Happy Ending

Happy Ending
Percintaan Dua Orang Dewasa.


__ADS_3

"Apa yang kau inginkan untuk makan siang, sayang?" Darrel bertanya dari belakang kemudi setir dan sesekali melihat ke arah Keyla yang menatap lurus ke arah depan.


"Aku ingin makanan Asia." Keyla menjawab mantab karena lidahnya tak begitu cocok dengan makanan orang barat yang identik dengan roti dan makanan-makanan yang bumbunya--- menurut Keyla tanggung.


Tiba-tiba di kepala perempuan itu terlintas bekicot. Atau nama kerennya escargot. Oh, tidak! Keyla tak akan mau memakan hewan dalam cangkang itu! Dia bergidik ngeri. Kulitnya merinding saat membayangkah bekicot itu melata sambil memperlihatkan sungut-sungutnya.


"Kau akan segera mendapatkan yang diinginkan." Sesegera mungkin Darrel melajukan mobilnya menuju jalan avenue d'lena menuju restoran Asia Shang Palace yang berlokasi di Shangri-La Hotel, Paris, Prancis.


"Antonius?"


"Hmmm?" jawab Darrel memperlambat laju mobilnya dan melihat ke arah Keyla yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"What's going on, Darling?" Pria itu melepas satu tangannya dari kemudi berbentuk bulat itu dan meraih tangan Keyla. Menggenggamnya erat.


"Terima kasih karena kamu tetap hidup. Terima kasih karena kematianmu hanyalah sebuah kebohongan. Meskipun awalnya aku marah, namun sejujurnya kebahagiaanku lebih besar dibanding amarahku," tutur Keyla dengan suara tercekat di kerongkongan karena ia tak mampu menahan lagi air mata nya agar tidak jatuh.


"Aku tahu, sayang. Kemarilah." Darrel menarik tangan Keyla perlahan agar mendekat kepadanya. Perempuan itu pun mencondongkan tubuhnya. Melingkarkan tangannya di perut Darrel seperti anak umur lima tahun yang sangat manja. "Air matamu terlalu berharga. Jangan terlalu sering dikeluarkan," sambungnya lagi. Ia mengecup kepala Keyla.


"Apa kau tahu apa yang terjadi padaku saat melihatmu menangis?"


Keyla menggeleng pelan. "Rasanya seolah detak jantungku berhenti," lanjutnya kemudian sambil menatap ke depan dan mencari tempat parkir yang kosong.


"Kita sudah sampai." Keyla pun melepaskan pelukannya dan duduk dengan normal.


"Sayang?" Darrel memanggil pelan. "Kemarilah." Pria itu merentangkan tangannya sebagai isyarat agar Keyla memeluknya.


Keyla pun menghambur ke dadanya yang hangat. Darrel mengelus-ngelus punggung dan kepalanya secara bergantian namun wanita itu justru makin terisak. Bukan karena sedih. Namun karena kebahagiaan yang teramat besar sehingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Bisakah kita keluar sekarang? Aku sangat lapar," kata Keyla sembari mengangkat wajahnya dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Tunggu sebentar. Akan kubukakan pintunya untukmu."


Darrel turun dari mobil kemudian berjalan menuju sisi pintu yang lain. "Silakan, istriku," tutur pria itu mengulurkan tangannya yang disambut Keyla. "Terima kasih," balas Keyla pelan namun sungguh-sungguh. Mata mereka saling memandang satu sama lain sebelum akhirnya mereka berjalan menuju restoran dengan bangunan khas Eropa. Klasik, unik, dan eksotis.


"Sayang?"


"Hmmm? Keyla menoleh dan mendongak ke atas agar ia bisa melihat wajah pria di sampingnya.


"Saat melihatmu tersenyum, rasanya aku ingin hidup sepuluh ribu tahun lagi bersamamu."


"Sekarang kamu pandai merayu!" Keyla mencubit pinggang pria yang melingkarkan tangan di pundaknya.


