
" Apa kamu mau mencobanya?" Aku menawarkan pesto buatanku pada Antonius. Dia menggeleng.
"Kenapa setiap hari kamu selalu makan makanan yang sama? Kata bibi kamu sering memasak resep yang kubuat?"
"Makanlah." Ia menjawab singkat dengan memukul piringku menggunakan garpu di tangan kirinya. Kami sedang makan malam dan Bima sudah pulang sore tadi.
"Bukankah makan malam sambil ngobrol adalah hal yang romantis? Dengan wanita lain kamu bisa tertawa. Denganku? Hmmm ... sepertinya kamu terpaksa menyutujui pertunangan kita."
Antonius diam dan tidak bereaksi. Mulutnya sedang disumpal dada ayam dan juga mix salad.
"Siapa wanita kemarin? Kekasihmu? Kalian terlihat sangat dekat?" Aku tak tahan lagi untuk tidak menanyakan hal ini.
"Teman."
"Teman kok mesra? Lalu aku siapamu? Sepertinya kamu tidak peduli denganku. Tapi dengan temanmu itu sikapmu berbeda. Hey! Apa kau mengabaikanku?"
Aku meninggikan suara karena tidak ada tanda-tanda pertanyaanku akan terjawab kali ini. Tentu saja dengan mulut yang penuh pasta. Untung tidak menyembut ke wajah orang yang ada di depanku.
"Apakah kalian pernah tidur bersama? Atau setidaknya berciuman? Kamu terlihat sangat mahir dalam mencumbu wanita. Ya, pria sepertimu tidak mungkin tidak populer dikalangan para gadis. Aku saja yang bodoh karena mau bertunangan dengan play box sepertimu."
Aku memberondong Antonius dengan pertanyaan. Apakah karena aku cemburu? Tentu saja!
"Makanlah," balasnya dengan kata-kata yang sama. Aku benar-benar tidak mengerti dirinya. Kesal!
"Mana bisa aku makan kalau hatiku kepanasan?!" Aku mengebrak meja. Dan anehnya justru dia tersenyum. Aku memasukkan makananku ke dalam kotak pirex dan menyimpannya di dalam kulkas. Selera makanku hilang ketika mengingat Antonius dan wanita lain tertawa bersama.
__ADS_1
****
Aku membuka jendela dan berbaring di sofa. Dingin.
"Tutuplah jendelanya. Nanti masuk angin," perintah Antonius ketika baru memasuki kamar. Tapi sayangnya aku tidak mau menurutinya. Enak saja main perintah-perintah. Dia saja kalau ditanya gak pernah jawab. Aku berpaling dan menganggapnya seperti angin lalu. Kusembunyikan wajahku pada sofa.
"Kenapa kamu sangat senang menguji kesabaranku?"
Aku kaget karena tiba-tiba suara itu ada di depan telingaku. Saat berjingkat kulihat pria itu sedang telanjang dada dengan senyumnya yang menggoda. Ia kemudian menutup jendela dan mengangkat tubuhku. Kulingkarkan tanganku di lehernya. Aku menatap matanya dan wajahku memanas. Oh, tidak! Lagi-lagi aku terjatuh dalam tipu muslihatnya.
"Tidurlah di sini." Ditaruhnya tubuhku di tengah ranjang dengan lembut dan mata yang yang memikat.
"Aku tidak akan melepaskan tanganku jika kamu tidak menjawab."
"Itu yang aku inginkan. Jangan lepaskan apapun yang terjadi," katanya lembut sambil membelai rambutku. Kata-kata itu terasa seperti es yang masuk ke dalam pembuluh darahku. Nyesss.
"Apa kau suga begini?"
"Ya. Aku suka diperlakukan dengan lembut."
Pria itu kemudian melepaskan tanganku menyelimuti tubuhku agar tidak kedinginan.
__ADS_1
"Tidurlah." Bibirnya yang tipis mengecup keningku. Dan aku hanya bisa diam dan menerima apa yang dia lakukan padaku.
Dadaku berdesir dan darahku memompa begitu hebatnya. Aku tidak menyangka dia bisa menjadi seseorang yang romantis dan Antonius melebihi ekspektasiku.
"Apa kau mencintaiku?"
"Tentu. Aku mencintaimu jauh sebelum kau menyadarinya."
"Tidurlah ...," ucapnya lembut. Wajah kami berdekatan dan napas kami sama-sama tak bisa dikendalikan.
"Akan sulit menahannya lebih jauh lagi," sambung Antonius dengan suara bergetar.
Aku merengkuhnya kedalam pelukanku dan tubuhnya yang berkeringat makin membuatku terpikat. Kugigit telinganya dengan lembut. "Apa kau menyukainya?" bisikku setengah menggoda. Dan dia mengerang.
"Key. Kumohon hentikan," pintanya memelas. Baru pertama kali aku mendengarnya menyebutkan namaku. Dan suaranya terdengar sangat sexy.
"Bukankan kemarin kamu ingin melakukannya?" tanyaku sebelum memagut bibir tipisnya. Ia tak kuasa menolak dan kedua tangannya merengkuhku ke dalam dadanya yang bidang.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Antonius menghentikan ciumannya. Napasnya terasa panas di wajahku.
"Tentu." Aku menjawab dengan napas tesengal.
"Tunggulah sebentar lagi," ia melepaskan pelukannya kemudian meninggalkanku dengan hasrat yang belum tertuntaskan.
Aku masih bisa merasakan, belaiannya dan juga kehangatan bibirnya. Oh Tuhan, aku benar-benar jatuh cinta dan terpikat padanya.
__ADS_1