan madu ini dengan mengunjungi beberapa negara impianku. Aku penasaran makanan apa saja yang ada di sana. 


"Apa kamu bosan?" kuletakkan bokongku di samping suamiku. Kuhirup udara dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan dan rasanya sejuk seperti di hutan sungguhan. "Tidak selama ada kamu." Antonius mengecup bibirku. Lembut. 


"Hey!" Aku memekik. Bagaimana jika orang lain memperhatikan?


"Tenang saja. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing," bisiknya seakan tahu apa yang ingin kukatakan. Ya, sebagai negara maju, orang Singapore cukup cuek dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing dan tak ada waktu untuk bergosip apalagi mengurusi dua insan yang sedang dimabuk cinta. Buat mereka, rumput di halaman rumah sendiri lebih hijau daripada rumput di halaman tetangga.


"Sejak kapan kamu suka menulis?"


"Aku tidak ingat."


"Kenapa kamu menyembunyikan identitasmu?"


"Karena aku takut para wanita akan mengejarku," balasnya dengan bangga dan sorot mata yang pongah namun menggoda.

__ADS_1


Ciiihhh! Aku melirik ke arahnya. Mataku menyipit dan berpura-pura risih.


"Aku tidak pernah tahu kalau kamu adalah pria yang suka menyombongkan diri."


"Tapi aku tahu bagaimana cara menguasaimu."


"Apa kau mau kembali hotel?" godaku dengan kerlingan mata. Dan tanpa menjawab kami meninggalkan Jewel dan menuju hotel. Marina Bay Sands.


"Apa kamu sering bepergian ke luar negeri?" tanyaku pada Antonius. Ia sedang membuka pintu dan mempersilakan aku masuk. Kamar hotel bintang lima itu tidak usah diragukan lagi keindahannya. Tapi aku tetap menyukai Kamar kami yang ada di rumah.


Antonius merebahkan dirinya di tempat tidur dengan memejamkan mata. Ia sengaja tidak bercukur jadi rambut halus itu memenuhi wajahnya. "Berapa anak yang ingin kamu miliki?" Aku meletakkan tubuhku di samping Antonius. Miring ke kiri agar aku bisa memeluknya. "Sebanyak mungkin." Matanya masih terpejam saat menjawab. 


"Hmmmm?" 


"Apa kau begitu menyukai pekerjaanmu?"


"Tentu saja. Meskipun uang yang dihasilkan tidak besar aku menyukainya."

__ADS_1


"Apa kau ingin membuka sebuah restoran?"


"Tidak. Aku tidak mau terlalu sibuk. Aku ingin menjadi ibu yang siap siaga bagi suami dan anak-anak kita nanti." Antonius mengecup kepalaku dan kueratkan pelukanku. Terus terang saja sejak kecil aku memimpikan memiliki keluarga yang bahagia dan rumah yang seperti kastil. Aku ingin membesarkan anak-anakku di sana. Mengajari bagaimana caranya menikmati hidup.


"Bagaimana jika kamu membuka identitasmu ke publik? Apakah itu mungkin? Dan kamu muncul di channelku." Ide itu muncul begitu saja. Untuk menaikkan subscribers, terkadang creator harus membuat dobrakan yang baru agar menarik minat orang-orang. 


"Aku akan membicarakan dengan Anna. Apa kau menginginkannya?" Aku mengangguk. Dan tersenyum senang membayangkan channelku akan ramai dikunjungi dan menjadi trending topic. 


"Tapi aku tidak suka melihatmu bersama Anna," celetukku dengan nada manja dan kesenanganku hilang seketika saat mendengar nama wanita itu.


"Apa kau cemburu?" Antonius mendorong tubuhku hingga telentang dan tubuhnya berada di atasku.


"Tentu saja." Bibirku monyong lima senti.


"Apa kamu sudah lama berteman dengannya? Apa kamu pernah memiliki rasa padanya? Apa kamu menyukai tubuhnya yang seksi? Apa kamu pernah melihat ke arah bongkahan dadanya yang sangat besar? Pernah kan? Pasti pernah! Bagaimanapun juga kamu adalah seorang la ...." Belum sempat aku melanjutkan kalimatku lidah Antonius sudah bermain di dalam mulutku.


"Bukankah ini tidak adil?" Aku menggigit bibirnya. Dia selalu curang karena mengabaikan pertanyaanku.

__ADS_1


"Akan lebih tidak adil jika aku langsung melakukan ini." Aku merasakan sesuatu yang lain ada dalam diriku. Antonius.


__ADS_2