Mereka berdua akhirnya memasuki bangunan yang memiliki gaya Eropa tersebut. Saat berada di dalam restoran, seorang pramusaji yang memakai jas dan celana serba hitam menuntun mereka ke meja khusus untuk dua orang. Pramusaji dengan wajah asia itu menarik kursi untuk Keyla. Namun saat akan menarik kursi untuk Darrel, ia menolaknya.


Darrel dan Keyla mengambil napkin di hadapan mereka yang dibentuk seperti burung bangau lalu meletakkannya di pangkuan. "Maaf, silakan dilihat menunya." Pramusaji itu memberikan daftar menu. Satu untuk Keyla dan satu untuk Darrel. Sambil menunggu tamu memilih makanan yang mereka inginkan, pria yang tingginya kira-kira 170 cm dengan rambut klimis itu mengisi water goblet dengan air putih yang didinginkan. "Terima kasih," ucap Keyla sopan. Pramusaji itu pun melemparkan senyum ramahnya.


"Tolong berikan aku ini." Darrel menunjuk gambar ikan yang dikukus dengan hiasan daun bawang dan cabai merah yang diiris halus. "Lalu ini," katanya lagi menunjuk gambar brokoli yang disiram menggunakan saus daging kepiting. "Sudah. Itu saja." Darrel menutup percakapan dan pramusaji itu pun mencatatnya lalu mengulangi sekali lagi pesanan Darrel untuk memastikan.


Ia lalu berpindah ke dekat Keyla yang terlihat sedang serius melihat daftar menu di depannya. "Aku ingin yang ini saja." Keyla menunjuk ke arah potongan bebek panggang. " ...dan ini," lanjutnya kemudian menunjuk ke arah asparagus dengan saus bawang putih.


"Adakah yang lain, Mrs?"


"Tidak ada. Terima kasih."


Kurang dari sepuluh menit makanan yang telah dipesan pun tersaji di depan mereka.


"Makanan Asia memang terbaik!" Keyla mulai melahap makanan di hadapannya satu persatu secara bergantian.


"Antonius ... bagaimana persaanmu tidak bisa merasakan makanan?"


"Tidak masalah buatku. Tidak perlu memilih makanan atau pun mencibir jika rasanya tidak enak. Yang paling penting perutku bisa kenyang."


"Apakah Fleur tahu keadanmu?" Keyla mulai mengorek lagi tentang Fleur karena belum mendapat jawaban saat bertanya pagi tadi. Selain itu, dia juga tak ingin mengulang lagi kesalahan yang sama. Membiarkan perempuan lain berada di rumah tangga mereka.


"Tidak."


"Apa kamu menyukainya?"


"Tidak."


"Apa dia sering ke apartemenmu?"

__ADS_1


"Kadang-kadang."


"Apa dia tahu pasword rumahmu?"


"Tidak."


Keyla diam sesaat. Memutar kembali otaknya. Berpikir apalagi yang hendak ia tanyakan.


"Tanyakanlah, sayang. Aku akan menjawab apapun pertanyaanmu," timpal Darrel lembut, santai dan berwibawa. Ia meneguk air minum di depannya lalu mengangkat tangan kanan sebagai tanda ia sedang memanggil waiter. Beberapa detik kemudian, pramusaji itu pun datang. Mengambil piring yang telah tandas isinya dari sebelah kiri. "Terima kasih," ucap Darrel pada pria Asia klimis itu dengan senyum ramah.


Ia lalu melihat Keyla yang duduk di hadapannya. Makan dengan perlahan dan terlihat ia sedang menikmati makanan yang dimasukkannya ke dalam mulut.


"Bagaimana kalian saling kenal?"


"Dia adalah anak temanku. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya sering bepergian ke luar negeri. Itu sebabnya dia menjadi gadis tak tahu aturan."


