
"Pasti menyenangkan dipeluk oleh gadis yang lebih muda daripada istrimu," sindir Keyla begitu Darrel selesai menutup pintu dan terkunci secara otomatis. Dia bisa menangkap nada marah dalam kalimat istrinya. "Benarkah? Aku lupa rasanya."
"Ciiih." Keyla membuka pintu kamar Bintang. Gadis itu tengah asik menggambar di buku gambar yang sampulnya adalah tokoh kartun kesayangannya. Piglet. "Mama! Lapar!" Ia turun dari kursi begitu melihat mamanya. "Minta papa untuk membuatkan sarapan. Oke?"
"Yeup!" Bintang mengangguk dan menghampiri papanya yang sedang mengelap sepeda dengan tissue basah. "Papa! Lapar!"
"Kemarilah anak Papa yang paling cantik. Apa kau mau susu?" Darrel mengangkat tubuh kecil Bintang dan mendudukkannya di kursi.
"Coklat!"
"Jangan lupa bersihkan dapurnya," teriak Keyla pada suaminya sesaat sebelum melangkahkan kaki menaiki tangga. Pagi-pagi begini sudah dibuat kesal!
"Papa?"
"Hmmmm?"
"Apa kalian bertengkar? Gara-gara nenek sihir?" Bintang sedang melihat papanya mengolesi roti yang telah dipanggang dengan selai coklat yang terlihat sangat lezat. Sesekali gadis itu menelan ludah karena tak sabar ingin segera mengisi perutnya.
"Nenek sihir?" Darrel mengangkat alisnya.
"Ya. Tante sepatu."
"Ingatanmu sangat tajam!"
Bintang meringis. Mulai menggigit roti yang diberikan Darrel padanya. "Mau bantu Papa bersih-bersih?"
"Tentu."
____🗼🗼🗼🗼🗼____
"Kau harus mampir ke rumahku," kata Missy setengah memaksa pada Awan begitu mereka turun dari school bus. Pelajaran hari ini cukup melelahkan, belum lagi musim panas yang tak kunjung berakhir. Missy tak begitu menyukainya musim panas karena matahari begitu menyengat dan siang hari menjadi lebih panjang.
__ADS_1
"Tidak."
"Ayolah." Missy tak terima. Ia menggamit tangan Awan dan merangkulnya. Begitu pintu lift terbuka, mereka masuk ke dalam. "Kau harus membantuku membawa kue. Jika tidak, aku akan mengganggumu terus baik di sekolah atau di rumah."
Awan mengembuskan napas. Gadis ini, sungguh tak tahu malu. Dia sangat berbeda dengan anak-anak di Indonesia. "Kau sudah menggangguku sejak kemarin."
"Itu memang keahlianku." Lebih tepatnya, Missy merasa menjadi gadis yang normal saat bersama dengan Awan. Wajahnya tanpa ekpresi, bahkan tatapan matanya dingin. Meski begitu, banyak gadis-gadis di sekolah yang menyukai Awan. Warna kulitnya tidak pucat, rambut dan matanya berwarna gelap. Missy tak sabar menantikan saat umur mereka menjadi dewasa.
"Di sekolah kita, baru kamu murid berwajah Asia."
"Pujian?"
"Bukan. Aku hanya iri dengan rambutmu. Apakah aku harus memakai rambut palsu?"
"Bodoh!"
"Bodoh? Makanan apa itu?" Missy pura-pura tidak tahu. Ia senang melihat wajah Awan yang masam sepanjang hari. "Ayo. Sudah sampai." Missy menarik tangan Awan keluar dari lift menuju rumahnya. Missy membuka pintu dan tidak ada orang di rumah. "Orang tuaku sedang pergi. Ayo." Gadis itu mengajak Awan pergi ke kamarnya yang ada di lantai satu. "Duduk." Awan mengikuti perintah Missy. Gadis tanpa ekspresi. Begitu ia memanggilnya. Tentu saja hanya di dalam hati. Selain itu, ia adalah perempuan ketiga yang paling cerewet di dunia ini setelah mama dan adiknya.
"Karena aku adalah seorang gadis. Apa kau mau tukar kelamin agar aku bisa membawakannya untukmu?"
____🗼🗼🗼🗼🗼_____
Darrel dan Bintang membaringkan diri di atas karpet. Sejak pagi, mereka berdua membersihkan rumah dari lantai atas sampai bawah, setiap sudut ruangan, bahkan kaki-kaki meja pun licin. Terbebas dari debu.
"Apa kau lelah, princess?" Darrel menoleh ke arah kanan. Tempat Bintang berbaring.
"Ya. Mama tidak pernah marah seperti ini. Papa sudah minta maaf?" tanya Bintang lalu bangkit untuk berdiri. "Papa lihat kan di pintu kamar ada tulisan Don't Disturb?"
"Hmmm ... Papa akan minta maaf nanti setelah kita selesai makan siang. Apa kau mau ayam goreng?"
"Yeup! Dan banyak es krim!" Bintang menjawab dengan girang. Ia lupa dengan apa yang dikatakan mamanya setelah mendengar kata ayam goreng.
__ADS_1
____🗼🗼🗼🗼🗼_____
Beberapa jam sebelumnya ....
Bintang menaiki tangga perlahan. Ia penasaran dengan apa yang dilakukan mamanya. "Don't disturb!" Secarik kertas tertempel di pintu. Meskipun tidak ingin diganggu, Bintang yakin itu bukan ditujukan untuk dirinya. "Mama?" Tangan gadis kecil itu mengetuk pintu. Dua kali. Keyla yang sedang menggambar pada i-padnya buru-buru membuka pintu.
"Mama?" Ia memeluk Keyla dengan erat. "Marah dengan papa?" lanjutnya kemudian.
Keyla menggeleng. "Tidak sayang. Mama hanya sedang bekerja. Makan siang minta papa buat masak. Oke? Jangan mau kalau delivery. Buatlah papamu menjadi sangat sibuk. Bersih-bersih, memasak, mencuci baju dan menyetrika."
"Oke."
Bintang mengangkat jempolnya lalu keluar dari kamar.
_____🗼🗼🗼🗼🗼_____
Ternyata melelahkan juga mengurus rumah, belanja dan menjaga anak-anak.
Darrel menyeka keringatnya setelah selesai membersihkan sisa makan siang. Missy, Awan dan Bintang sedang bermain di kamar. Kemarahan istri adalah hal merepotkan. Apakah aku harus naik sekarang?
Tok ... tok ... tok ....terdengar suara orang mengetuk pintu. Dengan berat kaki Darrel melangkah untuk membukakan pintu padahal baru beberapa detik menyandarkan diri di sofa.
"Hai, Steve? Aku ingin bertemu dengan Keyla," tanya seorang pria yang sedang mengenakan kaos ketat warna putih dibalut dengan jas casual warna senada dan jeans warna biru tua saat pintu terbuka.
"Bagaimana jika aku tidak mengijinkan?" Darrel membalas dengan nada tak senang dan itu terlihat dari wajahnya.
"Ayolah! Bukankah kita teman?" Bima memukul pelan dada Darrel.
Darrel makin tak suka dengan kedatangan lelaki itu yang secara tiba-tiba."Kita tidak pernah berteman." Saat ia hendak menutup pintu, suara Keyla terdengar dari belakang punggungnya. "Siapa?"
__ADS_1