"Aku tak akan bersimpati pada kehidupan masa lalunya yang menyedihkan. Aku tidak peduli jika kamu menganggapku wanita jahat," kata Keyla lagi memasukkan asparagus terakhirnya dan menggigitnya dengan wajah yang agak congkak. Darrel menyunggingkan senyum melihat pemandangan itu. Menurutnya, kini Keyla telah berubah menjadi wanita yang dewasa. Berani mengemukakan pemikiran dan apa yang dirasakannya. Tak seperti dulu, yang memendam kemarahan dan pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya, lalu pergi demi menghindari yang dianggapnya seperti masalah.


"Dengarkan aku, Antonius." Keyla berkata sebelum melumasi tenggorokannya dengan segelas air. "Aku tidak mau ada wanita lain diantara kita. Aku tidak peduli itu sahabatmu, temanmu, atau bahkan saudaramu. Itu pun jika kamu punya," lanjutnya lagi sambil mengelap bibirnya yang berminyak dan kelihatan basah. Sementara itu, diam-diam Darrel menelan ludahnya sendiri. Matanya tak bisa lepas dari Keyla. Melihat perempuan itu bicara dengan berapi-api, rasanya membuatnya kepanasan. Terlebih lagi saat mengamati Keyla sedang menarik napas dalam-dalam. Belahan dadanya terlihat menggiurkan saat naik turun.


"Kamu harus meminta ijinku jika bertemu dengan mereka. Jangan diam-diam bertemu wanita lain di belakangku. Apa kamu mengerti?" ucap Keyla lagi. Menyipitkan matanya ke arah Darrel yang menyandarkan di kursi sambil menyilangkan dua tangannya di dada.


"Mengerti. Aku akan melakukan apapun yang kau minta."


"Selain itu, jika anak sahabatmu itu datang ke rumah, kamu harus memberitahuku. Jangan ijinkan dia masuk rumahmu. Bicara saja di luar."


"Bagaimana kalau mulai malam ini aku tinggal di rumahmu?" Darrel menyunggingkan senyum. Tatapan matanya tajam namun Keyla tidak mau terpengaruh oleh sorot mata itu. Keyla telah bertekad, jika menjadi istri yang posesif bisa membuat utuh rumah tangga mereka, kenapa tidak? Dia tak ingin gagal lagi karena status janda untuk ketiga kalinya bukan hal yang patut dibanggakan!


"Kita harus berdiskusi dengan Awan."


"Sudah selesai?" Darrel mengangkat sebelah alisnya.


"Untuk sekarang itu dulu. Yang lainnya menyusul."


"Aku hanya punya satu permintaan."


"Apa?"


"Apapun masalah kita nanti jangan pernah menghindariku. Aku lebih suka kau marah, mengumpat dan memukulku daripada diam-diam kau pergi dari rumah."


"Apakah kita perlu memanggil pengacara dan membuat surat perjanjian pra nikah?"


"Tidak perlu. Jika kamu macam-macam aku akan meminta Awan untuk menghajarmu!"


Darrel tertawa mendengarnya. "Apa kau akan menyuruhnya membunuhku?"


"Tidak. Aku akan memintanya untuk menendang selakanganmu hingga kedua tulurmu pecah berantakan!" balas Keyla menusukkan garpu pada bebek panggangnya dengan semangat 45.


Mendengar jawab Keyla Darrel tertawa geli sekaligus nyeri. Ia membayangkan jika Awan benar-benar melakukan itu maka hancur sudah hidupnya sebagai laki-laki yang dikenal jantan.


Keyla mengangkat tangan kanannya ke atas dan seorang waitress pun menghampiri. "Ada yang bisa saya bantu, Mrs?" Pramusaji yang mengenakan rok warna hitam selutut itu bertanya tentang keperluan tamunya sambil membungkukkan badannya.


"Tolong berikan kami dessert terbaik di sini."


"Mohong ditunggu, Mrs."


"Eheem! Sampai di mana kita tadi?" Dehem Keyla membuat Darrel sedikit tegang dan memasang kembali telinganya. Entah apa lagi yang akan diucapkannya kali ini.


"Sampai telur," jawab Darrel ragu dengan wajah yang memanas karena malu. Seumur hidupnya belum pernah ada yang berkata seperti itu padanya.


"Aku ingin kamu menganggap Bintang seperti putrimu sendiri," ucap Keyla lirih. Pandangannya menunduk. Tak segarang beberapa detik lalu.


Darrel meluruskan punggungnya. Mengambil udara melalui hidungnya dengan sangat dalam. "Key, Bintang adalah anakku. Dia lahir dari rahimmu. Papanya ... maksudku James, dia telah merawatmu dan Awan dengan sangat baik." Darrel berhenti sejenak dan Keyla menanti lanjutannya dengan rasa penasaran. " ... James telah menjaga kalian saat aku tidak disisimu. Aku berhutang seumur hidup padanya. Bintang adalah anakku," lanjutnya lagi. Dengan penuh penekanan agar Keyla tahu bahwa ia tak membual dengan kata-katanya.


"Keyla!!"


Belum juga Keyla mengeluarkan kata-kata dari mulutnya yang telah terbuka, terdengar suara seorang pria memanggil namanya dari suatu sudut ruangan itu.


Darrel dan Keyla melihat ke sekeliling. Mencari arah sumber suara. Ternyata seorang lelaki bertubuh tinggi yang sedang mengenakan setelan jas dan celana berwarna putih dengan shirt kotak-kotak biru. Keyla melihat sejenak ke arah lelaki yang makin mendekatinya. "Victor?!"


"Kau terlihat sangat cantik hari ini!" Victor berkata dengan penuh semangat. Ia menarik kursi dari belakangnya dan memposisikan dirinya agar bisa bersebelahan dengan Keyla. Victor seolah-olah sengaja dan masa bodoh jika Darrel sejak tadi mengamati dirinya seperti ingin mencincang tubuhnya.

__ADS_1


"Terima kasih."


"Ketebetulan sekali kita ketemu. Bukankah ini seperti kita telah ditakdirkan?! Hahaha."


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Keyla dan mengabaikan tatapan Darrel yang seolah-olah memintanya untuk menjauhi pria itu.


"Bertemu teman lama. Itu dia! Yang turun dari tangga. Bima! Kemari!!" teriak Victor dengan lambaian tangan.


Bima? Nama itu tidak asing lagi. Mungkinkah Bima yang itu?


Pria bertubuh tinggi mengenakan jins ketat dengan warna memudar dibarengi dengan kemeja panjang berwarna biru tua itu berjalan makin dekat ke arah Keyla.


"Bima! Kenalkan ini. Tetangga baruku. Keyla." Saat Keyla menoleh ke kiri, ia mendapati sosok yang tak asing lagi baginya.


"Ya, Tuhan! Bima?!"


"Keyla?!" balas Bima kaget! Ini adalah kebetulan yang istimewa. Sepuluh tahun sudah mereka tak bertemu. Dari segi penampilan, mereka tak banyak berubah. Justru terlihat makin dewasa dan kokoh dalam menjalani kehidupan!


"Bagaimana kabarmu?" Bima memeluk perempuan itu. Posisinya masih seperti semula. Duduk. Sedangkan Bima membungkuk.


"Aku baik-baik saja. Kamu sendiri?"


"Luar biasa baik! Apalagi setelah bertemu denganmu!"


"Carilah tempat duduk."


Bima mendengarkan kata-kata Keyla. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah Keyla. Wanita itu diapit dua lelaki tampan. Victor di sebelah kanan, sedangkan Bima di sebelah kiri. Lalu di tempat duduk yang lain, ada Darrel yang mencengkeram tangannya kuat-kuat. Pandangan matanya semakin tajam melihat Keyla. Namun perempuan itu terlalu terlena karena bertemu teman sekaligus mantan kekasihnya. Bima.



______🗼🗼🗼🗼🗼________


Begitu sampai di rumah Keyla, Darrel langsung naik ke kamar perempuan itu. Tanpa bicara, tanpa mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Sejak kehadiran dua lelaki secara tiba-tiba saat di restoran tadi, mulutnya jadi terkunci. Hampir lima belas menit mereka mengobrol, Darrel hanya sesekali menyahut. Itu pun kalau ditanya. Jika tidak, maka ia lebih memilih mengawasi. Pun saat perjalanan pulang. Dia tak menyahut saat ditanya, pun tak bertanya.


Pria itu membuka baju bagian atas. Membiarkan dadanya terbuka lalu duduk di kursi rotan samping tempat tidur. Dibukanya laptop. Mulai melihat barisan-barisan huruf yang diketiknya tadi pagi.


"Apa kamu cemburu?" Keyla yang sejak tadi memperhatikan akhirnya angkat bicara. Di dalam hati, ia sedang tertawa kecil. Bukannya tak tahu lelaki itu tak suka wanitanya berdekatan dengan pria lain, namun Keyla sengaja melakukannya dan tak menggubris tatapan matanya yang seoalah berkata 'Mari kita pergi sini atau akan kuhajar dua bocah tak tahu malu itu!'


Darrel tidak menyahut. Tangannya digerak-gerakkan sembarangan di atas papan dengan rangkaian huruf. Entah apa yang diketiknya? Darrel pun tak tahu. Ia hanya perlu berpura-pura sibuk dan tak mendengar agar tak perlu menjawab pertanyaan perempuan yang berdiri di depan kaca dan melihat pantulan bayangan pria di belakangnya.


Ia menuangkan segelas air putih ke dalam gelas yang memang sudah tersedia di meja. Perlahan Keyla berjalan ke arah Darrel yang terlihat serius. Ia ingat sekali. Dulu, saat sedang marah, maka pria itu akan langsung melampiaskan padanya. Berbicara agak kasar dan ... akan menggunakan keahliannya menggoda dirinya. Apakah sekarang lelaki itu tak melakukannya lagi? Keyla tersenyum. Sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Minumlah, sayang ...." Keyla mengulurkan segelas air namun ditolak mentah-mentah. "Terima kasih. Taruh saja di meja." Kata-kata yang barusan keluar dari mulut Darrel terdengar sangat sexy di telinga Keyla. Suara yang parau, kemarahan dan setumpuk kecemburuan.


"Ouhh! Maafkan aku sayang!" Seutas kalimat yang dibuat-buat diluncurkan Keyla begitu ia menumpahkan segelas air penuh di atas dada lelaki itu. Air yang dingin, dirinya yang panas dan Keyla yang sedang berusaha membuat kemarahan pria itu hilang.


Darrel tidak bereaksi. Ia menaruh laptopnya di sisi tempat tidur dan melihat perut dan celananya yang basah. "Aku harus pulang ganti celana, Key." Belum juga Darrel berdiri Keyla mencegahnya dengan cara menyentuh pundaknya. Menyuruhnya untuk duduk kembali.


"Biarkan aku yang mengeringkan untukmu." Keyla membuka lebar kakinya. Duduk di pangkuan Darrel dan membiarkan wajah mereka bertemu. Keyla, melemparkan kata-kata tepat di telinga Darrel,"Kamu terlihat seksi saat sedang cemburu."


Pria itu hanya mengulum senyum tipis. Membiarkan Keyla berbuat sesuka hatinya karena tugasnya kali ini hanya perlu menikmati.


Mula-mula Keyla membenamkan jemarinya ke rambut Darrel yang fokus melihat wajah wanita di depannya. Ia dengan sabar menunggu apa yang akan dilakukan Keyla. Setelahnya, Keyla mendaratkan kecupan kecil di kedua mata Darrel, beralih ke pipi, kening dan yang terakhir bibir. Dia menggigit bibir di depannya. Gigitan kecil yang membuat kedua tangan Darrel mencengkeram dua sisi kursi rotan. Setelahnya Keyla memasukkan lidahnya sendiri ke dalam mulut Darrel yang terbuka secara otomatis seperti pintu lift. Lidah mereka bertautan. Saling menarik dengan pelan dan penuh perasan.


"Apa kau berusaha merayuku?" tanya Darrel menghentikan pergerakannya.


"Tidak. Aku tak perlu merayu mu. Aku hanya ingin membuat kemarahan di dalam dirimu menghilang." Keyla membalas setengah menggoda. Menarikan jari-jari lentiknya di otot dada Darrel. Bulatan di ujung yang warnanya kecoklatan dan sedikit berbulu terasa lebih keras daripada sebelumnya. Keyla menyentuhnya dengan jempol dan sesekali meremas otot dada Darrel dibarengi dengan bibir dan lidahnya yang beraksi. Makin lama wajah Keyla makin turun ke bawah. Menyusuri tiap inci tubuh Darrel dengan tangan, bibir, lidah dan mulutnya. Dia tahu pria itu menyukainya. Dan menurutnya, ini lah cara terbaik menyelesaikan masalah di usianya. Beraksi baru bicara.


Keyla--Keyla


Beberapa saat kemudian lelaki yang berhadapan dengan Keyla tubuhnya menegang dan bergetar dibarengi dengan nama 'Keyla' yang keluar dari sela bibirnya. Napas Darrel masih terengah-engah, tubuhnya basah dan sorot matanya menampakkan kepuasan serta kelembutan. Kemana perginya rasa marah? Sudah hilang!


Melihat reaksi Darrel, Keyla merasa dirinya menjadi wanita yang benar-benar dewasa. Dia tahu Darrel mencintainya, tapi bukan berarti lalat-lalat bernama perempuan akan serta merta menjauhinya setelah tahu dia punya istri. Tidak! Banyak wanita yang tak tahu posisinya! Malah kebanyakan berpikir bahwa mencintai suami orang adalah hal menantang dan perlu diperjuangkan. Entah dari mana pemikiran sesat seperti itu?


"Apa kamu masih marah?" Keyla yang sedang berlutut mendongak ke atas. Melihat lekat-lekat ke dalam mata pria itu meski ada sedikit hal yang mengganggunya. Keberadaan Darrel yang lain, yang terletak di pangkal pahanya masih berdiri tegak, kaku, dan terlihat berotot seperti tiang bendera di tengah lapangan.


Laki-laki itu membungkuk. Meletakkan kedua tangannya di rahang Keyla. "Bagaimana aku bisa marah setelah apa yang kau lakukan. Tapi, kumohon jangan ulangi lagi. Aku tidak suka kau berdekatan dengan pria lain, teetawa dengan mereka dan bersentuhan secara fisik. Bahkan, jika itu suamimu sendiri."


Oh, tidak! Keyla bisa menangkap kata-kata terakhir Darrel. Keyla berpikir apakah dulu ia sering merasakan kecemburuan dan kemarahan saat melihat dia dan James bersama? Pasti itu yang dimaksud! Karena saat itu, meskipun mereka telah berpisah, Keyla dan Darrel yang saat itu masih menggunakan nama Stevan Antonius masih saling bertemu dan berkunjung. Dan dalam kunjungan itu pasti ada Awan dan James.


"Apa kamu sakit hati?" tanya Keyla meletakkan telapak tangannya di wajah Darrel yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Pria itu diam sejenak.

__ADS_1


Ini lebih dari cemburu, Key. Tapi penyakit! Penyakit yang dihasilkan dari virus-virus mematikan meskipun saat itu yang menyentuhmu adalah suamimu. Jika tak ingat bahwa James adalah orang yang menjagamu dan membesarkan Awan, barangkali aku sudah gila. Kehilangan akal lalu membunuhnya dan merebutmu darinya. Melihatmu memeluknya di hadapanku, menciumnya, tertawa dengannya, lebih menyakitkan daripada sebuah rasa sakit di ujung kematian.


"Aku tidak menyukai kau dekat dengan lelaki lain," ucapnya lembut kemudian menempelkan bibirnya di bibir Keyla dengan lembut. Dan tanpa terasa pipi lelaki itu basah. Aku tak ingin kehilanganmu lagi ....


__ADS_2